
Azka masih terngiang-ngiang dengan penjelasan Dokter tadi pagi tentang keadaannya. Dia tidak bisa berjalan selama 6 bulan semasa penyembuhan dan setelah itu, kondisi kakinya belum bisa dipastikan. Apa dia bisa kembali normal atau tidak.
Satu hal yang membuatnya sedih adalah dia tidak bisa lagi bermain basket. Padahal seharusnya masih ada beberapa pertandingan selama semester satu ini. Itu berarti, dia tidak bisa lagi menyandang gelar kapten basket.
Azka menatap kosong jendela kamar vip itu. Buliran air mata tanpa sadar menetes di pipinya. Dia memang sudah terbiasa hidup susah tapi dia tidak bisa jika harus berhenti bermain basket. Baginya, basket adalah penghilang kesedihan dan rasa lelahnya menjalani hidup.
"Azka, makan dulu." kata Bu Isti.
Azka menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak mau makan sejak pagi.
"Azka, makan dulu biar cepat sembuh." kata Bu Isti lagi.
"Aku gak mungkin sembuh Ibu."
Bu Isti berusaha menahan tangisnya agar dia tidak menambah kesedihan Azka. Dia usap rambut Azka yang masih saja membuang pandangannya.
"Ibu, apa aku benar-benar akan menjadi anak yang tidak berguna seperti yang dikatakan Ayah. Aku sekarang cacat, pasti hanya akan menyusahkan ibu saja."
Air mata yang sedari tadi Bu Isti bendung akhirnya lolos setelah mendengar kalimat Azka. "Jangan bilang seperti itu. Ibu yakin kamu bisa jalan seperti semula."
"Ibu dengar sendiri kan tadi, masa penyembuhan kaki aku selama enam bulan. Itu artinya selama enam bulan aku hanya duduk di kursi roda. Dan setelah itu, aku tidak tahu apakah aku bisa berjalan normal atau tidak. Bahkan Dokter saja ragu memberi kepastian. Satu lagi, aku gak bisa main basket. Impian aku untuk menjadi atlet basket sudah hancur. Ini semua karena doa Ayah yang selalu bilang aku anak tidak berguna dan selalu menyusahkan, iya, sekarang semua itu terkabul." Air mata Azka terus mengalir di pipinya. "Mana Ayah sekarang, menemui aku saja tidak."
Bu Isti hanya terdiam sambil menangis. Dia biarkan Azka mengungkapkan semua kesedihannya. Dia tahu, putranya sekarang sedang hancur.
"Ibu, maafkan aku. Aku jadi anak sangat tidak berguna. Selalu menyusahkan. Ibu, aku ingin pergi saja dari dunia ini."
"Kamu jangan bilang seperti itu. Ibu sayang sama kamu. Ibu hanya punya kamu. Kamu tidak pernah menyusahkan Ibu." Bu Isti membungkukkan badannya dan memeluk putranya.
Azka menghela napas panjang untuk menghilangkan sedikit sesak di dadanya. Setelah ini, dia tidak tahu apakah dia mampu melewati hari-harinya.
...***...
__ADS_1
"Ai," Revan menghentikan langkahnya di depan ruangan Azka. "Kalian bertiga saja yang masuk. Aku mau pulang."
"Van, ayo masuk sebentar." Airin menarik tangan Revan tapi Revan menggelengkan kepalanya.
"Seperti yang aku bilang tadi, kamu harus bisa kasih semangat Azka. Dia butuh kamu." Revan mengusap pipi Airin. "Dan satu lagi, kamu gak boleh menangis lagi." Setelah itu dia melepas tangan Airin. "Aku tadi sudah kirim pesan ke Ayah kamu agar jemput kamu di rumah sakit." Kemudian Revan membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Airin.
Airin hanya menatap punggung Revan yang kian menjauh.
"Sudah yuk, ayo kita masuk," ajak Melodi.
Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan Azka. Terlihat Azka sedang melamun menatap jendela.
"Azka ada teman-teman kamu datang," kata Bu Isti, dia berharap Azka bisa sedikit bahagia bertemu teman-temannya.
"Azka, teman-teman titip pesan buat kamu. Besok mereka akan ke sini." kata Airin yang duduk di sebelah brangkar Azka.
"Azka, kita bawa buah nih. Biar kamu cepat pulih."
Air mata Airin sudah terbendung. Dia mengalihkan pandangannya dan mengusapnya sesaat.
Aku gak boleh nangis.
Melodi menyenggol bahu Airin karena Azka sama sekali tidak merespon mereka. Melodi mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu.
Kita keluar aja ya. Kamu coba hibur Azka. Sepertinya Azka tidak punya semangat hidup lagi.
Dia tunjukkan pesan itu pada Airin lalu dia menarik lengan Siska agar mengikutinya keluar. Melodi juga memberi kode pada Bu Isti agar keluar dari ruangan.
"Ka, makasih kamu sudah menyelamatkan hidup aku." kata Airin.
Azka masih saja terdiam.
__ADS_1
Airin sudah tidak sanggup lagi menahan tangisnya. "Azka, apa kamu menyesal telah menolong aku?" tanya Airin dengan suara yang bergetar.
Barulah ada sedikit respon dari Azka. Dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau kamu gak menyesal, kamu jangan seperti ini. Aku merasa bersalah banget sama kamu, harusnya kamu biarkan saja aku yang tertabrak. Aku gak mau lihat kamu kayak gini." Airin semakin menangis sampai suara isak tangisnya terdengar keras. "Kalau aku bisa, biarkan aku saja yang menggantikan kaki kamu. Harusnya bukan kamu yang seperti ini tapi aku." Airin menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena air mata itu tak berhenti mengalir
Azka kini menoleh Airin. Dia menatap Airin yang menangis terisak di sampingnya. Dia tidak ingin melihat kesedihan Airin. Apapun akan dia lakukan demi Airin. Iya, benar kata Airin, jika dia tidak menyesal menolong Airin, harusnya dia bisa menerima keadaannya saat ini.
Perlahan tangan Azka menyentuh tangan Airin. "Aku gak pernah menyesal menolong kamu. Aku hanya menyesali nasib hidup aku yang selalu sial."
Airin membuka tangannya. Mata sembab Airin kembali memerah.
"Ai, mata kamu kenapa sembab banget. Kamu menangis dari semalam?" Azka menghapus air mata yang ada di pipi Airin. "Jangan menangis. Aku gak pernah menyesal menolong kamu. Apapun akan aku lakukan demi kamu."
"Tapi kamu..." Airin menghentikan perkataannya karena dia tidak sanggup berkata lagi.
"Iya, aku gak akan bisa main basket lagi. Aku akan cacat. Aku memang belum bisa menerima ini semua. Sangat sulit karena basket adalah hidup aku. Impian aku menjadi atlet basket sudah hancur. Aku sudah tidak bisa apa-apa lagi, hanya akan menyusahkan ibu dan orang lain saja." Azka menekan ujung matanya yang mengembun. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dia menjalani hari-hari selanjutnya.
Seketika Airin memeluk Azka. Dia tahu betapa hancur hati Azka saat ini. Jika dia berada di posisi Azka pasti dia juga akan merasakan hal yang sama. "Aku akan bantu kamu menjalani hari-hari kamu. Jika perlu aku akan menjadi kaki kamu."
"Aku..." Azka mengeratkan pelukan Airin.
"Azka, aku yakin kamu bisa sembuh. Aku akan bantu kamu melewati ini semua." Airin melepas pelukannya lalu mengambil spidol dari dalam tasnya. Kemudian dia menulis di atas gips kaki Azka.
Semangat Azka. Kamu pasti bisa!
Azka tersenyum kecil membaca tulisan itu.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya ..