Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Jangan Menyerah


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, hari itu adalah pengumuman hasil olimpiade Matematika yang diikuti Revan, Azka, dan Airin dua bulan yang lalu, dan hasilnya adalah Revan menjadi juara satu sedangkan Azka menjadi juara dua. Mereka sama-sama mempunyai kesempatan untuk mengikuti olimpiade tingkat nasional di Jakarta. Jika mereka lolos lagi, mereka bisa sampai ke kanca internasional.


"Selamat ya. Kalian berdua memang pantas menjadi pemenang." Airin mengucapkan selamat pada Azka dan Revan yang kebetulan mereka semua sedang berkumpul di kantin saat jam istirahat waktu itu.


Tentu saja ada Melodi dan Siska yang juga ikut bergabung dengan mereka.


"Dua minggu lagi ada yang ke Jakarta nih. Berapa hari di sana?" tanya Melodi pada Azka tapi Azka tak menjawab, wajahnya terlihat sangat muram.


"Ka?"


Akhirnya Azka menggelengkan kepalanya. "Sepertinya aku gak ikut."


"Kenapa?" tanya Melodi dan Airin bersamaan.


"Ka, gue udah bilang sama lo, biar semua biaya akomodasi punya gue buat lo."


Azka menghela napas panjang. Dia hanya berhasil meraih juara dua, biaya akomodasi seperti tiket pesawat, hotel, dan lainnya hanya ditanggung 50 persen oleh sekolah. Meskipun hanya 50 persen tapi baginya sangat banyak, uang satu juta pun tidak cukup. Dia sendiri baru bisa mengumpulkan ratusan saja, darimana dia bisa mendapat uang.


"Gue gak mau." Azka berdiri tapi tangannya ditahan Revan.


"Azka, ini kesempatan lo untuk dapatkan beasiswa kuliah di luar negeri."


"Gue gak mungkin bisa kalahin lo."


"Sejak kapan lo jadi pesimis gini. Oke, gue akan mundur dari olimpiade itu. Biar lo yang bisa menang!"


Azka menepis tangan Revan dengan kasar. "Gue cuma mau menjadi pemenang dari hasil gue sendiri, bukan dari belas kasihan, dan gue gak butuh bantuan lo!" Azka membalikkan badannya lalu berjalan meninggalkan mereka semua.


"Azka, lagi PMS kah?" Siska sampai menggandeng lengan Melodi melihat kemarahan Azka.


"Azka lagi banyak masalah. Aku dengar dari tetangga, setiap hari kedua orang tuanya bertengkar." cerita Melodi yang rumahnya memang dekat dengan Azka.


"Katanya mereka mau cerai?" tanya Airin.


"Iya, tapi pengadilan belum juga memanggil mereka untuk sidang. Tahu sendiri kan kalau gak ada uang prosesnya pasti lama. Sedangkan rumah Azka itu rumah keluarga Ayahnya, jadi kalau mereka memang jadi bercerai otomatis Azka dan Ibunya akan pergi dari rumah itu. Mungkin Azka lagi pusing mikirin itu semua," cerita Melodi.

__ADS_1


"Iya, kasihan Azka."


"Ai, kamu bujuk dia, agar dia mau menerima bantuan dari aku," kata Revan.


"Tapi, Van..."


"Aku yakin, dia mau mendengarkan kamu." Revan menggenggam tangan Airin sesaat, lalu dia berdiri dan meninggalkan mereka bertiga.


"Aduh, aku bingung Mel. Aku tuh berusaha jaga jarak dengan Azka untuk menjaga perasaan Revan. Tapi kalau kayak gini enaknya gimana?" Kali ini Airin meminta pendapat Melodi.


"Kamu samperin aja Azka. Revan kan pengertian. Gak papa."


"Kamu aja deh, Mel."


Melodi hanya tersenyum kecil. "Azka gak mungkin dengerin omongan aku. Udah gak papa, Azka pasti juga butuh teman curhat."


Airin akhirnya berdiri. Dia berjalan mencari Azka. "Apa Azka di ruang latihan basket?"


Akhirnya Airin berjalan menuju ruang latihan basket. Benar saja, Azka sedang bermain basket di dalam sana seorang diri.


Airin mengambil bola yang menggelinding lalu melemparnya lagi pada Azka. "Azka!"


"Azka." Airin kini duduk di samping Azka. "Jangan pernah menyerah."


Azka hanya tersenyum miring. "Aku gak menyerah. Tapi inilah kenyataan hidup aku."


Kemudian mereka sama-sama terdiam sambil menatap kosong lapangan basket.


"Kenapa kamu gak mau ikut olimpiade itu?" tanya Airin.


Azka menundukkan pandangannya. "Aku hanya juara dua. Aku gak punya biaya buat beli tiket pesawat."


"Kamu sebenarnya ingin gak ikut olimpiade itu?" tanya Airin sambil menatap Azka.


Azka tak menjawabnya.

__ADS_1


"Aku tahu kamu sangat ingin ikut. Azka, kamu itu gak sendirian. Ada teman-teman kamu yang bisa bantu kamu. Begini saja, kalau memang kamu gak mau menerima bantuan dari Revan, kamu bisa pinjam uang kafe. Kamu bisa mencicilnya kapan saja." kata Airin, dia berusaha memberi solusi yang terbaik untuk Azka.


Seketika Azka menatap Airin yang sedang memberikan senyum harapan padanya.


"Azka, kesempatan itu gak datang dua kali. Jadi kamu harus bisa memanfaatkan kesempatan itu. Kamu harus terus mencoba, satu kali gagal, kamu harus mencoba lagi. Jangan seperti aku, yang tidak mau mencoba apapun." Sekarang Airin menertawakan dirinya sendiri. "Kamu sekarang coba bayangkan, kalau suatu saat nanti kamu sukses, orang pertama yang akan merasa bahagia adalah ibu kamu. Kamu juga bisa memberi kehidupan yang layak buat ibu kamu nanti. Jika kamu merasa lelah, cukup kamu ingat ibu kamu. Aku yakin semangat di diri kamu pasti akan muncul lagi."


Seketika Azka memeluk Airin. "Makasih. Iya, apa yang kamu katakan benar. Terkadang aku memang sudah lelah menjalani hidup ini. Aku iri, mengapa aku tak seberuntung Revan dan kalian semua."


Awalnya Airin ragu menerima pelukan dari Azka. Dia ingin melepasnya tapi dia bisa merasakan jika saat ini Azka sedang butuh kekuatan.


Kemudian Airin mengusap punggung Azka. "Setiap orang ada porsi masalahnya masing-masing. Kamu sudah diberi banyak kelebihan. Kamu pintar main basket, dan kamu juga pintar dalam pelajaran."


Azka melepaskan pelukannya dan menatap Airin. "Iya, aku saja yang kurang bersyukur."


"Mulai sekarang jangan merasa kamu sendirian. Kamu masih punya sahabat yang bisa bantu kamu."


Azka menganggukkan kepalanya. "Nanti aku akan cek biayanya, aku akan pinjam uang kafe. Semoga dikasih."


"Pasti dikasih, yang pegang keuangan kafe Om Adit. Semangat ya! Kamu pasti berhasil meraih semua impian kamu."


Azka menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum sambil menatap Airin. Bagaimana dia bisa melupakan perasaannya pada Airin jika semakin hari Airin semakin membuatnya jatuh cinta.


Sedari tadi sebenarnya Revan melihat mereka berdua. Dia sengaja mengikuti Airin. Jika dikatakan cemburu, dia memang cemburu tapi dia harus bisa berbesar hati. Baginya, yang terpenting status Airin saat ini adalah pacarnya.


Kemudian Revan membalikkan badannya dan berjalan kembali ke kelas. Dia berjalan perlahan sambil mengamati beberapa kuli bangunan yang sedang mengusung material untuk merenovasi aula dan membangun tambahan toilet.


Tiba-tiba ada seseorang yang menghalangi langkahnya. "Ini buat Kak Revan." Gadis itu memberikan sebuah kotak berpita yang cantik lalu dia segera membalikkan badannya dan berlari menjauh.


"Buat apa? Tunggu!" panggilan Revan tak menghentikan langkah gadis itu.


Revan hanya menatap kado yang ada di tangannya.


"Apa nih?" tanya Airin sambil mengambil kado itu.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya..


__ADS_2