
"Sebarkan video itu sekarang! Sudah, kamu tidak perlu bertindak apa-apa. Biar netizen dan polisi yang bergerak sendiri." Revan mematikan panggilannya setelah menghubungi anak buahnya. Dia kini duduk di balkon kamarnya sambil menatap gelapnya langit yang tanpa bintang itu.
"Revan belum tidur?" tanya Papanya lalu duduk di sampingnya.
Revan hanya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia merasa sangat lelah karena baru sampai di rumah tadi sore tapi matanya seolah enggan terpejam.
"Kamu baru sampai, kamu istirahat dulu."
Revan menganggukkan kepalanya. "Papa, aku gak akan lanjut S2 di luar negeri lagi."
"Iya, yang penting kamu sudah lulus S1 dengen nilai yang sangat bagus. Papa juga yakin kamu bisa mulai memegang perusahaan. Setelah ini pelan-pelan kamu belajar. Kakak kamu sudah pegang kantor cabang jadi kamu pegang yang di pusat. Papa yakin kamu bisa."
Revan menganggukkan kepalanya. Dia kini kembali melamun. Sudah empat tahun dia tidak bertemu Airin, tapi meskipun dia tidak bertemu Airin dia tahu semua yang dilakukan Airin. Termasuk kecelakaan yang terjadi pada Azka tadi pagi.
"Kamu melamun saja? Kalau kangen sama Airin temui dia atau mau langsung melamar. Tidak apa-apa, Papa setuju."
Revan menggelengkan kepalanya. "Belum saatnya, Pa."
Kevin tertawa dan menepuk bahu Revan. "Papa tahu kamu diam-diam menyuruh anak buah Papa untuk memata-matai Airin selama empat tahun."
Revan menundukkan pandangannya karena ternyata apa yang dia lakukan diketahui oleh Papanya. "Iya Pa, maaf Pa."
"Tidak apa-apa. Papa mengerti. Justru Papa bangga sama kamu. Kamu lebih mendahulukan pendidikan kamu daripada cinta. Kamu mempunyai cara sendiri untuk menjaga orang yang kamu cintai. Kamu sangat mirip dengan Papa dulu. Papa dulu juga seperti itu. Papa berusaha menjaga Mama kamu meski Papa tahu Mama kamu belum tentu jodoh Papa. Tapi takdir ternyata memang menyatukan Papa dengan Mama kamu. Ya, semoga kamu juga seperti itu."
Revan menganggukkan kepalanya karena dia sendiri juga belum tahu setelah ini Airin akan mau kembali bersamanya atau tidak.
"Papa juga dengar dari anak buah yang kamu suruh. Ada yang sengaja menabrak Azka?"
Revan menganggukkan kepalanya. "Untunglah waktu itu Tio merekam semua kejadiannya. Mobil beserta plat mobil itu terlihat dengan jelas."
__ADS_1
"Kenapa gak langsung kamu laporkan polisi saja."
Revan menggelengkan kepalanya. "Hukuman netizen lebih kejam dari itu dan aku juga tidak mau ada yang tahu kalau aku yang mengungkap kasus ini."
Kevin hanya tersenyum lalu menepuk bahu Revan lagi. "Ya sudah kamu cepat istirahat." Kemudian dia berdiri dan meninggalkan Revan.
Revan tak juga beranjak dari tempatnya. Dia kini bersandar sambil memandangi foto Airin yang ada di ponselnya. "Pasti sekarang kamu lagi sedih karena kondisi Azka." Revan semakin memperbesar foto Airin. "Ai, aku sangat merindukan kamu."
...***...
Keesokan harinya meskipun mata Airin sembab, dia tetap datang ke kampus. Setelah memasuki gerbang kampus dia dibuat bingung saat melihat teman-temannya sedang bergerombol dan berbicara dengan serius.
"Airin!" Siska berlari ke arahnya dengan wajah panik. "Kenapa kamu gak bilang kalau Azka kecelakaan?"
"Iya, aku gak sempat."
"Aku gak sempat lihat hp." Karena setelah dari rumah sakit dia terus diikuti Azka. Bahkan sampai saat ini Azka masih saja mengikutinya. Airin kini melihat video itu. Di dalam video itu sangat jelas jika mobil itu sengaja menabrak Azka hingga terpental lalu meninggalkan Azka begitu saja.
"Ini mobilnya Satria." kata salah satu dari mereka yang melihat video itu.
"Iya, mobil ini yang selalu dipakai Satria saat ada pertandingan basket diluar kota."
"Gila tuh orang! Mau bunuh Azka."
"Terus keadaan Azka sekarang gimana? Keliatannya luka di kepalanya parah banget."
"Dia koma," jawab Airin. "Dokter sudah angkat tangan dengan kondisi Azka." Karena itulah kabar terakhir yang dia dapat dari ibunya Azka. Mata Airin kembali mengembun.
"Astaga, gak bisa dibiarin ini. Ayo kita demo ke rumah Satria. Dia harus ditangkap dan mendapatkan hukuman yang setimpal. Hukum mati sekalian."
__ADS_1
"Iya, ayo sekarang kita berangkat." Mereka semua menaiki motor mereka lalu beramai-ramai menuju rumah Satria.
Airin masih saja memutar video itu berulang kali. Kira-kira siapa yang meviralkan video itu?
"Ai, ikut yuk?" ajak Siska.
Airin menganggukkan kepalanya lalu kembali menaiki motornya. Beberapa saat kemudian motor Airin mengikuti motor teman-teman kampusnya.
Mereka semua kini berhenti di depan rumah Satria. Bukan hanya mereka yang ada di sana tapi juga polisi dan wartawan. Beberapa warga juga sudah bergerombol.
Semua teman-teman Azka berteriak dan merusak pagar rumah Satria karena Satria sampai saat itu tidak berani keluar, begitu juga dengan keluarganya.
Airin hanya melihat dari kejauhan di samping rumah Satria. Tiba-tiba dia melihat di belakang rumah Satria ada seseorang yang akan melarikan diri. "Itu sepertinya Satria." Airin turun dari motornya dan berteriak sambil menunjuk Satria tapi tidak ada yang mendengarnya.
"Dia tidak boleh kabur." Airin berlari mendekat lalu menjegal kaki Satria hingga dia terjatuh. "Satria di sini!"
Seketika Satria bangun dan membekap mulut Airin. "Diam!" Dia menarik paksa Airin.
Airin berusaha melepaskan diri tapi tenaganya kalah dengan Satria.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.
Akhirnya Revan kembali.. 😳
__ADS_1