
Airin kini duduk di kursi tunggu dengan kedua orang tua Azka yang terus menangis. Sesampainya di rumah sakit, Azka langsung masuk ke dalam ruang operasi karena pendarahan di otaknya sangat parah. Dokter juga tidak bisa memastikan kondisi Azka selanjutnya.
Airin bersandar sambil melipat tangannya sendiri. Dia kembali mengingat semua pesan Azka akhir-akhir ini.
Aku bisa pergi dengan tenang.
Setelah ini aku tidak bisa bersama kamu lagi, Ai.
Air mata Airin semakin mengalir di pipinya. Ternyata kecemasannya sejak beberapa hari ini benar-benar terjadi. Azka seperti mempunyai firasat bahwa dia akan pergi untuk selamanya bahkan Azka menciptakan banyak kenangan dengannya.
Azka kamu harus bisa berjuang. Kita akan wisuda sama-sama. Semua impian kamu akan terwujud jadi kamu jangan pergi.
"Semua ini salah Ayah." Berulang kali Pak Rahman mengatakan hal itu. Dia kini duduk berdampingan bersama istrinya. Dia merasa sangat menyesal dan bersalah. "Andai saja tadi Ayah berhenti dan mendengarkan Azka pasti Azka tidak akan seperti ini. Ayah sayang sama Azka tapi Ayah terlalu gengsi mengakuinya. Selama ini Ayah sebenarnya peduli sama Azka. Diam-diam Ayah sering lihat dia bermain basket, Ayah selalu merasa bangga setiap kali Azka memenangkan pertandingannya. Bahkan saat Azka kecelakaan empat tahun yang lalu dan dia tidak bisa jalan, Ayah sering mengikutinya. Ayah ingin sekali memeluknya tapi Ayah terlalu malu karena Ayah sangat tidak berguna untuk Azka."
Bu Isti semakin memeluk suaminya. "Kita berdoa yang terbaik buat Azka."
"Ayah juga tahu setiap hari Azka bekerja setelah kuliah. Pasti dia sangat capek setiap hari pulang larut malam. Harusnya Ayah yang memenuhi segala kebutuhannya. Setiap hari batin Ayah tersiksa karena ego Ayah terlalu tinggi. Ayah tidak tahu caranya menyayangi Azka. Bahkan tadi Ayah mengacuhkannya, padahal dia hanya meminta Ayah kembali. Ayah sangat menyesal." Pak Rahman semakin menangis tergugu.
"Kita berdoa untuk Azka, semoga Azka baik-baik saja."
Airin menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir. Dia mengingat mobil yang menabrak Azka. Mobil itu seperti sengaja menabrak Azka. Siapa dia? Apa Azka punya musuh?
Airin kini berdiri dan berpikir. Dia berjalan maju mundur.
Sepertinya di depan toko itu ada cctv, semoga saja plat mobilnya tertangkap kamera.
Beberapa saat kemudian ponsel Airin berbunyi. Ada panggilan masuk dari Ayahnya. Airin segera mengangkatnya.
"Iya hallo Ayah. Airin ada di rumah sakit, Azka kecelakaan... Airin gak papa... Iya, Airin tunggu di rumah sakit."
__ADS_1
Setelah memutuskan panggilannya, dia kembali duduk dan menunggu hasil dari operasi Azka.
Beberapa saat kemudian, Alvin datang dan duduk di sebelah putrinya. "Airin, bagaimana keadaan Azka?" tanya Alvin.
"Azka masih di operasi. Pendarahan di otaknya sangat parah." Kemudian Airin berdiri dan mengajak Ayahnya menjauh dari kedua orang tua Azka. "Ayah, Airin mau bicara sebentar."
"Apa?"
"Ayah tolong bantu pengobatan Azka lagi ya."
"Airin kamu tenang saja, Azka sudah punya asuransi. Bagaimana Azka bisa kecelakaan?" tanya Alvin karena dia tahu Azka pergi dengan putrinya.
"Ayah, Airin curiga ada yang sengaja menabrak Azka karena waktu itu jalanan tidak terlalu ramai dan Azka juga sudah berdiri di pinggir jalan."
"Ada yang sengaja menabrak Azka? Azka punya musuh?"
"Iya, Ayah akan antar kamu. Tapi kamu jangan menangani masalah ini sendirian, Ayah juga tidak mau kamu dalam bahaya."
Airin menganggukkan kepalanya lalu mereka kembali duduk di kursi tunggu.
Sampai tiga jam akhirnya operasi itu selesai. Dokter yang menangani keluar dari ruang operasi dengan wajah kusutnya.
Kedua orang tua Azka segera menghampiri Dokter itu. "Bagaimana keadaan putra kami?"
Dokter itu menghela napas panjang. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi karena pendarahan di otaknya sangat parah, pasien dinyatakan koma."
Kedua orang tua Azka semakin menangis. "Berapa lama Dokter? Apa putra kami bisa segera sadar?"
Dokter itu menggelengkan kepalanya. "Kami tidak bisa memastikan. Anda berdo'a saja, semoga ada keajaiban untuk kesembuhan putra Anda." Setelah itu, Dokter itu kembali masuk ke ruang operasi.
__ADS_1
Airin dan Ayahnya menunggu sampai Azka dipindah ke ruang rawat. Setelah itu, Airin menemui Azka sebentar. "Azka cepat sadar ya. Cita-cita kamu sudah terwujud dan kita akan wisuda sama-sama." Airin tidak mempunyai waktu yang banyak untuk menemui Azka karena Azka memang berada di ruang ICU, itupun sebenarnya dia tidak boleh masuk.
Setelah keluar dari ruang ICU, Airin memberikan kunci motor Azka dan berpamitan pada kedua orang tua Azka. Setelah itu dia keluar dari rumah sakit bersama Ayahnya.
"Ayah, antar Airin ya."
"Iya." Kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil. Setelah itu mobil Alvin segera melaju menuju tempat Azka mengalami kecelakaan.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat kecelakaan itu. Airin dan Ayahnya turun dari mobil dan mencari info rekaman cctv ke toko itu.
"Pak, saya dari keluarga korban kecelakaan tadi pagi. Apa saya boleh minta rekaman cctv?"
Pemilik itu menatap Airin dan Alvin sesaat. "Maaf, kebetulan sekali cctv di depan rusak. Itu ada teknisi yang membenarkannya karena tadi juga ada beberapa polisi yang meminta rekaman cctv itu."
"Bapak jangan main-main. Kita meminta rekaman cctv itu sebagai bukti bahwa kecelakaan itu memang di sengaja," kata Alvin. Dia curiga jika pemilik toko itu sudah bersekongkol dengan pelaku.
"Benar, Pak. Sudah beberapa minggu cctvnya memang rusak."
Alvin menghela napas panjang lalu dia keluar dari toko itu bersama Airin. Dia melihat sekitaran jalan itu jika mungkin masih ada cctv yang lain. Tapi sayang sekali, tidak ada cctv lagi selain di tempat itu yang mengarah ke jalan raya.
"Nanti Ayah bantu selidiki kasus ini. Kamu jangan bertindak gegabah dulu, Ayah takut kamu juga dalam bahaya."
Airin menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka kembali masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian mobil Alvin melaju menuju rumahnya.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1