
"Azka! Tidak!" Airin terbangun dari mimpi buruknya. Dia kini duduk dengan napas yang tidak teratur.
Dia menghela napas dalam berulang kali lalu mengusap wajahnya. "Semoga saja itu hanya mimpi." Airin melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima pagi. Dia menggeser dirinya dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Dia kini menghubungi nomor Azka. Beberapa saat kemudian Azka mengangkat panggilan Airin.
"Hallo Azka, maaf ganggu."
"Iya, ada apa? Aku baru aja bangun."
"Hari ini kamu ada jadwal kemana?" tanya Airin. Daripada pikirannya tidak tenang lebih baik dia mengikuti Azka seharian itu.
"Aku mau ambil hasil tes DNA lalu ke tempat kerja Ayah. Mau ikut?" Azka memang begitu peka dengan Airin.
"Iya, aku ikut ya."
Terdengar tawa renyah Azka di seberang sana. "Semalam aku gak bisa tidur mikirin kamu."
"Kenapa gak bisa tidur?"
"Ya terbayang-bayang apa yang kita lakukan kemarin. Maaf ya."
"Udah berapa kali minta maaf. Udah gak papa."
"Ya udah, aku berangkat jam 8. Nanti aku jemput ya."
"Oke." Kemudian Airin mematikan panggilannya.
Airin kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia usap wajahnya lagi, dia masih sangat khawatir dengan Azka. "Semoga itu semua hanya mimpi."
...***...
Setelah Azka menjemput Airin, mereka kini berangkat ke rumah sakit. Kedua tangan Airin melingkar di pinggang Azka karena Azka sempat menarik tangannya agar memeluknya. Dia masih saja memikirkan mimpinya semalam, bisakah dia mengubah takdir itu?
Beberapa saat kemudian, Azka menghentikan motornya di tempat parkir rumah sakit. Setelah turun dari motor, mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit.
Airin hanya menunggu Azka di luar ruangan saat Azka mengambil hasil tes itu. Hanya sesaat Azka sudah keluar. Dia kini berdiri di dekat Airin sambil membaca hasil tes itu.
"Gimana?" tanya Airin. Dia kini mendekati Azka dan ikut membaca hasil tes itu.
"Hampir seratus persen cocok. Aku percaya ibu tidak pernah selingkuh." Azka melipat kembali hasil tes itu lalu mengajak Airin keluar dari rumah sakit. "Kita ke tempat kerja Ayah sekarang ya."
"Ayah kamu kerja dimana?" tanya Airin.
"Pekerjaan Ayah pindah-pindah tapi tadi aku sempat tanya sama teman Ayah kalau sekarang Ayah bekerja di agen sembako. Lumayan jauh dari sini. Gak papa kan?"
__ADS_1
"Gak papa."
Setelah mereka naik ke atas motor, beberapa saat kemudian motor Azka melaju meninggalkan kawasan rumah sakit.
"Makasih ya, kamu sudah menemani aku." kata Azka. Lagi-lagi dia menarik tangan Airin agar memeluknya.
"Iya, sama-sama."
Azka melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju tempat kerja Ayahnya. Memang lumayan jauh sampai memakan waktu satu jam baru dia sampai di agen sembako itu. Azka menghentikan motornya dan melihat Ayahnya sedang memanggul beras memindahkan dari gudang menuju mobil pick up.
Seketika hati Azka tersentuh, ternyata pekerjaan Ayahnya selama ini cukup berat. Dia turun dari motor dan melepas helmnya lalu berjalan mendekati Ayahnya. Sedangkan Airin hanya berdiri di dekat motor Azka karena dia tidak mau mencampuri urusan Azka yang satu ini.
"Ayah," panggil Azka setelah Ayahnya menurunkan beras di atas mobil pick up.
Seketika Pak Rahman menatap Azka, kemudian dia berjalan dan mengambil karung beras lagi di dalam gudang.
"Ayah, aku mau bicara sebentar." Azka mengikuti langkah Ayahnya.
Tapi Ayahnya hanya terdiam dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Ayah, satu menit saja." kata Azka lagi.
Setelah menurunkan beras di atas mobil pick up akhirnya Ayahnya berhenti. "Ada apa?"
"Aku sudah melakukan tes DNA. Ayah tolong kembali sama ibu. Ayah temani Ibu di rumah karena aku akan pergi."
"Rahman, antar beras itu ke toko seberang!" suruh bosnya.
Pak Rahman segera mengambil beras dan memanggulnya ke tepi jalan dan bersiap menyeberang.
Azka masih saja mengikuti langkah Ayahnya. "Ayah, lihat sebentar saja."
"Ayah sedang kerja. Ayah sibuk." Pak Rahman berjalan menyeberangi jalan itu menuju toko.
Azka masih saja mengikutinya. "Aku akan menunggu Ayah. Ayah harus tahu kalau aku benar-benar anak Ayah."
Azka akhirnya menghentikan langkahnya karena Ayahnya sama sekali tak mempedulikannya.
Ayah, ini usaha terakhir aku untuk mendapatkan kasih sayang Ayah. Tapi Ayah masih saja tidak peduli.
Tiba-tiba saja dari kejauhan ada mobil yang melaju dengan kencang menuju arah Azka.
Airin yang melihat hal itu segera berlari tapi sayang langkah kakinya kalah cepat dengan mobil itu.
__ADS_1
Brakk!!!
Karena kencangnya laju mobil itu membuat tubuh Azka terpental hingga dua meter dari tempatnya berdiri. Kepalanya terbentur aspal dengan keras.
Mobil itu kembali melaju dengan kencang meninggalkan Azka.
"Woy, jangan kabur!!!" teriakan orang-orang yang ada di sekitar tempat itu karena mobil itu melaju semakin kencang.
Seketika Pak Rahman menjatuhkan beras yang dia panggul. Dia segera berlari menghampiri Azka. Dia melihat darah sudah mengalir dari kepala Azka.
"Panggilkan ambulance cepat!" teriak salah seorang warga.
Pak Rahman meraih tubuh Azka dan memeluknya. Dia melihat hasil tes DNA itu yang masih di pegang Azka dan sudah berlumur darah.
"Azka..." Air mata Pak Rahman berurai di pipinya. Dia sangat menyesal, dia merasa sangat bodoh. Andai saja barusan dia berhenti dan mendengarkan Azka pasti semua ini tidak akan terjadi.
Azka berusaha membuka matanya tapi sangat berat hingga dia hanya bisa menatap sayu Ayahnya. "Ayah, aku anak Ayah. Ayah kembali sama ibu ya. Karena aku sudah tidak bisa menemani ibu lagi." ucapnya dengan suara yang kian melemah.
"Azka!" tangis Pak Rahman semakin pecah. "Kamu harus bertahan. Ayah sayang sama kamu Azka. Ayah tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa sayang Ayah sama kamu karena Ayah sudah terlanjur malu sama kamu dan Ibu. Selama ini Ayah terlalu keras kepala dan egois."
Azka tersenyum kecil sambil menarik napas dalam karena napasnya sudah terasa sangat sesak. Untunglah tim medis dan ambulance sudah datang. Azka segera diangkat masuk ke dalam ambulance dan selang oksigen segera dipasang di hidungnya.
Pak Rahman juga ikut masuk ke dalam ambulance. Beberapa saat kemudian mobil ambulance itu segera melaju dengan kencang menuju rumah sakit.
Airin hanya berdiri di dekat tempat kejadian itu. Air matanya mengalir tanpa henti. Dia teringat mimpinya semalam saat Azka bilang padanya bahwa dia akan pergi selamanya.
"Azka..." Airin mengusap air matanya asal lalu berjalan kembali ke motor Azka. Untunglah kunci Azka masih menancap di motor itu. Dia segera menaikinya dan menyusul mobil ambulance.
Azka, kamu gak boleh pergi. Kamu harus bertahan...
💕💕💕
.
😭😭😭
.
Like dan komen ya...
.
Yang mau protes di kolom komentar tapi author tidak bisa mengubah takdir Azka... 🙏🙏
__ADS_1
.
Tetep stay di sini ya guys ya sampai tamat...