
"Diam!" Satria menarik paksa Airin.
Airin berusaha melepaskan diri tapi tenaganya kalah dengan Satria. Dia juga sudah tidak bisa berteriak karena bekapan Satria.
Bugh!!
Satu pukulan keras mendarat di pipi Satria hingga membuat Satria melepas bekapannya pada Airin. "Jangan pernah sentuh Airin sedikit pun!"
Airin melebarkan matanya sambil menutup mulutnya. Benarkah yang menolongnya itu adalah Revan?
"Siapa lo!" Satria berusaha membalas pukulan Revan tapi Revan terus mengelak.
Akhirnya Revan berhasil mengunci kedua tangan Satria dan menyeretnya agar berjalan ke depan rumahnya. "Dia berusaha kabur!" Revan menyerahkan Satria pada polisi. Polisi segera memborgol kedua tangan Satria.
Semua teman Azka menerobos polisi dan menyerang Satria. "Kalau Azka sampai mati, lo juga harus mati!" Beberapa pukulan mendarat di tubuh Satria. Polisi sampai kuwalahan melerai mereka semua.
"Minggir kalian semua! Biar kita memprosesnya di kantor polisi." Polisi segera menarik Satria masuk ke dalam mobil sebelum masa menghabisi nyawanya.
Setelah kepergian mobil polisi yang membawa Satria, mereka bubar dari depan rumah Satria.
"Lihat saja kalau sampai hukuman Satria diringankan, kita demo besar-besaran di kantor polisi."
"Iya, parah tuh anak. Bukannya tobat malah semakin menjadi." kata teman-teman Azka yang kini mengendarai motor mereka dan bersiap untuk pergi.
"Kita adakan doa bersama yuk untuk kesembuhan Azka, biar dia cepat sadar dari koma."
"Ayo."
Airin hanya terdiam mendengar rencana mereka semua. Beberapa kali air mata menetes di pipinya meski sudah dia hapus.
Revan hanya berdiri di dekat Airin. Dia tidak tahu harus berkata apa pada Airin di saat keadaan seperti. Bahkan untuk sekedar mengatakan hai pun seolah masih tidak pantas untuk terucap.
Airin meluruskan pandangannya saat Azka tiba-tiba muncul di hadapannya. "Azka..."
Azka tersenyum menatapnya. "Ai, aku pamit ya. Revan sudah kembali. Dia pasti bisa menjaga kamu dan aku bisa pergi dengan tenang."
Airin semakin menangis tergugu. "Azka kamu gak boleh pergi..."
__ADS_1
"Jangan menangis, kamu pasti bisa bahagia meski tanpa aku." kemudian Azka menghilang.
"Azka!" Perasaan Airin semakin cemas. Dia harus segera ke rumah sakit untuk menemui raga Azka. Dia memakai helmnya dan naik ke atas motornya, dan beberapa saat kemudian Airin melajukan motornya dengan kencang menuju rumah sakit. Dia tak peduli dengan Revan yang masih mengikutinya.
Revan mengikuti laju motor Airin yang ada di depannya dan semakin kencang. Bahkan Airin berani menyalip beberapa mobil dan truk di depannya.
"Astaga Airin! Bahaya pelanin motor kamu!" teriak Revan tapi Airin tak menggubrisnya.
Airin semakin menambah laju motornya dengan air mata terus berurai di pipinya. Setelah sampai di tempat parkir rumah sakit, Airin segera turun dari motornya dan melepas helmnya. Lalu dia segera berlari masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang ICU.
Sampai di depan ruang ICU terlihat Dokter dan suster sedang memeriksa kondisi Azka dengan panik.
"Azka!" Airin menerobos masuk, dia melihat Azka membuka matanya dengan napas yang sesak. "Azka!" Airin semakin menangis di samping Azka.
Kedua orang tua Azka juga berada di samping Azka. Hati mereka hancur tapi jika terjadi sesuatu pada Azka mereka harus siap menerima kenyataan ini.
"Kondisi pasien sudah sangat lemah. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi." kata Dokter yang sudah menyerah menangani Azka. Dokter dan suster memberi ruang untuk keluarga Azka.
"Ayah, temani ibu ya." kata Azka dengan sangat pelan.
"Ibu jangan sedih ya, sudah ada Ayah." kata Azka lagi dengan lirih.
Ibunya mendekatkan wajahnya lalu menciumi pipi Azka. Dia kini berkata di dekat telinga Azka "Ibu sayang sama kamu Azka. Sebenarnya Ibu tidak rela jika kamu pergi, tapi sebagai seorang Ibu, Ibu harus meridhoi apa yang menjadi jalan takdir kamu." Firasat seorang ibu tidak pernah meleset. Dia terus menuntun Azka melewati saat terakhirnya.
Napas Azka semakin sesak tapi pandangan matanya kini tertuju pada Airin yang menangis sesenggukan dan di belakang Airin ada Revan. "Van, jaga Airin."
"Ka, kamu harus berjuang." Airin berlutut di samping brangkar Azka.
"Waktu aku sudah habis, Ai. Terima kasih kamu sudah menemani aku selama ini. Kamu jangan sedih lagi."
Airin menggenggam tangan Azka dan menciumnya. Tangan Azka sudah lemas dan terasa dingin seperti sudah tidak ada aliran darah yang mengalir.
"Ayah, Ibu, peluk aku." pinta Azka yang langsung dituruti kedua orang tuanya. Pandangan Azka sudah kosong. Napasnya putus-putus. Meski demikian dia terus mengikuti apa yang diucapkan Ibunya secara perlahan. Hingga akhirnya dia menutup matanya dan menghembuskan napas terakhirnya.
Seketika tangis menggema di ruangan itu.
"Azka..." Airin menangis dengan histeris. Dia tidak bisa kehilangan Azka. "Azka kenapa kamu tinggalkan aku. Azka bangun..."
__ADS_1
Ingin Revan memeluk Airin tapi dia mengurungkan niatnya. Dia biarkan Airin menangis meluapkan segala rasa sedihnya. Tapi tiba-tiba tubuh Airin melemas dan dia terjatuh di pelukan Revan. "Airin!"
Revan segera membawa Airin ke ruang rawat dan menghubungi kedua orang tua Airin. Setelah kedua orang tua Airin datang, Revan meninggalkan Airin dan membantu proses pemakaman Azka.
Beberapa saat kemudian, Airin tersadar. Dia melihat ada kedua orang tuanya yang duduk di dekatnya.
"Airin akhirnya kamu sadar." kata Rili. Dia mengusap rambut Rili yang kusut dan berkeringat.
Seketika Airin memeluk Bundanya. "Bunda, Azka sudah pergi untuk selamanya."
"Iya, kamu harus ikhlas ya agar Azka tenang di alam sana."
Airin semakin mengeratkan pelukannya. Iya, dia tahu semua makhluk hidup yang ada di dunia ini entah sekarang atau nanti pasti akan pergi. Hanya saja rasanya dia belum siap menerima kenyataan ini. Airin menarik napas dalam dan berusaha mengikhlaskannya. "Bun, temani Airin ke pemakamannya Azka." kata Airin sambil melepas pelukannya.
"Iya, ayo." Rili membantu Airin turun dari brangkar. Airin dan kedua orang tuanya akhirnya keluar dari rumah sakit dan menuju tempat pemakaman Azka.
Azka, aku hanya bisa mengantar kamu sampai peristirahatan terakhir kamu. Kamu tenang ya di sana. Terima kasih kebersamaan selama tujuh tahun ini.
Airin menghapus air matanya asal karena air mata itu tidak bisa berhenti mengalir. Dia kini menatap ke luar jendela. Melihat awan yang mendung dengan rintik hujan yang mulai turun, seolah alam ikut bersedih dengan kepergian Azka.
💕💕💕
.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
.
Like dan komen..
.
Maaf Azka terpaksa author sudahi kontrak kamu di novel ini. Nanti tanda tangan kontrak lagi ya di novel selanjutnya.. 🙄
.
Jangan lewatkan episode-episode terakhir yang akan aku kasih bawang 10 kilo lagi.. 😥
__ADS_1