Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Jangan Takut


__ADS_3

"Kalian semua bisanya mengganggu ketenangan kami! Mengubah dan menempati tanpa permisi! Kalau kita marah, bisa apa kalian semua!"


"Apa mau kamu?!" teriak Airin.


Guru-guru berdatangan dan menolong mereka yang kehilangan kendali.


"Bawa keluar sekarang! Di sini banyak energi negatif!" teriak Guru Agama yang bernama Pak Umar. Pak Umar memang bisa merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata itu.


Airin kini saling tatap dengan Pak Umar. "Kamu siswi kelas dua belas kan?" tanya Pak Umar.


Airin menganggukkan kepalanya.


"Biar saya bantu teman kamu. Kamu keluar dari sini."


"Mereka marah, Pak." kata Airin. Dia yakin, Pak Umar juga bukan orang sembarangan. Karena beberapa makhluk itu kini telah menghilang.


"Iya, kamu keluar dulu. Kamu belum bisa mengendalikan mereka, jadinya nanti kamu yang akan dikendalikan."


Airin melepas pelukannya pada Melodi saat tubuh Melodi mulai melemas. Melodi kini dibawa Pak Umar keluar aula.


Airin berjalan perlahan mendekati Azka yang sangat khawatir padanya.


"Dimana pria itu? Bawa ke sini!"


Suara Noni Belanda itu lagi. Mau apa dia sebenarnya? Airin berpura-pura tidak mendengar suaranya. Dia harus segera membawa Azka keluar dari aula. Dia kini mendorong kursi roda Azka dan menuju ruang UKS untuk melihat kondisi Melodi.


Pria yang dimaksud hantu itu apa Revan? Apa sebenarnya hubungan Noni itu dengan Revan? Aku gak mau Revan dalam bahaya. Mulai sekarang aku harus berpura-pura tidak melihat mereka semua. Cukup Azka saja yang terluka karena aku, jangan sampai ada yang lainnya.


"Ai?" Azka mendongakkan kepalanya melihat Airin yang terus melamun. "Ai, jangan melamun terus."


Tersadar Airin kini menatap Azka, "Ka, gak papa."


"Kamu sebenarnya tahu kan apa yang terjadi di aula itu?"


Airin menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau lagi ikut campur dengan urusan mereka."

__ADS_1


"Kalau kamu butuh bantuan kamu bilang aja." Sedetik kemudian Azka meluruskan pandangannya. "Aku lupa, kalau aku sudah tidak bisa membantu kamu."


Airin menghela napas panjang. "Itu sebabnya aku gak mau melibatkan kalian semua. Aku gak mau membahayakan orang lain."


Satu tangan Azka meraih tangan Airin dan menggenggamnya. "Ai, kamu punya pacar dan sahabat yang sayang sama kamu."


Airin menghentikan langkahnya lalu dia berjongkok di samping kursi roda Azka agar wajahnya sejajar dengan Azka. "Aku juga sayang sama kamu dan mereka semua, makanya aku gak mau mereka dalam bahaya. Sampai sekarang saja aku masih menyesal melihat kondisi kamu yang seperti ini. Aku akan berusaha bersikap normal dan tidak peduli lagi dengan keberadaan mereka."


"Tapi kalau mereka mengganggu kamu gimana?"


Airin berdiri dan kembali mendorong kursi roda Azka. "Biar aku hadapi sendiri."


"Ai, jangan bilang seperti itu."


"Aku gak papa." Airin menghentikan langkahnya saat sampai di depan UKS. Dia kini melihat Melodi yang keluar dari UKS dan dituntun Siska.


"Mel, kamu gak papa kan?" tanya Airin.


Melodi menggelengkan kepalanya. "Kepala aku pusing banget."


Mereka semua berjalan menuju kelas. Melodi masih berpegangan lengan Siska karena badannya terasa lemas. "Aduh Ai, jadi kayak gini rasanya. Aku gak bisa bayangin bagaimana kamu yang terus-terusan berurusan dengan makhluk-makhluk itu."


"Ya gitu Mel, makanya kadang aku merasa udah gak sanggup. Ingin banget rasanya mata batin ini segera tertutup."


Setelah sampai di dalam kelas, mereka duduk di bangku masing-masing.


"Ka, aku bawa dua bekal. Kamu makan ya." Airin mengeluarkan dua bekal itu. Satu untuknya dan satu untuk Azka. Dia memang sengaja membawakan bekal untuk Azka.


"Ai, jangan repot-repot gini."


"Aku gak repot. Itu Ayah yang buatin." Airin akhirnya tersenyum kecil. Memang urusan perbekalan seringkali Ayahnya yang membuat untuknya.


"Tuh kan, jadi semakin gak enak, Ai."


"Gak papa, makan aja." Airin menemani Azka makan. Tiba-tiba terdengar suara pasukan berbaris. Airin berusaha tidak menghiraukannya. Beberapa saat kemudian terdengar suara tembakan senjata api berkali-kali dan suara teriakan yang memilukan.

__ADS_1


"Ai, masakan Ayah kamu memang enak banget." Dalam sekejap bekal itu telah habis dimakan Azka. Dia kini melihat Airin yang sedang menundukkan pandangannya dan tidak segera memakan bekalnya. "Ai, kenapa?" tanya Azka karena sepertinya Airin tidak mendengar dirinya.


Airin menggeleng pelan. Kemudian dia melanjutkan makan bekalnya. Pandangannya semakin ke bawah. Dia kini melihat ada sepasang kaki yang tidak menapak lantai dan berada tepat di sebelahnya.


"Dimana teman pria kamu, aku ingin bertanya tentang Mas Aryo."


Seketika bulu kuduk Airin merinding. Dia berusaha untuk tenang dan tidak menganggap penampakan itu.


"Apa setelah Mas Aryo pergi, dia selamat? Jika dia selamat, apa anak aku juga selamat? Jika anak aku selamat apa dia masih hidup?"


Seketika Airin meletakkan sendoknya dan menutup bekalnya. "Aku gak tahu! Sudah, jangan tanya sama aku lagi!"


Dia kini kembali ke mejanya dan menutup wajahnya. Bisikan-bisikan itu masih terdengar di telinganya.


Aku udah gak sanggup dengan semua ini. Berhenti!


"Ai, tenangin diri kamu, Ai..." Azka memutar roda kursinya dan menghampiri Airin. "Ai, tenangin diri kamu. Ada apa?"


Airin membuka wajahnya dan menatap nanar Azka. "Ada hantu yang ingin bertemu dengan Revan. Aku gak mau. Aku gak mau Revan dalam bahaya juga."


"Ai, pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan Revan."


Airin menghirup napas dalam lalu menghembuskannya. "Tapi..."


"Ai, kamu tahu sendiri kan arwah penasaran itu tidak akan tenang jika masalahnya belum selesai. Dia akan terus teror kamu, bahkan dia mungkin akan teror yang lainnya juga."


Airin kembali mengusap wajahnya. "Gak tahulah. Aku bingung."


"Kamu harus berani. Jangan karena apa yang aku alami, kamu jadi takut. Revan pasti akan bantu kamu menyelesaikan masalah ini."


Airin tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan? Apa masa lalu Noni Belanda itu berhubungan dengan kakek buyut Revan yang sempat Revan ceritakan padanya?


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya.


__ADS_2