
Empat bulan telah berlalu, Airin sangat menikmati kehidupannya bersama Revan. Mereka berdua semakin mesra dan harmonis tapi tidak untuk malam itu.
"Mas, malam ini jangan peluk." kata Airin.
"Loh, kenapa?"
"Gak tahu. Tidur agak jauh ya." Airin menggeser dirinya ke tepian dan memunggunginya.
Revan hanya menatap punggung Airin karena tak biasanya Airin tidur memunggunginya. Padahal sebelumnya setiap hari dia dan Airin selalu melakukan ritual malam sebelum tidur.
Mungkin Airin capek. Met tidur ya sayang.
Mereka berdua akhirnya terlelap. Sampai pagi hari, biasanya Airin bangun terlebih dahulu tapi dia masih terlelap. Revan membiarkan tidur Airin. Dia beranjak dari tempat tidur dan membasuh dirinya. Sampai dia rapi, Airin masih belum juga bangun. Akhirnya Revan mendekatkan dirinya dan mencium bibir Airin.
Seketika kedua mata Airin terbuka. Dia menjauhkan wajahnya dan menutup mulutnya lalu berlari ke kamar mandi.
"Sayang kenapa?" tanya Revan sambil mengikuti langkah Airin ke kamar mandi. Dia kini menahan rambut Airin dan memijat punggungnya pelan saat Airin memuntahkan isi perutnya.
Setelah selesai Airin berkumur dan membasuh wajahnya. "Mas jangan dekat-dekat, apalagi sampai cium. Aku mual."
"Oke," Revan mundur dua langkah. Padahal biasanya Airin sangat suka mencium aroma tubuhnya setelah mandi. "Kamu sakit? Aku antar kamu periksa ya."
Airin menggelengkan kepalanya. Dia kembali merebahkan dirinya dan memeluk guling. Rasanya dia sangat malas sekali bergerak.
Revan kini berpikir sambil melihat kalender. "Sayang, sebentar ya." Kemudian Revan keluar dari kamar.
Cukup lama sampai 30 menit lalu dia kembali masuk ke dalam kamar dan masih melihat Airin bermalasan. "Kalau kamu mau sarapan, aku sudah siapkan. Dan..." Revan mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik. "Coba kamu tes."
Seketika Airin bangun dan melihat tiga alat tes kehamilan yang dibawa Revan. "Kok Mas ngerti?"
Revan tertawa sambil mengusap puncak kepala Airin. "Kan aku buatnya tiap hari, jelas tahu waktunya libur dan gak. Kayaknya udah telat dua minggu."
__ADS_1
"Tapi kalau ternyata gak?"
"Ya gak papa. Gak ada salahnya dicoba."
Airin menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama, sampai 15 menit Airin baru keluar. Sedangkan Revan sudah sangat tidak sabar untuk melihat hasilnya.
Airin berjalan mendekat sambil memegang ketiga alat itu.
"Gimana hasilnya?" tanya Revan.
Mata Airin berkaca-kaca dan menunjukkan tiga alat tes itu. "Positif."
Seketika Revan memeluk Airin. Dia mengecup dalam puncak kepala Airin. "Akhirnya, setelah berjuang selama empat bulan dengan berbagai gaya sekarang sudah ada hasilnya."
"Ih," Airin mencubit pinggang Revan agar melepas pelukannya. "Jangan dekat-dekat dulu. Aku gak mau dekat-dekat."
Revan hanya menghela napas panjang sambil melepas pelukannya. "Duh, bawaan bayi nih pasti, mau jadi saingan Papanya. Kalau tebakan aku gak meleset pasti cowok."
"Nebak aja sayang, siapa tahu memang benar. Nanti kita periksa ya ke Dokter, hari ini aku gak ke kantor dulu mau nemeni kamu seharian."
Airin menganggukkan kepalanya sambil mengusap perutnya.
Hal itu juga dilakukan Revan pada Airin. "Sayang..."
"Iya?"
"Nanti kalau anak kita beneran cowok, aku mau kasih nama Azka."
Seketika Airin menatap Revan. "Kenapa?"
"Agar dia tetap berada di antara kita."
__ADS_1
Seketika air mata Airin menetes di pipinya. Dia tidak pernah terpikirkan akan hal itu. Iya, dengan adanya nama itu, Azka akan mendapat kehidupan yang baru.
"Sayang maaf aku gak bermaksud buat kamu sedih." Revan memeluk Airin lagi dan menghapus air matanya.
"Aku gak sedih Mas. Hanya terharu saja. Aku gak pernah mikir kasih nama itu. Kalau memang beneran cowok, Azka akan kembali bersama kita."
Revan semakin mengeratkan pelukannya. Sampai kapanpun kebaikan Azka akan selalu melekat di hati mereka.
"Mas, jangan erat-erat. Mual lagi nih."
Revan melepas pelukannya dan menjauh. "Ya udah kamu mau mandi dulu atau sarapan?"
"Mandi dulu lalu sarapan."
"Oke, sekarang kamu mandi biar aku siapkan semua perlengkapan kamu. Lalu kita turun sama-sama ya. Dan satu lagi, kamar kita akan pindah ke lantai bawah. Nanti setelah periksa ke Dokter untuk memastikan keakuratan kehamilan kamu, aku akan benar-benar jaga kamu."
Airin tersenyum lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.
💕💕💕
.
.
ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Author udah mikirin season lanjutannya ya... Azka akan bangkit kembali? Atau hanya wajahnya saja yg mirip? 🥰
.
Terima kasih yang sudah setia dengan cerita ini.. 😘
__ADS_1