Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Kita Harus Tetap Bersama


__ADS_3

"Mas, kenapa perasaanku tiba-tiba gak enak gini ya?" Rili mengambil ponselnya dan menghubungi Airin, tapi beberapa kali panggilan belum juga terhubung.


"Kamu tenang, di sana kan banyak guru yang bertanggung jawab." Meski perasaan Alvin juga tidak enak tapi dia berusaha menenangkan istrinya.


"Tapi dari tadi aku telepon lewat WA gak bisa. Panggilan selular juga gak bisa." Rili semakin khawatir. "Udah mulai gelap, aku takut Airin diganggu makhluk halus di sana."


"Kamu tenang ya. Kamu punya nomor siapa saja? Revan atau Melodi?"


"Aku cuma punya nomor Melodi." Rili kini menghubungi nomor Melodi tapi juga tidak terhubung. "Gak bisa juga."


Beberapa saat kemudian ada sebuah panggilan masuk ke nomor ponsel Alvin. "Wali kelas Airin."


Rili semakin panik. Ada apa wali kelas Airin menelepon nomor Alvin?


"Iya hallo... Apa! Airin hilang? Bagaimana bisa?... Iya, saya akan segera ke sana." Kemudian Alvin mematikan panggilan itu.


"Mas, Airin kenapa?" tanya Rili. Air matanya sudah terbendung di pelupuk matanya.


"Airin tiba-tiba tidak ada di perkemahan. Dia hilang bersama Revan, Azka, dan Melodi."


"Astaga, Airin kemana?"


"Kita sekarang ke sana ya. Semoga Airin cepat ketemu." Alvin dan Rili berjalan ke kamarnya untuk mengambil jaket dan kunci mobil. Dia kini juga menghubungi Kevin. Mungkin saja Kevin bisa melacak keberadaan putranya.


"Hallo Kev, kamu sudah diberi kabar sama Bu Nurul?... Iya, gimana bisa anak-anak hilang... Kamu lacak lewat ponsel Revan mungkin saja terdeteksi, biar aku lacak ponsel Airin... Iya, kita bertemu di lokasi..." Alvin mematikan panggilannya lalu memakai jaketnya dan berjalan keluar dari rumah.


"Ayla, nanti Arsyad biar jemput kamu ya. Kamu menginap di rumah oma saja karena kemungkinan Bunda pulang besok sampai Airin ketemu." pesan Rili pada Ayla.


"Iya Bun, semoga Airin cepat ketemu ya. Duh, kasihan pasti gelap banget di dalam hutan."


Alvin dan Rili segera masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian mobil mereka segera melaju dengan kencang menuju tempat perkemahan Airin.


...***...


"Airin..." Revan berusaha meraih tangan Airin yang tak sadarkan diri. Meskipun seluruh tubuhnya juga sangat sakit dia berusaha untuk bangun dan menyeret kakinya mendekati Airin.


"Aduh," terdengar suara Melodi, dia memegang dahinya yang terluka.

__ADS_1


"Mel, kamu gak papa kan?" Azka menghidupkan senter ponselnya sambil menggeser dirinya karena dia menindih kaki Melodi.


"Dahi aku luka kayaknya."


Azka melihat luka di dahi Melodi. "Iya, luka. Untunglah gak lebar. Tapi kamu masih bisa berdiri kan."


Melodi menganggukkan kepalanya lalu dia berdiri dengan bantuan Azka dan menghampiri Airin.


"Ai, bangun Ai. Airin?" Revan meraih tubuh Airin dan menepuk pipinya agar segera tersadar. "Ai, aku mohon bangun. Ai..."


Akhirnya Airin membuka matanya. "Revan!" Seketika dia memeluk Revan dengan erat. Dia hanya bisa melihat wajah Revan samar-samar di bawah gelapnya malam itu.


"Syukurlah kalian berdua tidak pingsan." Azka menyenter mereka berdua lalu dia mencari beberapa ranting pohon. "Kita bermalam di sini saja. Tempatnya lumayan datar."


Setelah terkumpul beberapa ranting kering, Azka menyalakan koreknya dan membuat api unggun kecil. Setidaknya bisa sedikit menghangatkan mereka dan menambah penerangan di malam dingin itu.


Hawa mencekam semakin terasa di tubuh Airin. Teriakan-teriakan memilukan itu terdengar semakin keras. Tapi Airin tidak berteriak, dia berusaha menahan diri untuk tetap tenang. Dia tidak mau teman-temannya semakin panik karena ketakutannya.


Terlihat Melodi juga sedang kesakitan sambil memegang kakinya. "Mel, kamu gak papa?"


"Kaki aku ngilu." Melodi meluruskan kakinya. Memang awalnya tidak sakit tapi jika dibuat berjalan terasa sakit.


"Aku gak papa. Aku tadi nindihin kaki Melodi." Azka kini duduk di samping Melodi lalu meraih kakinya. "Sini, aku lihat kakinya. Katanya tadi gak papa, sekarang sakit?"


"Iya, sekarang sakit."


Azka mulai memijat kaki Melodi tapi Melodi semakin menjerit. "Aduh sakit Azka, udah biarin aja."


Akhirnya Azka membiarkan kaki Melodi. Dia kini merengkuh Melodi dan setengah memeluknya. "Bersandar sini kalau mau tidur."


"Eh, hmm..."


"Kamu perempuan, gak mungkin aku biarin gitu aja. Airin udah sama Revan, udah kamu tidur sini."


"Ih, cerewet banget. Bilang aja kalau cemburu." kata Melodi di dekat telinga Azka.


"Diam!" Karena memang sedari tadi dia melihat Airin dan Revan selalu berpelukan. Hatinya terasa sakit tapi tak berdarah.

__ADS_1


Tangan Revan yang sedari tadi memeluk Airin terasa bergetar. Bahkan sekujur tubuhnya juga menggigil.


"Revan kamu kenapa?" tanya Airin sambil melihat wajah pucat Revan.


"Gak papa."


"Van?" Airin menyentuh tengkuk leher Revan yang mulai terasa panas. "Kamu demam. Jangan-jangan ini efek dari gigitan ular tadi."


"Udah, kamu jangan terlalu khawatir. Kamu tidur saja. Semoga besok pagi kita bisa menemukan jalan," kata Revan yang menyembunyikan rasa sakitnya sendiri.


Airin kini berganti memeluk tubuh Revan. "Van, tubuh kamu menggigil."


"Iya, tiba-tiba rasanya dingin banget." Suara Revan semakin bergetar. Tubuhnya tiba-tiba terasa sangat dingin. Kakinya juga semakin terasa sakit.


"Kenapa?" tanya Azka.


"Revan kedinginan."


Seketika Azka dan Melodi mendekat. "Jangan-jangan ini efek gigitan ular tadi." Azka menyenter kaki Revan yang terlihat membiru. "Kita peluk Revan sama-sama. Agar rasa menggigilnya hilang."


Baru kali ini Revan sangat tersentuh dengan persahabatan mereka, hatinya seperti berkabut. Dia tekan ujung matanya berulang, inikah arti persahabatan yang sebenarnya.


"Besok kalian cari jalan keluar ya. Kalian tinggalkan aku di sini tidak apa-apa." kata Revan. Dia sendiri tidak tahu bagaimana kondisinya esok hari. Apakah dia masih mampu bertahan atau tidak?


"Revan, kamu ngomong apa? Nggak! Kita harus keluar dari sini sama-sama," kata Airin.


"Iya, kita gak mungkin tinggalin lo di sini! Ternyata lo cowok lemah yang pasrah dengan keadaan!" Meskipun bicara Azka keras, tapi dia sangat setia kawan.


"Kalau kalian yang berhasil keluar, otomatis mereka juga akan tahu posisi aku."


"Nggak, aku akan sama kamu. Aku akan bantu kamu apapun kondisi kamu. Biarkan Azka dan Melodi yang cepat keluar dari sini dan mencari bantuan. Aku akan selalu menemani kamu," kata Airin meskipun dia sendiri tidak yakin, apakah dia bisa keluar dengan selamat.


"Udah, gak usah bucin-bucinan. Kita cari jalan keluar sama-sama. Kita harus saling bantu."


Mereka berempat saling memeluk menjadi satu. Untuk sejenak, keadaan sunyi, hanya ada suara binatang malam yang saling bersahutan. Malam terasa sangat panjang saat itu. Mungkin saat itu baru jam 19.00. Bagaimana mereka bertahan sampai esok hari?


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2