
"Irene, aku pamit. Semoga kamu selalu bahagia. Kamu harus tetap melanjutkan hidup kamu tanpa aku." Aditya menggenggam kedua tangan Irene.
"Tapi, aku gak bisa. Biarkan aku ikut bersama kamu." Irene menahan tangan Aditya saat Aditya akan pergi.
"Jangan! Kamu harus tetap melanjutkan hidup kamu. Jika kamu merindukanku, pakai cincin itu, aku pasti akan datang dalam mimpi kamu." Satu kecupan hangat mendarat di kening Irene.
"Adit! Adit jangan pergi!!!" Irene tersadar dari pingsannya. Dia berteriak histeris.
"Irene, tenang sayang." Bu Riska mendekap tubuh putrinya yang tidak terkendali.
"Kenapa Papa tega membunuh Adit? Apa Mama tahu? Apa Mama sekongkol dengan Papa?" Irene mendorong Mamanya. Dia kini merasa semua orang telah membohonginya.
"Irene, Mama juga tidak tahu masalah ini. Mama kiraz Papa hanya tidak setuju dengan kamu dan Aditya karena kamu akan dijodohkan dengan Fajar. Tapi ternyata, Papa membunuh Aditya demi menutupi kasus penipuannya." Air mata Bu Riska sudah membasahi pipinya. Dia juga sangat terkejut dengan kenyataan ini. Dia tidak menyangka suaminya adalah seorang penipu besar.
Irene semakin menangis histeris. "Aku mau menemui Adit!!" Irene berdiri dan keluar dari rumahnya.
"Kemana nak?"
"Kak Irene, jasad Kak Aditya sudah dibawa keluarganya pulang ke kotanya." kata Airin yang masih di rumah Irene bersama Revan. "Kak, yang sabar ya. Meskipun raga Kak Aditya sudah tidak ada, tapi cinta Kak Aditya akan tetap hidup untuk Kak Irene."
Irene kembali menangis. Dia jatuh terduduk di lantai teras rumahnya.
"Irene, ayo aku temani kamu ke rumah Aditya." Fajar berjongkok dan menahan lengan Irene. "Kita antar dia ke persemayamannya yang terakhir."
Irene menghapus air matanya asal lalu dia menganggukkan kepalanya. "Iya." Kemudian dia berdiri dan memeluk Airin. "Makasih, kamu telah membantu Aditya."
"Sama-sama Kak. Kak Irene harus tetap melanjutkan hidup agar Kak Aditya bisa tenang di alam sana."
Irene tersenyum dalam tangisnya lalu dia melangkahkan kakinya mengikuti Fajar masuk ke dalam mobil.
"Akhirnya kasus ini selesai. Pulang yuk!" Revan menggandeng tangan Airin dan menuntunnya menuju tempat parkir.
Aduh, jantung aku gak terkontrol lagi ini. Gawat, kalau sampai aku terkena penyakit jantung.
Airin kini menatap Aditya yang tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Makasih. Kini aku bisa pergi dengan tenang."
Airin hanya tersenyum kecil.
"Aku doakan semoga kalian benar-benar berjodoh. Kalau cinta itu bilang cinta gak usah gengsi."
Seketika Airin menarik tangannya dari genggaman Revan.
"Iya, sorry." Revan menyugar rambutnya untuk menghilangkan salah tingkahnya lalu dia mengambil helm dan memberikannya pada Airin.
Setelah memakai helmnya, Revan melihat Airin yang kesusahan mengancing helmnya, tanpa permisi Revan membantu Airin mengancing pengait yang ada didagu Airin.
Tidak tahukah, jika Airin seperti tersengat listrik ribuan volt, seketika lehernya kaku seperti boneka kayu.
"Airin!" panggilan itu menyadarkan Airin. Dia kini menoleh pada lelaki yang berjalan ke arahnya.
"Om Malik?"
"Airin, kamu disuruh cepat pulang sama Ayah kamu," kata Malik.
"Ih, Om Malik bilang sama Ayah."
Airin hanya mengernyitkan dahinya. Memang anak buah Ayahnya yang satu itu agak berbeda.
"Aduh, gimana kalau Ayah marah. Aku ketahuan bohong." Airin kini naik ke boncengan Revan. Dia takut jika Ayahnya sampai marah karena ketahuan berbohong. Tapi jika saja tadi jujur, pasti dia juga tidak akan diizinkan.
"Tenang ya." Lagi, Revan menarik tangan kiri Airin agar memegang pinggangnya. "Aku akan bantu jelaskan sama Ayah kamu."
Kemudian Revan mulai melajukan motornya.
Seharian ini jantung aku benar-benar tidak beres. Semakin hari Revan semakin perhatian. Duh, kenapa aku jadi baper gini sih. Nggak, nggak! Revan baru kehilangan Della, apa aku hanya jadi pelarian dia? Hah, mungkin saja. Kalau iya, bagaimana?
Airin melepas pegangan tangannya di pinggang Revan lalu berpindah ke bahu Revan.
Iya, aku gak boleh terlalu baper.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Beberapa saat kemudian motor Revan berhenti di depan rumah Airin, bertepatan dengan Azka yang juga menghentikan motornya.
Kemudian Azka dan Revan saling bertatap tajam.
Airin kini turun dari motor Revan dan melepas helmnya. Tapi lagi-lagi pengait itu sulit dia lepas.
Seperti sebelumnya, Revan membantu Airin melepas pengait itu. Setelah helmnya terlepas, Airin berjalan mendahului mereka masuk ke dalam rumah.
Azka masih saja menatap tajam Revan. Sepertinya hubungan yang telah mendingin itu kini mulai memanas lagi.
Airin menghentikan langkahnya di ambang pintu lalu menoleh mereka berdua. "Revan, Azka! Masuk dulu gih."
Sebenarnya Airin terpaksa mempersilakan dua lelaki itu masuk. Dia tidak bisa mengusir mereka berdua begitu saja.
Kemudian Azka dan Revan masuk ke dala. rumah Airin lalu duduk di sofa yang berbeda. Mereka bertiga sama-sama terdiam.
Airin yang duduk di hadapan mereka berdua menjadi canggung. Mengapa hawa kutub utara kini sangat terasa di ruang tamunya. Dingin dan membeku.
"Hmm, Azka, kamu ada perlu apa?" tanya Airin. Jika tidak ada yang memulai, mereka pasti akan sama-sama terdiam sampai nanti.
"Kenapa kamu tanya seperti itu? Jadi aku gak boleh ke rumah kamu? Karena sekarang sudah ada Revan yang selalu menemani kamu?" Hari itu hati Azka sangat sensitif. Dia masih belum rela jika Airin bersama Revan.
Airin hanya menggigit bibir bawahnya. Sumpah, rasanya dia ingin pergi saja dari suasana seperti ini.
"Ai, kenapa kamu gak cerita sama aku tentang kasus pembunuhan pengacara ini? Apa kamu sudah tidak membutuhkan bantuanku?" tanya Azka lagi. Meskipun pertanyaan terkesan menarik kesimpulan sendiri.
"Sudah ada aku yang membantunya." sahut Revan.
Seketika Azka menatap tajam Revan. "Kamu jangan jadikan Airin pelarian!"
"Aku gak..." Perkataan Revan terputus karena ada Alvin yang menghampiri mereka.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...