
Setelah tiga jam berlalu, bus mereka akhirnya berhenti di parkir terakhir area perkemahan. Mereka masih harus berjalan kaki masuk ke dalam area perkemahan sejauh 1 km.
Setelah mereka turun dari bus, mereka membawa barang masing-masing sampai di tempat perkemahan.
"Melo, Siska, titipan kalian nih bawa!" Airin menyerahkan satu kantong plastik yang berisi makanan pada Melodi.
"Iya, iya. Makasih ya." Melodi mengambil bungkusan kantong plastik itu lalu berjalan bersama Siska.
Tentu saja Airin kini berjalan bersama sang pacar. Sebelum sang pacarnya benar-benar sibuk saat pembukaan acara nanti.
"Sini, tasnya aku bawain." Revan akan meraih tas ransel Airin tapi Airin justru memakainya di belakang.
"Gak usah. Sama-sama bawa tas berat. Punya kamu malah berat banget kelihatannya."
"Iya, ada beberapa peralatan buat acara nanti malam." kata Revan, dia kini berjalan berdua bersama Airin.
"Memang nanti malam ada jelajah malam ya?" tanya Airin. Inilah yang dia takutkan. Dia takut makhluk-makhluk itu akan menunjukkan dirinya.
Revan menganggukkan kepalanya. "Iya, dikit-dikit aja. Gak sampai jauh masuk ke dalam hutan."
"Kamu ikut gak?" tanya Airin.
"Aku cuma mengawasi."
"Yah. Jadi gak ikut?"
"Mengawasi kamu maksudnya."
Seketika Airin tersenyum malu. Yah, rasanya sekarang dia tidak bisa jauh dari Revan.
Setelah sampai di area perkemahan, mereka semua beristirahat dan makan terlebih dahulu sebelum memasang tenda.
Airin kini duduk di dekat Melodi dan Siska karena Revan sedang sibuk dengan pembagian konsumsi, peralatan tenda dan segala macamnya.
"Padahal masih siang tapi hawanya sudah terasa dingin," kata Airin yang memang tidak betah dengan udara dingin.
"Iya, dih bilang aja butuh kehangatan dari Revan," kata Melodi sambil menghabiskan makanannya karena perutnya terasa sangat lapar.
"Yee, gak boleh. Dosa." Airin tersenyum kecil. Tapi kalau dosa sedikit tidak apa-apa kan. Dia kini juga menghabiskan makanannya sambil arah pandangnya tertuju pada Revan yang sedang sibuk kesana kemari. Sangat terlihat jiwa kepemimpinannya, pasti suatu saat nanti dia juga bisa menjadi kepala rumah tangga yang sangat baik. Aih, terlalu jauh otak Airin berkhayal.
"Woy, dihabisin makanannya. Ngelamun aja."
Karena senggolan dari Melodi membuat Airin tersedak dan terbatuk. Airin mencari minumnya tapi tidak ada di sampingnya.
__ADS_1
"Sorry, sorry, yah, minuman aku habis. Minuman kamu mana, Ai?" Melodi juga ikut mencari minuman Airin.
Airin tak menjawab perkataan Melodi karena sepertinya dia lupa mengambil air mineral.
"Minum dulu." Satu tangan kini menyodorkan segelas air mineral untuk Airin.
"Makasih, Azka." Airin segera menyedot minuman itu sampai habis.
"Makanya kalau makan itu jangan sambil melamun," kata Melodi yang kini telah menemukan minuman Airin yang menggelinding jauh.
"Kan kamu yang nyenggol aku."
Azka kini duduk di dekat mereka bertiga. Baru kali ini Azka bergabung dengan mereka. "Kalian satu tenda?" tanya Azka.
Pandangan Azka memang tertuju pada Airin tapi Airin tak menjawabnya. Justru Melodi yang menjawab pertanyaan itu.
"Iya, kita bertiga sama Novi dan Tia. Satu tenda lima orang."
"Ya udah, sini aku bantu pasang tenda," tawar Azka sambil mengecek peralatan tenda mereka.
"Emang kamu udah selesai?" tanya Melodi.
"Udah ada Tomi dan lainnya. Mereka udah pada jago masang tenda. Memang sebagian disuruh bantu regu cewek untuk pasang tenda." kata Revan sambil menyingkirkan kerikil-kerikil di tanah yang akan didirikan tenda.
Airin membantu memegang tali yang sedang dipasang Azka pada pasak itu. "Hmm, Ai, apa kamu sudah memaafkanku?" tanya Azka disaat yang lain sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Airin menatap Azka sesaat lalu dia menganggukkan kepalanya. "Kita lupakan saja masalah itu."
"Thanks ya."
"Iya," Airin tersenyum kecil. Lega juga dia bisa baikan dengan Azka.
"Kamu lihat, sudah kuat belum tendanya?" Azka mengikat tali tenda itu dengan kuat pada delapan pasak.
"Sepertinya udah." Airin mengelilingi tenda itu, tapi langkahnya terhenti saat ada Revan yang menghadang langkahnya hingga dia menabrak dada bidang Revan. "Ih, Van." Kemudian Airin mundur satu langkah.
"Udah selesai pasang tendanya?" tanya Revan
"Udah, dibantu sama Azka."
Revan hanya tersenyum. Dia tahu antara Airin dan Azka tidak bisa saling menjauh, dia harus bisa mengerti hubungan persahabatan mereka. Selama Azka masih tahu batasan, dia tidak akan melarang mereka dekat.
"Ya udah, kamu masukkan barang kamu ke dalam tenda ya. Istirahat sebentar setelah itu kita ke sungai, bisa mandi atau jalan-jalan aja."
__ADS_1
"Mandi? Di sini ada toilet umum kan?"
"Ada, tapi biasanya antri."
"Aku mau ke toilet dulu." Airin membalikkan badannya dan mencari Melodi. "Mel, antar aku ke toilet!"
Revan hanya tersenyum melihat tingkah Airin. Terkadang dia kalem, lucu, berusaha sok kuat tapi sebenarnya manja.
Revan mengecek tenda grupnya Airin dan berniat memasukkan barang-barang Airin tapi terhenti karena ada Azka yang sudah memasukkannya. Mereka hanya menatap dingin lalu berjalan berlawanan.
Sedangkan Airin dan Melodi kini sedang mengantri di toilet. "Aduh, antri toiletnya."
"Sabar Ai, tinggal dua orang tuh. Lagian habis ketemu pacar bentar aja udah kebelet ke toilet."
Seketika Airin mencubit pinggang Melodi. "Yee, apaan sih. Udah aku tahan dari tadi tapi emang nunggu tenda jadi sekalian."
"Kamu sama Azka udah baikan?" tanya Melodi yang sempat melihat Azka dan Airin sudah saling bicara.
"Udah."
"Ya syukurlah. Kita bisa temenan kayak dulu lagi."
Setelah tiba gilirannya, Airin segera masuk ke dalam toilet. Toilet itu cukup gelap, hanya ada cahaya dari ventilasi saja.
Airin segera menuntaskan buang air kecilnya. Setelah membersihkannya, dia menghidupkan kran dan mengambil air untuk membasuh wajahnya.
"Kok bau amis." Tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding. Dia melihat ada sesuatu di dalam bak yang besar itu. Bayangan hitam itu semakin membesar lalu sosok berambut panjang dengan pakaian yang lusuh keluar dari bak mandi.
Airin berteriak dan segera berlari keluar.
"Ai, kenapa?" Melodi yang juga baru selesai dari toilet segera mengikuti Airin.
"Ada..." Airin berusaha mengatur napasnya. Dia kini meluruskan pandangannya. Dia melihat ada tiga anak kecil yang sedang berlarian di antara pepohonan. "Di sini dekat rumah warga? Kenapa ada anak kecil?"
Airin berjalan mendekatinya karena anak kecil yang berambut panjang sambil membawa boneka itu melambaikan tangannya.
"Kakak sini, ayo ikut main sama kita."
Airin terus berjalan mendekat seolah tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Ai, mau kemana?" Melodi berusaha mengejar Airin. "Tidak ada siapa-siapa. Ini hutan, jauh dari rumah penduduk."
💕💕💕
__ADS_1