Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Belum Bisa Memaafkan


__ADS_3

"Airin..." Melodi datang menjenguk Airin bersama Siska setelah pulang sekolah. Tentu saja ada Revan juga yang datang ke rumah Airin.


"Ai, udah jangan terlalu mikir masalah itu. Semua udah diklarifikasi. Besok kamu masuk aja, kan sebentar lagi kita udah UAS. Akhirnya kita otw kelas 12." kata Melodi yang kini duduk di sebelah Airin.


"Iya, aku besok udah masuk sekolah." Kemudian Airin menatap Revan yang duduk lumayan jauh darinya. "Makasih ya, Van. Udah banyak bantu masalah ini."


"Iya, sama-sama," kata Revan sambil tersenyum.


"Ih, kita jadi kayak obat nyamuk di sini."


"Apaan sih, gak papa. Hmm, Mel, gimana perasaan kamu waktu lihat video itu?" tanya Airin. Dia takut jika Melodi juga kecewa denhan dirinya. Mungkin saja Melodi masih ada rasa cemburu.


Melodi menatap Airin, sebenarnya dia sangat kasihan dengan Azka. Dia mendengar sendiri, Azka menyalahkan dirinya sendiri, bahkan Azka siap menanggung hukuman padahal semua itu bukan salah Azka sepenuhnya.


"Kalau kalian mau mengobrol, aku tunggu luar saja." Revan berdiri dan berjalan keluar lalu duduk di teras rumah Airin sambil memainkan ponselnya.


"Revan pengertian banget. Kamu nanyain perasaanku, apa kamu sudah tanya perasaan Revan gimana? Dia pacar kamu, dia jelas sakit hati dengan masalah. Pasti dalam hatinya dia masih gak rela kalau kamu sama Azka." jelas Melodi.


Airin menganggukkan kepalanya. "Dia lihat sendiri waktu nolong aku, dia marah banget sama Azka. Untunglah dia masih bisa mengerti aku dan bantu masalah aku."


Melodi menyipitkan matanya saat melihat tanda merah yang masih membekas di leher Airin. "Ini bekasnya?" Melodi akan menyentuh leher Airin tapi ditepis oleh Airin.


Seketika Airin menutup lehernya dengan rambut panjangnya. "Iya, bekas Azka."


"Aduh, aku gak bisa bayangin Azka ngelakuin itu sama kamu." Melodi memegang kepalanya sendiri. Jika hal itu dilakukan atas dasar cinta dan sama suka pasti sangat nikmat tapi jika dipaksa seperti itu pasti Airin masih trauma.


"Aku sebenarnya kasihan sama Azka, ini juga bukan mau dia. Tapi aku trauma banget. Mulai sekarang aku gak bisa dekat dengan Azka lagi. Aku takut dengan sisi lain Azka." Masih jelas diingatannya tatapan mata Azka yang penuh nafsu dengan deru napas yang berat.


"Iya, kalau aku jadi kamu pasti aku juga trauma," kata Siska.


Kemudian Melodi dan Siska kini asyik bercerita sedangkan Airin merasa ada yang hilang. Rasanya memang ada yang berbeda ketika Azka tidak ada di antara mereka. Tapi jika membayangkan kejadian semalam, dia masih takut dengan Azka.


Revan kini meluruskan pandangannya saat ada sebuah motor berhenti di teras rumah Airin. Seketika Revan berdiri dan menghampirinya. "Mau apa lo?" tanya Revan.


Azka membuka helmnya dan turun dari motornya. "Aku mau minta maaf sama Airin."


"Gak perlu. Udah sana lo pulang!" usir Revan.


"Gue mau bicara sama Airin." Terjadi saling dorong antara mereka berdua hingga akhirnya Airin keluar dari rumah.


"Azka."

__ADS_1


"Ai," Azka segera mendekati Airin. "Aku mau minta maaf sama kamu."


Airin kini bersembunyi dibalik tubuh Revan. Bayangan semalam terlintas lagi dalam ingatan Airin. "Azka, aku gak mau ketemu sama kamu," kata Airin dengan suara yang bergetar karena rasa takut.


"Ai, iya aku gak akan mendekati kamu lagi tapi tolong kamu maafkan aku. Aku mohon."


Airin hanya terdiam.


"Azka, lo pergi! Lo gak lihat, Airin ketakutan gini. Dia masih butuh waktu untuk melupakan perbuatan lo semalam."


Azka menghela napas panjang. "Sekali lagi aku minta maaf, Ai. Iya, aku akan pergi." Lalu dia membalikkan badannya dan kembali menaiki motornya. Setelah memakai helmnya, motor Azka melaju meninggalkan halaman rumah Airin.


"Ai, jangan takut."


Airin menganggukkan kepalanya sambil menggeser kakinya di sebelah Revan. "Aku masih trauma lihat Azka. Padahal aku udah berusaha lupain tapi gak bisa."


"Iya, pelan-pelan saja. Kamu istirahat saja ya, aku mau pulang."


"Iya Ai, kita juga mau pulang," kata Melodi dan Siska yang baru keluar dari rumah Airin.


"Kalian gak makan dulu?" tanya Airin.


"Makasih ya semua."


"Iya, kita udah pamit sama Bunda di dalam. Da..." Melodi mulai melajukan motornya meninggalkan Revan dan Airin.


"Ai, kamu senyum dong. Jangan sedih terus gini." Revan mengusap pipi Airin sesaat lalu mengajaknya duduk di teras rumah. "Aku punya kabar spesial buat kamu, yang lain belum ada yang tahu."


"Apa?"


"Setelah kita UAS nanti, sekolah kita akan adakan camping, khusus untuk anak kelas sebelas."


Seketika Airin tersenyum. Karena sudah hampir dua tahun dia tidak camping bersama teman-temannya, pasti sangat seru. Apalagi sekarang ada Revan yang pasti akan menemaninya.


"Beneran?"


Revan menganggukkan kepalanya. "Besok baru ada pengumumannya tapi kali ini kita ke hutan, lumayan jauh dari kota. Kita di sana selama tiga hari dua malam. Proposal pengajuan sudah disetujui, sudah ada pembentukan panitia, tinggal pengumpulan dana dan persetujuan dari para wali murid."


Airin masih tersenyum dengan mata berbinarnya.


"Sudah ya, jangan sedih lagi. Belajar yang rajin biar nilai UAS kamu memuaskan. Sebentar lagi kita sudah kelas dua belas," kata Revan sambil mengusap puncak kepala Airin.

__ADS_1


"Oke. Tapi nanti bantu aku belajar ya."


"Siap! Kapanpun kamu butuh, aku selalu bisa."


Mereka saling pandang beberapa saat lalu tersenyum kecil.


"Revan masih ada di sini." Rili keluar dari dalam rumah dan menghampiri mereka berdua. "Makan dulu yuk di dalam. Tadi Melodi sama Siska gak mau makan, malah langsung pulang."


"Iya Tante terima kasih, saya permisi dulu saja." Revan berdiri yang diikuti oleh Airin.


"Ih, ayo." Airin menarik tangan Revan agar masuk ke dalam rumah.


Rili hanya tersenyum menatap putrinya. Saat melihat mereka berdua, Rili jadi teringat sewaktu dia masih muda dulu. Masa-masa itu memang tidak terulang lagi tapi dia kini memiliki tanggung jawab untuk mengawasi putri-putrinya.


Mereka semua kini duduk di ruang makan dengan makanan yang tersedia di atas meja makan. "Jangan sungkan-sungkan, makan yang banyak."


"Iya, jangan sungkan-sungkan." Airin mengambilkan nasi untuk Revan satu piring penuh.


"Ai, itu kebanyakan."


Airin justru tertawa kecil. "Biar makannya lama dan kenyangnya sampai besok."


Jawaban Airin membuat Bundanya tertawa.


"Ai, biar aku ambil sendiri."


Airin tak mendengar cicitan Revan. Dia kini meletakkan satu piring penuh nasi beserta lauknya.


"Kamu tenang saja, pasti habis. Soalnya ini masakan Ayah." kata Airin sambil mengisi piringnya sendiri dengan nasi dan lauk.


"Airin memang masakan Bunda gak enak ya?" goda Rili pada Airin.


"Bukan gitu, ih, Bunda."


"Iya, iya, Bunda bercanda. Kamu juga makan yang banyak mumpung ada yang nemenin." Rili masih saja tersenyum saat melihat Airin makan dengan lahap.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2