
"Kamu dijemput gak?" tanya Revan saat berjalan menuju tempat parkir.
"Aku belum chat Ayah sih."
"Ya udah, aku antar ya."
Airin menatap ragu Revan. Tapi sedetik kemudian dia menganggukkan kepalanya. Mereka kini sampai di tempat parkir. Revan memakai helmnya dan naik ke atas motor.
"Tapi aku gak pakai helm," kata Airin.
"Gak papa, nanti lewat jalan memutar saja," kata Revan sambil memindah tasnya ke depan.
Airin hanya mengernyitkan dahinya. Cowok dingin ternyata bisa modus juga.
"Ayo!" ajak Revan karena Airin tak juga naik ke boncengannya.
Airin akhirnya naik ke boncengan Revan. Beberapa saat kemudian motor Revan sudah melaju meninggalkan tempat parkir sekolah.
"Ai, besok kita belajar bareng ya. Tinggal satu minggu lagi olimpiade itu dilaksanakan."
Kemudian Airin mendekatkan dirinya agar Revan bisa mendengar suaranya. "Hmm, Van, gimana kalau Azka saja yang ikut. Aku takut kalau aku gak bisa, karena kemarin kan bukan asli dari pikiran aku."
"Kan ada aku." Lagi, lagi tangan Revan menarik tangan Airin agar berpegangan pada pinggangnya. "Aku yakin, kamu bisa. Semoga saja kita menang."
"Sebenarnya bukan hanya masalah itu sih. Aku cuma ingin Azka mendapatkan juara agar beasiswanya bisa terus berlanjut."
Revan terdiam beberapa saat, lalu menimpali perkataan Airin. "Soal itu biar aku bantu. Tapi aku yakin beasiswa Azka bisa sampai lulus sekolah. Dia unggul dalam prestasi non akademik juga."
"Ya, semoga saja."
Laju kendaraan Revan lebih pelan dari biasanya bahkan dia mengambil jalan memutar yang lebih jauh.
Airin hanya tersenyum kecil saat menyadari jalan yang dilalui Revan pasti lebih lama dari semestinya. Tangan kirinya kini sudah ada di pinggang Revan, harusnya tangan kanannya juga berada di pinggang Revan dan memeluknya.
Haruskah aku melakukan itu? Hmm, aduh, belum-belum dadaku deg-deg an banget.
Airin menghela napas panjang lalu dia beranikan diri memajukan tangan kanannya dan memegang pinggang Revan.
Belum selesai debaran di dadanya, Revan justru menarik tangan Airin agar melingkar di perutnya. Baru saja ditunjukkan sebuah kisah nyata tentang pacaran diluar batas, mereka sudah kontak fisik seperti ini, memanglah darah muda tidak bisa mereka tahan yang terpenting tidak sampai keterlaluan dan diluar batas.
__ADS_1
"Hmm, Ai, kapan-kapan kita jalan-jalan yuk!" ajak Revan esekali dia menoleh Airin.
Jalan-jalan? itu berarti Revan mengajak nge-date.
"Iya, kapan-kapan saja kalau boleh sama Ayah," jawab Airin. Mereka saja belum meresmikan hubungan sudah ada satu rencana untuk berkencan.
Napas Airin semakin sesak saat merasakan tangan Revan mengusap lembut punggung tangannya. Meski hanya sesaat tapi sudah membuat dirinya seperti tersengat listrik.
Tinn!!
Suara klakson mobil membuat Revan menghentikan motornya. Ada mobil Ayahnya Airin yang berhenti di depan mereka.
"Aduh, ada Ayah." Melihat mobil Ayahnya berhenti, Airin menjadi takut.
"Adek, udah jadian?" teriak Ayla dari dalam mobil.
Seketika Airin melepaskan tangannya dari pinggang Revan.
"Airin, kenapa tidak WA Ayah?" Alvin membuka kaca mobilnya dan berbicara pada Airin.
"Anu, Ayah itu..."
Revan hanya menganggukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian mobil Alvin kembali melaju.
Revan terpaku beberapa saat. Lalu dia menghela napas panjang. Sebagai seorang lelaki, dia tidak boleh takut.
"Hmm, maaf ya. Tapi Ayah gak pemarah kok. Ayah memang tegas mengatur anaknya," kata Airin.
"Gak papa. Memang ini yang harus dilalui untuk menuju kedewasaan." Kemudian Revan kembali melajukan motornya.
Beberapa saat kemudian, dia menghentikan motornya di halaman rumah Airin. Terlihat Alvin sudah menunggu kedatangan mereka di dekat pintu.
Airin turun dari motor Revan lalu menghampiri Ayahnya dan mencium punggung tangan Ayahnya. Beberapa kali Airin menggigit bibir bawahnya. Ya, meskipun Ayahnya bukan tipe pemarah tapi ketegasan Ayahnya lah yang membuatnya takut melakukan kesalahan.
Revan juga turun dari motor dan bersalaman dengan Alvin. "Maaf Om, saya yang menawarkan untuk mengantar Airin."
Mendengar hal itu, Airin menatap Revan. "Tapi kan aku yang mengiyakan."
Alvin tersenyum kecil. Dia tahu masa putih abu-abu memang sangat indah untuk memulai mengenal cinta. "Iya, kali ini tidak apa-apa. Tapi tetap, jangan bermesraan sebelum waktunya. Tunggu kalian dewasa dulu baru bisa memikirkan cinta secara matang."
__ADS_1
Airin dan Revan menganggukkan kepalanya.
"Jangan terlalu sering pulang bareng ya. Kalau mau kemana-mana izin dulu, jangan diam-diam berduaan. Kalau kalian masih bandel, suruh Papanya Revan ke sini untuk melamar." kata Alvin sambil tertawa.
Seketika Airin membulatkan matanya dan menggelengkan kepalanya. "Ih, Ayah. Apaan sih."
Alvin merengkuh bahu putrinya dan tertawa. "Iya, kan Ayah sudah kenal orang tuanya Revan. Soal itu gampang bisa diatur."
Revan hanya menganggukkan kepalanya. "Iya Om, saya mengerti. Saya pamit pulang dulu."
"Iya, hati-hati."
Revan membalikkan badannya lalu menaiki motornya kembali. Beberapa saat kemudian motor Revan sudah melaju meninggalkan rumah Airin.
"Airin," Alvin merengkuh bahu putrinya dan mengajaknya berjalan masuk ke dalam rumah. "Gak boleh pacaran dulu."
"Ayah, Airin gak pacaran sama Revan."
"Ih, tangannya tadi mesra banget pake di usap-usap segala, masak gak pacaran. Gak percaya!" sahut Ayla sambil mengambil makanan di meja makan.
"Ih, Kakak. Nggak. Kita belum jadian."
"Belum? Berarti udah ada rencana dong." kata Ayah Alvin. Kini dia ikut duduk bersama Ayla.
"Bukan gitu Ayah."
"Terus gimana, Dek. Lagian gak papa sih kalau jadian."
Airin hanya terdiam dan duduk di kursi sambil mengambil minum.
"Airin, sebenarnya Ayah gak izinin kamu untuk pacaran atau dekat dengan cowok. Tapi, okelah, Ayah kasih toleransi asal kamu tahu batasnya," kata Alvin pada akhirnya memberi keputusan final karena dia tahu sendiri bagaimana keluarga Revan. Pasti Revan juga tidak akan mempermainkan putrinya.
Seketika Airin tersenyum kecil.
"Ih, Ayla iri. Duh, kapan Ayla ketemu jodoh ya."
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya ..