
Di dalam kelas, Azka dan Melodi khawatir dengan Airin dan Revan karena sampai jam pelajaran pertama dimulai mereka belum juga masuk ke dalam kelas.
"Ka, Airin bolos sama Revan?" tanya Melodi.
Azka menggelengkan kepalanya. "Aku juga gak tahu. Tapi mereka gak mungkin bolos. Apa terjadi sesuatu sama mereka?"
Sampai jam istirahat, mereka tak juga masuk kelas. Azka dan Melodi semakin khawatir. "Mel, antar aku ke aula. Apa jangan-jangan mereka di sana?"
Melodi menggelengkan kepalanya. "Aku takut, Ka. Aku gak mau lagi ke sana."
"Ya sudah, aku minta tolong sama Tomi saja." Azka menoleh Tomi yang kebetulan masih berada di dalam kelas. "Tom, anter gue ke aula."
"Ngapain? Ntar lo kesambet di sana?"
"Gue mau cek Airin dan Revan. Jangan-jangan mereka ada di sana dan sedang dalam bahaya."
"Bahaya gimana? Palingan mereka juga lagi pacaran dan lagi kangen-kangenan."
"Ya udahlah, biar gue ke sana sendiri." Akhirnya Azka memutar roda kursinya sendiri.
"Ya udah gue anterin." Akhirnya Tomi mendorong kursi roda Azka. Dia tidak mungkin tega membiarkan Azka menggerakkan sendiri kursi rodanya.
"Aku juga ikut," kata Melodi yang berjalan di samping Tomi.
"Aku juga ikut. Jangan tinggalin." Siska juga berlari mengikuti Melodi.
"Kalian ini, tadi gak mau antar. Sekarang ikut semua," kata Tomi.
"Kan ada lo, nanti kalau ada hantu tinggal gue tumbalin aja lo," kata Melodi sambil menjulurkan lidahnya pada Tomi.
"Astaghfirullah. Anaknya Pak Aksara gini amat woy sama gue."
Mereka berempat berjalan menuju aula. Setelah sampai di aula, Tomi membuka pintu aula itu tapi tidak bisa.
"Ini dikunci, gak bisa dibuka. Kayaknya gak mungkin mereka di dalam." Tomi masih berusaha membuka pintu itu.
"Tapi firasat gue mereka ada di dalam." Azka mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Airin.
Beberapa saat kemudian terdengar suara dering ponsel Airin.
"Itu hpnya Airin. Suaranya dari dalam aula."
Tomi juga menghubungi ponsel Revan. Dering ponsel Revan juga terdengar dari dalam aula.
"Mereka ada di dalam. Ngapain mereka?"
Melodi juga mencoba membuka pintu itu tapi tidak bisa. Kemudian dia menggedornya. "Airin!"
__ADS_1
"Ada apa kalian di sini? Jangan mendekati tempat ini dulu." kata Pak Umar mengusir mereka
"Kedua teman saya ada di dalam, Pak." kata Azka.
Pak Umar segera membuka pintu itu tapi tidak bisa. "Pak Satya, pintu ini dikunci?" tanya Pak Umar pada Pak Satya yang kebetulan lewat di dekat tempat itu.
"Tidak, karena kuncinya belum terpasang."
Seketika Pak Umar melihat bagian pengunci pintu yang masih berlubang.
Pak Umar berusaha membuka pintu itu kembali yang kini dibantu oleh Pak Satya. Beberapa saat kemudian pintu itu berhasil terbuka.
Terlihat Airin dan Revan tergeletak di lantai dan tak sadarkan diri.
Pak Umar segera mendekati mereka. "Ambilkan air, cepat!"
Pak Satya segera mengambil air mineral yang berada di botol lalu diberikan pada Pak Umar.
Pak Umar membuka tutup botol air itu lalu berdoa dan memercikkan wajah mereka dengan air.
Seketika mereka membuka mata dan terkejut. Mereka berdua duduk sambil memegang kepala mereka yang terasa pusing.
"Akhirnya kalian kembali." kata Pak Umar lalu membantu Revan berdiri. Sedangkan Airin kini dibantu Melodi dan Siska.
"Ai, kamu kenapa? Kamu pingsan di sini?"
"Hah? Dari zaman penjajahan?" kata Melodi dan Siska secara bersamaan. Mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan Airin.
"Pak, saya mau bicara sebentar," kata Revan sambil mendekati Pak Umar.
"Iya, ada apa Rev?"
Pak Umar dan Revan menjauh dan bicara berdua. Sedangkan Airin kini duduk di depan aula karena badannya terasa lemas dan capek.
"Ai, kamu gak papa? Kamu kelihatan pucat." kata Azka. Dia sangat khawatir dengan Airin.
"Nih, kamu minum dulu Ai." Melodi menyodorkan sebotol air mineral untuk Airin.
"Makasih, Mel." Airin segera meminum air mineral itu hingga habis. "Aku gak papa. Cuma lemes dan pusing aja."
Beberapa saat kemudian Pak Umar dan Revan berjalan menghampiri Airin setelah selesai berbicara.
"Ya sudah, kalian berdua boleh pulang terlebih dahulu. Semoga masalah ini cepat selesai. Saya akan ajukan permohonan do'a bersama yang akan diadakan besok. Semoga setelah diadakan do'a berasama tidak ada kejadian seperti ini lagi di sekolah kita," kata Pak Umar.
"Baik Pak, terima kasih."
Setelah itu, Pak Umar pergi dari tempat itu menuju ruang guru.
__ADS_1
"Ai, kamu sekarang ikut aku ya. Aku sudah izin untuk menyelesaikan masalah ini." ajak Revan.
"Tapi Azka nanti gimana pulangnya?"
"Biar Azka kita yang jaga. Kebetulan aku gak bawa sepeda motor nanti aku dijemput Papa. Jadi Azka bisa sekalian pulang bareng aku," kata Melodi.
"Ya sudah." Airin membungkukkan badannya agar sejajar dengan Azka. "Ka, aku duluan ya."
"Iya, jangan khawatirkan aku. Semoga masalah kamu cepat selesai ya, aku gak mau lihat kamu ketakutan seperti kemarin." Azka mengusap sesaat pipi Airin.
Melihat apa yang dilakukan Azka, terselip rasa cemburu di hati Revan. Mengapa tatapan Azka pada Airin sangat berbeda. Apa rasa cinta Azka semakin besar pada Airin?
"Ayo, Ai." Revan sengaja menarik tangan Airin agar Azka segera melepaskan tangannya.
Airin kini berjalan mengikuti Revan. "Van, kita mau kemana?"
"Ke rumah aku. Kebetulan kakek hari ini ada di rumah, merayakan ulang tahunnya yang ke 83."
"Kakek kamu sudah umur 83 tahun?" tanya Airin memastikan. Mereka mengobrol sambil berjalan menuju tempat parkir.
"Iya karena masa melajang kakek terlalu lama. Kakek sibuk dengan dunia gelapnya. Bahkan sampai memiliki keluarga kakek masih memimpin salah satu geng mafia terbesar. Ya begitulah, panjang ceritanya." Revan mengambil kunci motor yang ada di saku jaketnya. Dia menghidupkan motornya lalu memakai helmnya.
"Van, tapi gimana kalau Ayah aku gak izinin pulang sama kamu."
Hampir saja Revan melupakan masalah Ayah Airin. Dia segera meminjam ponsel Airin dan menghubungi Ayahnya Airin.
Airin hanya tersenyum mendengar Revan bicara dengan Ayahnya. Dia sangat sopan dan dewasa.
"Sudah beres. Aku sudah dapat izin dari calon mertua."
Airin semakin tertawa mendengar Revan. "Ih, yakin banget kalau bakal jadi mertua."
"Memang kamu gak mau?" tanya Revan sambil tersenyum lalu dia menuntun motornya menuju pos satpam untuk membuat izin terlebih dahulu.
"Revan." Airin menyusul langkah Revan dan berjalan di sampingnya. "Maulah."
"Makanya sekalian aku kenalkan sama keluarga aku ya sekarang."
Seketika Airin menegang. Dikenalkan dengan keluarga Revan dengan memakai seragam SMA. Tidak salah?
💕💕💕
.
.
Like dan komen ya...
__ADS_1