Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Semakin Bucin


__ADS_3

Azka kini menghentikan motornya di depan rumahnya. Dia membuka helmnya lalu melihat ke dalam rumahnya, ada Fani yang sedang mengobrol bersama Ibunya.


Setelah mengucap salam, Azka masuk ke dalam rumahnya.


"Azka," panggil Fani dengan senyum merekahnya.


"Iya." Azka kini duduk di dekat Fani.


"Makasih, kamu sudah menolong hidup aku. Aku sekarang sudah pulang ke rumah. Benar kata kamu, kalau aku jujur pasti ibu mau memaafkanku dan Rega juga sudah melepaskanku. Mulai besok aku juga bisa magang di sebuah perusahaan. Tidak bekerja lagi di klub itu."


Azka mengernyitkan dahinya, dia bisa menebak siapa yang melakukan ini semua.


Revan memang sangat hebat. Tentu saja yang melakukan semua ini adalah Revan, bukan aku.


"Ya syukurlah kalau semua sudah lebih baik. Tapi ini semua bukan karena aku. Ini semua pasti karena Revan yang menolong Airin waktu itu."


"Oiya, gimana hubungan kamu dan kedua teman kamu itu?" tanya Fani.


Azka menggelengkan kepalanya. "Aku yang salah, jelas mereka marah sama aku."


"Tapi kan ini bukan salah kamu sepenuhnya."


"Tetap, aku yang salah. Aku yang ajak Airin ke klub, aku yang tidak bisa melindungi dia, dan aku sendiri yang tidak bisa mengontrol diri aku."


"Semoga kesalahpahaman kamu cepat selesai ya. Ya sudah, aku mau pulang dulu." Fani berdiri lalu berpamitan pada ibunya Azka.


Setelah Fani keluar, Azka kini berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


"Azka, jadi itu yang membuat kamu pergi ke klub malam?" tanya Bu Isti sambil mengikuti putranya.


Azka menganggukkan kepalanya. "Iya, ada barang yang belum sempat diberikan pada Fani dari Kak Arka."


"Darimana kamu tahu?"


"Sebenarnya Airin indigo, dia bisa melihat Kak Arka yang beberapa hari ini mengikuti aku," cerita Azka singkat.


Seketika mata Bu Isti berkaca-kaca. "Ibu sangat merindukan Arka."


Azka kini merengkuh ibunya. "Kak Arka baik-baik saja. Kita doakan, semoga Kak Arka tenang di alam sana."


...***...

__ADS_1


Beberapa hari pun berlalu, setelah selesai melaksanakan UAS dan menerima hasil raport, semua murid kelas sebelas dinyatakan naik ke kelas dua belas.


"Akhirnya kita kelas dua belas, Ai. Tinggal satu tahun lagi kita lulus dari sekolah ini. Seneng tapi sedih." Melodi bergelayut di lengan Airin yang sedang duduk di depan kelas.


"Iya, ih, berasa bentar banget aku berteman sama kalian berdua. Nanti kuliah kita satu kampus ya." kata Siska.


"Aku sama Melodi pisah kampus. Melodi jelas masuk ke kampus Papanya mengajar. Dia ambil fakultas musik. Sedangkan aku mau ke kampus negeri, nanti mau ikut SNMPTN, ya siapa tahu lolos meskipun nilai aku gak sebagus para juara." Airin tersenyum hambar karena nilainya banyak yang turun di tahun ini.


"Kalau gitu aku mau ikut kamu aja deh, Ai. Tapi kamu kan udah belajar sama sang juara satu, masak ilmunya gak tertular." kata Siska.


Melodi justru tertawa. "Bukan ilmunya yang tertular tapi cintanya. Tuh, aku lihat mereka berdua makin bucin aja."


Airin hanya tersenyum kecil dengan pipi yang merona. "Gimana ilmunya mau masuk pas diajarin dada aku deg-deg an terus."


Melodi dan Siska semakin tertawa.


"Azka sama Revan itu hebat. Azka hanya selisih satu angka saja sebagai juara dua. Eh, ngomong-ngomong olimpiade yang kamu ikuti kenapa belum ada pengumuman?" tanya Melodi. Sebenarnya dia sangat penasaran apakah Azka akhirnya akan menjadi juara.


"Nanti setelah libur akhir semester soalnya ada pengunduran jadwal di bidang lain."


"Oo, ya semoga aja kamu jadi juara," kata Melodi yang seolah mengejek Airin.


"Gak ngarep. Aku jawabnya asal waktu itu." Pandangan mata Airin kini tertuju pada Azka yang hanya berjalan melewatinya saja. Selama beberapa minggu dia memang tidak pernah berbicara dengan Azka bahkan untuk sekedar menyapanya pun tidak. Jika dibilang dia rindu, ya, dia rindu saat bersama dengan Azka seperti dulu. Bahkan senyuman Azka seolah hilang sejak kejadian itu.


"Aku... Ya, sebenarnya aku juga sudah memaafkan dia tapi aku belum bisa melupakan kejadian itu."


"Gak papa, pelan-pelan saja. Azka pernah cerita sama aku, orang tuanya akan bercerai karena Ayahnya tidak percaya dengan ibunya dan menganggap Azka itu adalah anak hasil perselingkuhan," cerita Melodi.


Airin menutup mulutnya mendengar cerita Melodi. Itu berarti selama ini Azka menyimpan kesedihannya sendiri. "Kasihan Azka."


"Iya, dia berusaha terlihat kuat tapi di dalam dirinya rapuh. Ai, baikan gih sama Azka. Kelihatan banget kalau dia itu tersiksa jauh dari kamu."


Airin hanya mengangguk kaku. "Lihat nanti saja. Biarkan seperti ini dulu. Aku juga belum bisa memulai untuk baikan dengan Azka "


"Oke, aku paham sih."


"Ai, dijemput gak?" tanya Revan sambil berdiri di dekat Airin.


Airin mendongak dan menatap Revan. "Aku belum chat Ayah."


"Kita duluan aja ya. Yuk, Sis." Melodi dan Siska berdiri lalu meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Revan kini duduk di samping Airin. "Pulang sama aku aja ya."


"Oke."


"Nanti sampai di rumah siapkan peralatan buat camping, kalau perlu apa-apa bilang sama aku, biar aku carikan."


Airin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Revan memang sangat perhatian dengannya tentang semua hal.


"Ai, ikut aku sebentar ke ruang OSIS. Aku mau ambil laporan kegiatan dulu." Revan menarik tangan Airin dan mengajaknya ke ruang OSIS.


Tidak ada siapa-siapa di dalam ruangan itu, hanya ada mereka berdua. Revan duduk di kursinya dan mengambil kertas-kertas yang dia satukan di dalam satu map.


"Sebentar lagi aku udah pensiun jadi ketos."


Airin hanya mengangguk. Dia kini melihat beberapa foto kenangan para OSIS yang ada di tembok dari tahun ke tahun.


"Foto kamu sudah ada di sini. Senyum dong kalau foto, kaku banget gini."


Setelah memasukkan map itu ke dalam tas, Revan berdiri dan mendekati Airin. Dia kini berdiri tepat di belakangnya. "Senyum gimana?"


"Ih, senyum gimana? Senyum itu ya gini." Airin membalikkan badannya sambil menunjukkan semyumnya tapi seketika memudar saat dadanya berdetak dengan kencang karena beradu tatap dengan Revan. Wajah mereka begitu dekat, hingga hangat napas Revan menyapu wajahnya. Mereka bertahan di posisi itu beberapa detik.


"Ai," Dua tangan Revan kini menggenggam tangan Airin. "Aku..."


Airin hanya menatap Revan. Apa yang akan Revan lakukan? Karena tidak mampu bertatapan terlalu lama, Airin mengalihkan pandangannya.


Kemudian Revan melepas genggaman tangannya dan berjalan menuju pintu.


Airin kini menghela napas panjang. Untunglah Revan menjauh dari posisi itu, karena jika tidak dia akan kehabisan oksigen. Dia kini mengikuti Revan di belakangnya, dia terkejut saat Revan menahan langkahnya dan satu tangan Revan menutup pintu.


"Hmm, Van, aku..." Dada Airin kian berdetak tak karuan.


"Ai, apa kamu sudah melupakan apa yang dilakukan Azka?"


Airin terpaku menatap Revan, mengapa tiba-tiba dia membahas masalah itu lagi.


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2