
Airin melebarkan matanya menatap Siska. "Gak mungkin!" Penampakan wanita yang mengerikan itu kembali muncul di dekat Siska.
Airin mengalihkan pandangannya dan menutup wajahnya di atas meja. Apa yang dilihatnya kali ini benar-benar menakutkan. Auranya sangat gelap dan penuh dendam.
"Ai, kenapa?" tanya Revan sambil menepuk bahu Airin.
Airin membuka wajahnya dan mengusap pelipisnya yang berkeringat. Dia menoleh Revan sesaat. "Aku gak papa." Kemudian dia kembali menundukkan pandangannya.
Kenapa lagi-lagi aku bertemu dengan makhluk tak kasat mata itu? Aku capek dengan misteri ini. Kapan mata batin aku tertutup lagi?
Beberapa saat kemudian, pelajaran pun dimulai. Airin sama sekali tidak mau menatap Siska. Dia sangat takut dengan sosok menyeramkan itu.
***
Sepulang sekolah, Ria masih saja menjahili Siska. Dia tertawa di belakang Siska dengan teman-temannya melihat kertas yang sengaja dia tempel di punggung Siska.
"Gue si cupu." Mereka masih saja tertawa yang membuat Siska bingung.
Revan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ria yang semakin hari semakin menjadi. Sudah dia tegur, sudah dia laporkan ke bagian kesiswaan juga, tapi dia masih saja belum berubah.
Revan mencabut kertas itu lalu merematnya dan membuangnya ke tempat sampah. "Sudah aku bilang! Jangan berbuat ulah lagi."
"Pak ketos marah oey."
Siska meraba punggungnya sesaat lalu menatap Revan yang berlalu begitu saja.
"Ai, kamu dijemput?" tanya Revan sambil berjalan sejajar dengan Airin.
"Iya. Aku dijemput," jawab Airin sambil menoleh Revan yang berjalan di sampingnya.
"Ai," Airin menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan Azka. "Botol minum kamu ketinggalan." Azka memberikan botol minuman Airin yang tertinggal di dalam kelas.
"Oiya, aku lupa. Makasih ya." Airin mengambil botol minuman itu lalu memasukkannya ke dalam tas.
Azka kini ikut berjalan di samping Airin.
Airin melirik Revan sesaat lalu melirik Azka. Dia menghela napas panjang lalu mempercepat langkah kakinya. "Aku duluan ya."
"Ai, tunggu!" Revan menahan tangan kanan Airin sedangkan Azka menahan tangan kiri Airin.
Dengan cepat Airin menarik kedua tangannya. "Kalian kenapa sih?" Airin kembali melangkahkan kakinya cepat.
"Ai, tunggu dulu!" Azka menyusul langkah Airin lalu melepas jaketnya yang masih terpasang di pinggang Airin. "Jaket aku."
"Biar aku cuci dulu. Kotor." Airin menahan tangan Azka saat akan mengambilnya.
__ADS_1
"Gak papa." Azka tetap melepasnya lalu memakai jaketnya. "Soalnya aku langsung jemput nyokap dulu ke pasar. Gak enak kalau cuma pakai seragam."
"Makasih ya," kata Airin.
"Oke."
Kemudian Airin berpisah dengan Revan dan Azka di tempat parkir. Airin kini menunggu Ayahnya di dekat pos satpam.
Andai saja aku seperti dia, yang cantik dengan rambut lurus terurai dan terawat. Siska terus menatap Airin yang berdiri di dekat pos satpam. Bagaimana ya rasanya diperhatikan cowok seperti itu? Dua cowok itu sangat tampan.
"Siska!" Airin memanggil Siska yang termenung menatapnya.
Karena Siska tak juga mendengarnya, akhirnya Airin menghampirinya. "Rumah kamu dimana?" tanya Airin.
Akhirnya Siska tersadar dan menatap Airin. "Rumah aku di jalan Nakula."
"Jadi rumah kamu di daerah situ. Kebetulan searah dengan rumah aku. Bareng yuk kalau kamu belum dijemput," tawar Airin.
"Hmm, tapi aku.."
"Udah, ayo gak papa." Airin menarik tangan Siska agar mengikutinya. Kebetulan sekali Ayahnya sudah datang menjemputnya.
Airin membuka pintu mobil Ayahnya dan masuk ke dalam mobil bersama Siska. "Ayah, ke jalan Nakula dulu ya, antar Siska."
"Iya, Om," jawab Siska sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru mobil. Selama ini dia hanya beberapa kali naik mobil mewah seperti itu. Beruntungnya, sudah kaya, cantik, banyak yang suka. Kapan ya, aku berada di posisi seperti itu.
"Ayah, Kak Ayla belum pulang?" tanya Airin. Karena biasanya Ayahnya memang menjemput Ayla terlebih dahulu.
"Belum pulang. Kak Ayla mulai ada bimbel. Biar dia pulang sama Kak Arsyad saja." Tanpa sengaja Alvin melihat lutut putrinya yang terplester dari rear spion. "Airin, lutut kamu kenapa?"
"Tadi jatuh. Gak papa, cuma luka kecil."
"Kamu harus lebih hati-hati. Akhir-akhir ini kamu seringkali terluka loh."
"Iya, Ayah. Airin gak papa. Ini cuma luka kecil."
Siska hanya menundukkan pandangannya. Ketika dia melihat seorang anak yang sangat dekat dengan Ayahnya. Dia merasa iri, bahkan dia sama sekali tidak tahu bagaimana wajah Ayahnya. Ibunya juga telah tiada saat dia baru berusia 1 bulan.
"Siska, kapan-kapan main ke rumah aku ya," ajak Airin saat Ayahnya sudah menghentikan mobilnya di depan gang rumah Siska.
"Iya, makasih ya Airin. Om."
"Iya."
Kemudian Siska keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gang itu. Hanya melewati dua rumah, Siska sampai di rumahnya yang sederhana dan kecil. Lalu dia masuk ke dalam rumah. Ada neneknya yang sedang menjahit di ruang tengah.
__ADS_1
Kemudian Siska menghampiri neneknya dan mencium punggung tangannya.
"Siska, bagaimana sekolahnya hari ini?" tanya Nenek Titik pada cucu kesayangannya itu.
Siska hanya tersenyum kecil. "Baik, Nek."
"Tidak ada yang membully kamu seperti di sekolah lama kan?" tanya Nenek Titik lagi, karena di sekolah lama Siska, banyak yang membully dia habis-habisan hingga membuat Siska takut untuk bersekolah.
Siska menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak mungkin menceritakan hari yang buruk itu pada neneknya. Selama ini yang merawatnya hanyalah neneknya seorang diri.
"Aku lelah dengan semua ini. Ibu, tolong peluk aku sebentar saja." Siska menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Lalu dia memejamkan matanya. Hanya beberapa detik. Dia kembali membuka matanya dengan lebar.
Kemudian dia turun dari ranjang dan menatap dirinya di cermin. Dia buka kacamatanya dan juga ikatan rambutnya.
"Kamu cantik! Mulai besok, kamu akan berubah!"
***
Airin berjalan seorang diri di sebuah gang yang sangat gelap. Dia tidak tahu harus kemana?
"Airin..." Terlihat Revan mengulurkan tangannya, saat dia akan meraihnya. Tiba-tiba dia pergi bersama perempuan lain.
Airin berusaha mencari jalan lain, saat dia melihat Azka dan akan meraih tangannya, Azka juga pergi.
Airin memutar tubuhnya. Dia tidak tahu lagi harus pergi kemana. Dia hanya seorang diri di tempat itu.
Beberapa saat kemudian, dia terbangun dari tidurnya saat alarmnya berbunyi. "Sudah jam 4 pagi."
Airin menghapus pelipisnya yang berkeringat lalu meregangkan otot-ototnya sesaat.
"Mimpi yang sangat aneh. Apa maksudnya? Apa Revan dan Azka akan ninggalin aku?"
Airin mengernyitkan dahinya lalu dia mengambil ponselnya. Semalam ada ucapan selamat malam dari mereka berdua di chat whatsapp nya.
"Apa aku harus menentukan pilihan? Tapi kan Revan gak ungkapin perasaannya. Aku aja yang kebaperan. Sedangkan Azka, kita hanya sahabat, aku juga gak bisa jauh dari dia."
Airin menghela napas panjang. "Udahlah, mungkin saja itu hanya mimpi."
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1