
"Revan dimana?" tanya Pak Satya yang kini mencari keberadaan Revan karena acara pembuka di sore hari itu akan dimulai.
"Tidak ada, Pak. Dari tadi saya juga tidak melihat Azka setelah memasang tenda," kata Tomi. Sedari tadi dia juga mencari Azka tapi tidak ketemu juga meski sudah berkeliling.
"Pak, Airin dan Melodi juga tidak ada," lapor Siska. "Terakhir mereka izin ke toilet tapi sampai sekarang mereka belum kembali."
"Apa mereka ikut ke sungai?" tanya guru lain.
"Tidak, kami tidak melihatnya."
"Apa jangan-jangan mereka mojok ya?"
"Ke villa mungkin."
"E buset, villa di sini jauh banget kalau jalan kaki sampainya bisa besok pagi."
"Lalu mereka kemana?"
Mereka semua kini bertanya-tanya.
"Kalian cari di sekitar perkemahan dulu. Jika memang mereka tidak ada, Bapak akan lapor ke pos keamanan agar mencari keberadaan mereka," perintah Pak Satya.
"Baik, Pak."
Kemudian mereka semua mencari keberadaan Revan, Azka, Airin dan Melodi.
...***...
Revan kembali meraih tubuh Airin dan memeluknya. Dia berusaha untuk menenangkannya. "Kita pasti bisa keluar dari sini."
Azka mengalihkan pandangannya dari Revan dan Airin. Meski dia sudah bisa menerima hubungan mereka berdua, tapi tetap saja setengah hatinya masih terluka.
"Hari sudah mulai sore. Gimana? Kita jalan lagi?" tanya Azka sambil menatap langit yang mulai berwarna orange.
"Ai, kita jalan lagi ya."
Airin menganggukkan kepalanya. Lalu mereka semua berdiri dan berjalan menyusuri hutan itu. Tapi tetap saja yang mereka jumpai hanyalah pohon-pohon besar tanpa tahu dimana posisi mereka.
Hihihihi.
__ADS_1
Airin bergidik ngeri mendengar suara tawa itu. Dia berusaha untuk tidak menoleh tapi suara tawa itu semakin keras.
"Aaa..." Airin semakin memegang erat lengan Revan saat dia melihat sosok berambut panjang yang duduk di dahan.
"Ai, tenang. Kalau kamu takut tutup mata kamu." Revan semakin mendekap Airin saat berjalan. Dia tidak tahu apa yang dilihat Airin. Dia hanya bisa berusaha menenangkan Airin.
Tiba-tiba saja ada yang mencekal kedua kaki Airin dan Revan hingga mereka jatuh terjungkal ke tanah.
"Aw!"
Meskipun kaki Revan juga terasa sakit tapi dia segera bangun dan membantu Airin.
"Kalian gak papa?" tanya Melodi dan Azka yang ikut membantu mereka berdiri.
"Tadi ada apa di tanah?" Revan melihat tanah yang berumput itu datar, tidak ada batu ataupun akar pohon. "Ai, kaki kamu gak papa?" tanya Revan yang kini melepas sepatunya karena terasa sakit di tambah banyak pasir yang masuk ke dalam.
"Gak papa. Cuma sakit sedikit." jawab Airin. Dia membenarkan tali sepatunya yang terlepas.
"Kalau kita gak bisa keluar dari hutan ini, terpaksa kita harus bermalam di sini." Azka menghela napas panjang sambil melihat langit yang mulai menghitam.
Melodi kini mendekati Azka. "Ka, yang bener aja. Kita tidurnya gimana? Di sini pasti gelap banget. Kalau ada ular atau hewan lainnya gimana?"
"Aku bawa korek nanti kita buat api unggun kecil-kecilan. Ya kalau memang kita gak bisa keluar dari hutan mau gimana lagi. Semoga saja ada yang menemukan kita secepatnya." Azka mengeluarkan satu gelas kecil air mineral yang ada di kantongnya. "Ada satu gelas kecil air minum kalau kalian ada yang haus."
Revan masih membersihkan kakinya dari pasir yang menempel di telapak kakinya. Tiba-tiba dia melihat ular yang merayap menuju kaki Airin. "Ai, ada ular."
Airin tercekat saat melihat ular itu semakin dekat dengan kakinya.
Revan segera menarik Airin menjauh dari ular itu tapi nahas kaki Revan justru menginjak ular lain, dengan cepat ular itu menggigit kaki Revan yang tidak memakai sepatu itu.
"Arrgghh!!!" Revan meringis kesakitan sambil membungkuk.
Azka segera mengambil ranting yang panjang lalu menyingkirkan dua ular itu.
"Revan, kaki kamu." Airin menatap nanar kaki Revan yang membekas dua taring ular itu.
Azka melepas syal Airin lalu mengikat pergelangan kaki Revan agar racun tidak cepat menyebar ke tubuh Revan.
"Ada yang bawa kain atau sapu tangan? Ular itu bukan ular mematikan tapi tetap saja ada efek dari gigitan itu," kata Azka sambil melihat luka Revan.
__ADS_1
Melodi menyerahkan slayer yang ada di kantong jaketnya pada Azka
Azka menundukkan kepalanya dan akan menghisap racun itu.
"Azka gak usah!" Revan menahan bahu Azka, karena dia merasa tidak enak jika Azka harus menghisap luka di kakinya.
"Gue gak mungkin biarin lo mati di sini!" Azka segera menghisap racun dari gigitan ular itu. Meskipun dia tidak tahu apa yang dilakukannya berhasil atau tidak, yang penting dia sudah berusaha. Dia ludahkan darah yang terasa pahit itu beberapa kali. Setelah darah berhenti mengalir, Azka mengambil air mineralnya dan berkumur sampai memuntahkan air liur yang ada di tenggorokannya agar racun itu tidak masuk ke tubuhnya juga.
Airin segera membalut luka Revan dengan slayer milik Melodi dengan tangan yang bergetar. Di dalam hatinya, dia masih saja menyalahkan dirinya sendiri. Air mata itu tanpa sadar menetes. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Revan? Apa Revan sanggup bertahan sampai mereka keluar dari hutan?
"Jangan nangis." Revan menghapus air mata Airin. "Aku gak papa."
Azka melihat sekitar, masih ada beberapa ular yang berada di ranting pohon. "Kita pergi dari sini! Sepertinya di sini sarang ular." Azka segera menarik tubuh Revan agar berdiri lalu memapahnya.
Airin dan Melodi berjalan berdempetan sambil bergandengan tangan di belakang mereka. Tak lupa satu sepatu Revan dibawa Airin.
Setelah berjalan lumayan jauh, mereka masih tidak menemukan jalan keluar. Hari juga sudah mulai gelap.
"Hari udah mulai gelap. Kita cari tempat yang luas dan datar untuk bermalam," kata Azka. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat yang dimaksud.
"Lepaskan!" Tiba-tiba ada yang menarik kaki Airin hingga dia terseret ke tepi jurang. Melodi yang menahan tubuh Airin juga ikut terseret.
"Airin!" Melodi berusaha menarik tangan Airin dengan kuat.
"Ai," Azka dan Revan segera mendekati Airin.
Kaki Airin semakin kuat ditarik untuk jatuh ke jurang. Azka dan Revan ikut menahan tubuh Airin dengan kuat.
"Kalian lepaskan aku! Mereka menginginkan aku, bukan kalian. Kalian pergi dari sini!" teriak Airin. Dia sudah pasrah dengan hidupnya.
"Gak akan! Kita gak akan ninggalin kamu sendirian di sini."
Kini bukan hanya ada tarikan di kaki Airin tapi makhluk-makhluk itu juga mendorong mereka semua jatuh ke dalam jurang.
Tubuh mereka berguling masuk ke dalam jurang yang cukup dalam.
"Airin..." Satu tangan Revan berusaha meraih tangan Airin yang tak sadarkan diri.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...