
Airin tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Usia kandungannya kini sudah tujuh bulan dan hari itu adalah gender reveal yang sudah dia tunggu-tunggu. Karena Dokter memang sengaja dia minta untuk menyembunyikan jenis kelamin anaknya darinya dan juga Revan.
"Cantik banget." Revan memeluk Airin dari belakang dengan kedua tangan mengusap perut Airin. "Yang di dalam juga seneng banget nih kayaknya, nendangin tangan Papa terus." Revan melepas pelukannya dan membungkuk di depan Airin. "Sudah siap buat kejutan untuk Mama dan Papa? Kalau cewek, Papa harus cari nama nih." Kemudian satu kecupan hangat mendarat di perut besar Airin.
Setelah itu Revan menegakkan dirinya dan mencium singkat bibir Airin. "Ayo kita keluar. Tamu sudah menunggu, dan mereka juga sudah tidak sabar sama seperti kita."
Mereka berdua keluar dari kamar dan menuju ruang tamu mereka yang sudah di dekor cantik. Keluarga dan sahabat sudah berjejer dan tidak sabar menanti kejutan itu.
Acarapun dimulai. Airin sudah tidak sabar pada acara utamanya.
"Mas, udah gak sabar banget."
"Iya, sebentar lagi." Revan semakin menggenggam erat tangan Airin.
Akhirnya yang tunggu-tunggu Airin dan Revan tiba juga. Kedua tangan mereka memegang jarum dan bersiap meletuskan balon. Setelah hitungan ketiga balon itu meletus dan beberapa balon berwarna biru bertuliskan baby boy berterbangan.
Seketika Airin dan Revan berpelukan dengan senyum bahagianya. "Baby boy."
__ADS_1
Kemudian Revan mencium kedua pipi Airin lalu berlutut di depan perut Airin. "Selamat datang Azka." Lalu dia mencium perut Airin dan mendapat respon dari dalam perut. "Papa di tendang lagi. Gak sabar mau main sepak bola bareng atau mau main basket nih."
Airin tersenyum mendengar celoteh Revan. "Mas, udah? Mereka juga mau ucapin selamat nih." kata Airin.
"Jagoan." Alvin menepuk bahu Revan lalu mengusap perut Airin. "Gak terasa udah jadi kakek dengan dua cucu."
Kevin tertawa lalu menepuk bahu besannya itu. "Meskipun kita sudah menjadi kakek tapi jiwa kita masih muda."
Mereka semua mengobrol dan sesekali tertawa bersama. Tak lupa juga mengabadikan momen itu.
...***...
"Sayang udah malam, cepat tidur." Revan membantu Airin memiringkan badannya lalu memijat pelan pinggangnya karena biasanya Airin mengeluh pinggangnya pegal.
"Aku terlalu bahagia sampai gak bisa tidur." Satu tangannya kini mengusap perutnya yang masih saja bergerak aktif di dalam sana.
"Pinggangnya gak pegal kan?"
__ADS_1
"Gak terlalu Mas." Kemudian Airin memutar tubuhnya hingga kini menatap Revan. "Mas, capek gak?"
"Nggak. Kenapa?"
"Sini." Airin menarik Revan agar mendekat lalu mencium bibirnya singkat.
"Mau apa?" tanya Revan sambil tersenyum.
"Mau..." Airin memutar jemarinya di dada Revan membentuk pola abstrak.
Revan semakin tersenyum lalu beringsut ke perut Airin. "Dedek pengen ditengokin yah. Biasanya gak mau, cemburu sama Papa. Masih di dalam perut udah posesif sama Mama." Kemudian Revan mencium perut Airin. Semakin lama ciuman itu naik ke atas lalu singgah di leher Airin. Menyusuri leher putih itu dengan sesekali hisapan kecil.
Airin semakin mendongak dan melenguh kecil. Lalu ciuman Revan semakin ke atas dan berhenti di bibir Airin. Mereka saling memagut cukup lama hingga akhirnya Revan melepas ciumannya.
"Bisa di hitung dengan jari aku lakuin ini saat kamu hamil." Tangan Revan kini mulai membuka kancing daster Airin. "Tapi gak papa, yang penting kamu dan dedek sehat. I love you..."
"I love you too..."
__ADS_1
Mereka saling bertatapan lekat sebelum akhirnya mereka menyatu dalam cinta.