Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Bukan Airin


__ADS_3

"Ai..." Revan berdiri dan mengikuti Airin. Dia berhasil meraih tangan Airin dan menahan langkahnya. "Ai, jangan sedih. Iya, aku minta maaf. Aku mengerti apa yang kamu takutkan."


Airin membalikkan badannya dan menatap Revan.


"Udah, jangan sedih lagi." Revan mengusap pipi Airin yang basah karena air mata. "Kita masih bisa bersama selama jarak dan waktu tidak memisahkan kita. Aku akan berusaha jaga kamu."


Airin tersenyum kecil lalu menggandeng lengan Revan. "Kita ke kelas yuk, hari ini ada pelajaran olahraga. Aku mau ganti seragam dulu sama Melodi sebelum antri."


Revan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka berdua berjalan menuju kelas.


Setelah sampai di dalam kelas, Airin duduk di bangkunya dan mengambil seragam olahraganya. Tanpa sengaja dia melihat cermin yang sudah dibawa Ayla kemarin.


"Cermin ini kenapa bisa ada di dalam tas aku?" Seperti ada magnet yang menarik Airin untuk menatap pantulan dirinya di cermin itu.


Senyum Airin merekah saat melihat dirinya di cermin.


"Ai, kamu kenapa?" tanya Revan saat melihat Airin yang sedang tersenyum menatap cermin.


"Van, aku cantik ya."


Mendengar kata-kata itu, seketika Revan menatap serius Airin. Dia takut, Airin berubah seperti kemarin lagi. Pandangan matanya kini tertuju pada cermin yang Airin pegang. Seingat dia kemarin Airin juga memegang cermin itu.


"Ai, lihat cermin kamu." Revan mengambil cermin itu tapi Airin menahannya dengan kuat.


"Jangan! Kamu cowok masak mau ngaca sih. Lagian kamu udah ganteng kok," kata Airin sambil mencubit pipi Revan.


Benar saja, ini sosok Airin yang lain. Revan menjadi was-was. Dia harus mengawasi Airin.


"Ai, ganti seragam yuk!" ajak Melodi dan Siska.


"Oke," Airin membawa seragam olahraganya keluar dari kelas. Dia berjalan bersama Melodi dan Siska.


Revan segera membuka tas Airin dan mencari cermin itu, tapi tidak dia temukan.


"Lo cari apa?" tanya Azka yang melihat Revan menggeledah tas Airin.


"Cari cermin." Revan mengambil seragam olahraganya lalu berlari keluar dari kelas.


Azka hanya mengernyitkan dahinya melihat tingkah Revan.

__ADS_1


Revan terus mengikuti Airin sampai di dekat toilet. Auranya memang berbeda. Siapapun cowok yang melihat Airin pasti akan tergoda karena Airin terlihat sexy dan menarik.


Revan kini berhenti di dekat toilet perempuan.


"Sampai segitunya nungguin Airin. Sana! Lo mau ngintip!" kata Ria yang akan masuk ke dalam toilet.


Revan akhirnya masuk ke dalam toilet pria dan cepat-cepat berganti seragam. Setelah itu dia keluar dan menunggu Airin lagi. Dia harus memastikan keadaan Airin.


"Nungguin aku?" tanya Airin sambil menggandeng tangan Revan.


"I-iya." Revan bagai tersengat karena Airin sengaja menempelkan dadanya di lengannya. Sebenarnya apa yang merasuki Airin? Hingga Airin bersikap agresif seperti ini. "Ai, nanti ada guru." Revan melepas tangan Airin agar berjalan biasa saja tanpa bersentuhan.


Revan kini berpikir, bagaimana cara membuktikan bahwa jiwa yang ada di tubuh Airin saat ini bukan Airin. "Ai, kamu ingat gak kemarin kita ngapain?" tanya Revan. Berharap Airin yang ini benar-benar mengingat apa yang terjadi kemarin siang.


Airin tersenyum merekah. Dia mendekatkan bibirnya. "Ingat dong, sayang kemarin ada Ayah. Mau dilanjut gak?"


Revan hanya menghela napas dan membuang pandangannya. Benar sekali dugaannya. Airin sedang dikuasai oleh jiwa lain.


Revan menoleh Airin lagi. "Jangan mancing aku lagi, nanti aku kebablasan." bisik Revan.


Airin justru tertawa. Dia kembali membisikkan sesuatu pada Revan. "Emang kamu gak penasaran rasanya gimana? Punya kamu udah tegang banget loh kemarin. Punya aku juga sudah basah kamu mainin." Airin melirik nakal Revan, lalu dia meletakkan seragam putih abunya di atas meja.


Baru mendengar kalimat Airin saja, badan Revan sudah terasa panas dingin. Kali ini dia tidak boleh terperdaya lagi. Harus fokus untuk membantu Airin keluar dari belenggu makhluk itu.


Airin menganggukkan kepalanya. Semua temannya memang sudah keluar, hanya tersisa mereka berdua. Tiba-tiba Airin menahan langkah Revan dan menariknya ke belakang pintu.


"Ai, Pak Satya udah ke lapangan."


"Bentar aja, just one minute." Airin melabuhkan ciumannya di bibir Revan tanpa malu dan sangat agresif.


Awalnya Revan akan menolaknya tapi ciuman itu sudah membuatnya terhanyut.


Airin semakin menghapus jarak di antara mereka. Tubuh mereka berhimpitan tanpa jarak sama sekali.


Beberapa saat kemudian terdengar suata langkah kaki yang cepat mendekat.


"Ai," Revan mendorong tubuh Airin agar melepas ciumannya.


Benar saja, Azka masuk ke dalam kelas dan melihat mereka berdua saling menjauh.

__ADS_1


"Kalian ngapain?" tanya Azka yang melihat Airin dan Revan sama-sama mengusap bibir yang basah.


Revan tak menjawabnya. Dia keluar sambil menyugar rambutnya. Begitu juga dengan Airin yang berjalan di belakang Revan.


"Mereka habis ciuman?" gumam Azka. Dia segera mengambil kunci ruang latihan basket yang tertinggal di dalam tasnya.


Kini Airin dan Revan mengikuti pemanasan. Revan terus mengawasi Airin, jangan sampai dia menggoda pria lain, karena beberapa teman lelakinya menatap kagum Airin karena aura yang dipancarkannya saat ini.


"Van, main sini!" panggil Tomi sambil menendang bola sepak ke arahnya. Sudah lama dia tidak bermain futsal. Akhirnya dia mengikuti permainan mereka.


Airin kini berjalan keluar dari lapangan. Dia tak peduli dengan Melodi dan Siska yang sedang bermain voli.


Dia menghampiri Azka yang sedang mengambil bola basket di ruang latihan basket.


"Sini aku bantuin bawa." kata Airin sambil meraih satu bola basket.


"Ai, kamu mau main basket juga?"


Aiirn menganggukkan kepalanya. "Enak ya di sini. Kalau latihan gak panas." Airin berjalan ke depan ring lalu dia melempar bola basket itu tapi meleset.


"Bukan gitu cara lemparnya." Azka mengambil bola basket itu lalu dia berikan pada Airin. Dia kini berdiri di belakang Airin dan mengarahkan tangan Airin.


Tapi Airin semakin memundurkan dirinya hingga pan tat Airin menyentuh sesuatu.


Awalnya Azka biasa saja. Dia menjelaskan titik fokus pada Airin dan mengarahkan tangan Airin.


Tapi Airin sengaja menggeser dirinya hingga membuat Azka memundurkan kakinya tapi hal itu terulang lagi. Azka menatap Airin dari samping. Airin memang terlihat sangat berbeda. Dia sangat menarik dan terlihat sexy menggoda.


"Ai, bisa gak?" tanya Azka.


Airin kini menoleh Azka. Mereka saling bertatapan. Seperti ada magnet saat kedua wajah itu saling mendekat.


"Lo mau ngapain?" Tiba-tiba Revan datang dan mendorong Azka hingga menjauh. "Ikut aku!" Revan menarik tangan Airin dengan paksa agar Airin mengikutinya.


💕💕💕


.


Like dan komen ya..

__ADS_1


.


Konflik yg ini memang agak ngeselin, Airin terkesan murahan. 🤭 tenang aja nanti Airin kembali kalem lagi kok..


__ADS_2