
"Nanti sore Ayah sama Bunda sudah pulang." kata Airin setelah mereka berdua makan siang di rumah. Dua hari sudah terlewati, dua hari itu juga mereka menikmati sebagai pengantin baru.
"Cepet banget. Masih kurang honeymoon sama kamu. Honeymoon yuk? Kamu mau kemana?" tanya Revan.
Airin berpikir sejenak. Lalu dia menggelengkan kepalanya. "Aku masih gampang capek. Kapan-kapan aja. Gak papa kan?"
"Gak papa. Kalau gitu rencana selanjutnya gimana? Mau tetap tinggal di sini atau di rumah kita?" Revan berdiri lalu mengajak Airin duduk di sofa ruang tengah.
"Terserah Mas Revan mau dimana? Kalau mau tinggal berdua, gak papa."
Revan merengkuh tubuh Airin dan memeluknya. "Sementara kita tinggal di rumah kita ya. Besok aku akan suruh anak buah aku untuk mengemasi barang-barang kamu dan mulai minggu depan aku sudah mulai aktif lagi di kantor."
Airin menganggukkan kepalanya. "Oke, aku juga mau bantu usaha Bunda."
Kemudian Revan meraih tubuh Airin lalu mendudukkannya di pangkuannya. Dia rangkum kedua pipi Airin dan menempelkan keningnya. "Perjalanan kita masih panjang. Semoga tidak ada masalah serius di dalam rumah tangga kita. Apapun masalahnya kelak, kita selesaikan secara baik-baik ya."
Airin menganggukkan kepalanya.
"Aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu."
Kemudian wajah mereka saling mendekat. Mereka memulai dengan satu ciuman lembut yang semakin lama semakin meliar. Tangan Revan sudah menjelajah tubuh Airin. Dia menyingkap daster pendek yang dipakai Airin.
"Hmm, Mas. Jangan di sini."
Tapi Revan tak menghentikan aksinya. Dia justru merebahkan Airin di atas sofa lalu menyusuri leher mulus Airin. Sudah ada beberapa tanda di leher itu dan sekarang dia ingin membuat yang baru lagi.
Airin hanya melenguh sambil mendongakkan kepalanya. Perlakuan Revan selalu bisa membuatnya melayang.
__ADS_1
Revan sudah memposisikan dirinya tapi belum juga berhasil masuk, bel rumah Airin berbunyi.
"Siapa?" Revan menahan dirinya. Dia menghela napas panjang karena hasratnya sudah di ubun-ubun.
"Mungkin Bunda."
Revan harus menahan hasratnya dulu kemudian dia turun dan merapikan bajunya begitu juga dengan Airin. Mereka berdua berjalan menuju pintu lalu membuka pintu itu. Terlihat Ayla dan kedua orang tuanya baru saja turun dari mobil.
"Adek!" panggil Ayla dengan keras lalu memeluk Airin sesaat. Kemudian dia tertawa saat melihat tanda merah di leher adiknya. "Bun, rencana kita berhasil. Lihat nih tanda merahnya."
Seketika Airin menutup lehernya dengan tangan. "Ih, Kak. Malu. Lagian ngapain sih kakak ke sini."
Sedangkan Revan hanya menggaruk tengkuk lehernya. Bisa-bisanya dia membuat tanda merah di leher Airin dengan jelas.
"Yee, nih calon ponakan kamu mau ketemu kamu."
"Memang kakak udah hamil?"
"Revan." Alvin menepuk bahu Revan dan berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah. "Bagaimana aman terkendali?"
Revan mengangguk malu. "Aman."
"Sip!"
Kemudian mereka semua duduk di ruang tengah. "Kenapa Ayah sama Bunda bisa barengan Kak Ayla?"
"Jadi sebenarnya Ayah dan Bunda menginap di rumah Ayla, karena suami Ayla sedang keluar kota." kata Rili.
"Sekalian kasih waktu buat adek honeymoon." kata Ayla sambil tertawa. "Duh, kalau ketemu Airin pening aku seketika hilang. Hawa-hawa pengantin baru emang sejuk."
__ADS_1
"Hmm, Bunda, Ayah, aku dan Airin sudah memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri. Apa Ayah dan Bunda mengizinkan?" tanya Revan.
"Ya, tidak apa-apa kalau itu keinginan kalian. Besok kita bantu berkemas. Kamu butuh apa aja, bilang sama Ayah."
Revan menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Biar bisa bebas nih pengantin baru, takut suaranya kedengeran Bunda sama Ayah." Ayla masih saja menggoda Adiknya.
"Kak Ayla, ih, kayak Kak Ayla gak aja."
"Gak salah."
"Ayla, katanya capek. Ayo tidur sama Bunda." ajak Rili pada putri pertamanya.
"Yee, tidur sama Bunda lagi."
Alvin hanya menggelengkan kepalanya. "Ayla, nanti malam giliran Ayah yang tidur sama Bunda. Kamu sudah dua hari tidur sama Bunda."
"Iya kalau nanti ayang pulang." Ayla berlenggang masuk ke dalam kamar bersama Bundanya.
Sedangkan Alvin kini berdiri dan mengambil kunci mobilnya lagi. "Ya udah, Ayah mau ke kafe dulu."
"Iya Ayah."
Setelah Ayahnya keluar dari rumah. Airin menutup pintu rumahnya.
"Sayang kita lanjutkan yang tadi di kamar," bisik Revan yang sukses mendapat satu cubitan dari Airin.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya. Revan kini menjatuhkan tubuh Airin di atas ranjang.
__ADS_1
"Kali ini, kita tahan dulu suaranya."
Airin hanya tersenyum lalu melingkarkan tangannya di leher Revan.