
"Apa nih?" tanya Airin sambil mengambil kado itu dari tangan Revan.
Revan mengangkat kedua bahunya, "Tadi ada anak kelas sepuluh yang kasih itu."
"Aku buka ya?" tanya Airin lalu dia duduk di samping kelas. Bukan Revan yang penasaran tapi Airin. Dia membuka pita berwarna merah itu, lalu membuka kotak kecil itu. Ada sebuah jam tangan laki-laki yang berwarna hitam dan sepucuk surat.
Airin membuka surat itu dan membacanya, "Buat Kak Revan, aku kasih jam tangan ini agar setiap Kak Revan mengingat waktu, Kak Revan juga mengingatku bahwa aku juga menunggu balasan dari Kak Revan. Aku suka Kak Revan sejak pertama kali bertemu. Putri."
Airin semakin tertawa. "Ciee, ada fans baru."
"Ai, udah masukin lagi. Biar nanti aku kembalikan." kata Revan sambil memasukkan kembali jam dan surat itu.
"Udah dikasih, simpan aja. Nanti dia sakit hati."
"Itu namanya sama aja memberi harapan palsu. Kamu bawa aja. Nanti kalau ketemu dia kamu kembalikan." Revan kembali menutup kado itu dan menyerahkannya pada Airin.
"Putri yang mana? Aku gak tahu. Nama Putri kan banyak."
"Ya, aku juga gak begitu ingat wajahnya. Memang ada beberapa Putri sih di kelas sepuluh."
Airin menghela napas panjang lalu tertawa, "Aku kalah sama anak kelas sepuluh. Aku gak pernah kasih kado ataupun surat ke kamu."
Seketika Revan mencubit kecil hidung Airin. "Aku gak butuh kado. Udah jadi pacar kamu itu udah cukup."
Airin kini meletakkan kado itu di sebelahnya.
"Gimana Azka?" tanya Revan. Meski sebenarnya dia sudah mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Dia mau pinjam uang kafe nanti diganti dengan gajinya. Ya udahlah gak papa, yang penting dia mau ikut. Nanti biar diatur sama Ayah."
"Aku sebenarnya udah gak mau ikut olimpiade itu. Biarkan saja Azka yang ikut. Biar Azka punya kesempatan untuk meraih impiannya. Dia juga berkesempatan mendapatkan beasiswa penuh di luar negeri."
"Memang kamu gak punya impian? Memang kamu gak ingin ikut olimpiade itu?"
Revan tersenyum kecil lalu dia meraih satu tangan Airin. "Ai, sebenarnya aku..." Revan menghentikan perkataannya.
"Sebenarnya kenapa? Kamu cerita saja."
"Ikut ataupun tidak ikut olimpiade itu, aku akan tetap kuliah diluar negeri. Itu udah menjadi keputusan Papa aku."
Airin menatap Revan. Jelaslah, Revan pintar dan juga kaya pasti dia akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri. "Ya gak papa, bagus dong."
"Tapi aku gak mau ninggalin kamu."
"Gak papa. Kita masih bisa LDR." Airin tersenyum untuk meyakinkan Revan.
__ADS_1
Revan menghela napas panjang lalu tersenyum. Dia usap puncak kepala Airin.
"Kamu mau kan menunggu aku?"
"Iya, pasti." Airin tersenyum sambil menatap kedua mata Revan. Perjalanan mereka masih panjang, entah apa yang terjadi selanjutnya mereka hanya bisa berencana.
Kemudian Revan berdiri dan menarik tangan Airin. "Ikut aku sebentar."
"Kemana?" Airin mengikuti tarikan tangan Revan. Langkah mereka kini berhenti di belakang kelas yang sepi. "Mau apa?"
Revan semakin tersenyum penuh arti. Dia tangkup kedua pipi Airin lalu mendekatkan wajahnya.
Airin hanya bisa pasrah. Dia kini memejamkan matanya saat merasakan bibir Revan menyentuh bibirnya, menyapunya dengan lembut dengan hisapan kecil.
Mereka saling menikmati sedikit kenakalan mereka, sebelum akhirnya pagutan itu terlepas saat bel masuk telah berbunyi.
Revan mengusap bibir Airin yang basah karenanya. "Maaf, nakal dikit. Jangan bilang Ayah kamu ya." goda Revan sambil tersenyum.
"Ih, kalau Ayah tahu aku bisa di sidang. Ya udah yuk ke kelas."
Mereka berdua berjalan beriringan dengan senyum yang masih mengembang di bibir mereka.
...***...
"Ai, kamu hari ini dijemput?" tanya Revan.
"Iya, aku hari ini dijemput."
Revan mengambil tasnya di laci tapi tanpa sengaja dia menjatuhkan barang dari lacinya. Kemudian Revan membungkuk mengambil barang itu.
"Kado yang tadi? Ai, kamu yang taruh kado ini di laci aku?" tanya Revan sambil menegakkan dirinya.
Seketika Airin menoleh Revan. Dia mengambil kotak kado yang ada di tangan Revan. "Aku lupa bawa, tadi ketinggalan di samping kelas F. Siapa yang taruh di laci kamu?" Airin menatap bingung kado itu. Mengapa tiba-tiba bisa ada di laci Revan? Dia mengambilnya dan membuka kado itu. Iya, itu kado yang dia tinggalkan tadi.
"Ya sudah, biar aku bawa dan kembalikan. Siapa tahu aku ketemu pas pulang sekolah nanti."
Perasaan Airin tiba-tiba tidak enak. Dia hanya menatap Revan yang sedang memasukkan kado itu ke dalam tasnya.
"Kenapa? Kamu percaya kan sama aku?" Revan bisa menangkap ada sesuatu di tatapan Airin. Dia urung memasukkan kado itu.
"Aku percaya sama kamu. Kamu kembalikan saja."
Revan akhirnya memasukkan kado itu ke dalam tasnya kemudian mereka berjalan keluar dari kelas.
"Van, aku udah dijemput. Aku duluan ya. Kamu hati-hati." Airin melambaikan tangannya saat melihat mobil Ayahnya sudah berhenti di depan gerbang.
__ADS_1
"Iya, kamu juga hati-hati."
"Van!"
Panggilan itu menghentikan langkah Revan. Ada Pak Widodo yang memanggilnya. Lalu dia mendekati Pak Widodo. "Ada apa, Pak?"
"Kamu bantu atur proposal pemilihan ketua OSIS baru ya."
Revan menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam ruang OSIS. Dia kini duduk di depan komputer untuk membuat proposal itu.
Hingga dua jam telah berlalu, akhirnya proposal itu selesai.
"Sudah selesai. Makasih ya. Kamu pulang saja sudah sore."
"Iya Pak." Revan memakai tasnya lalu keluar dari ruang OSIS menuju tempat parkir. Sekolah sudah sangat sepi. Hanya ada tiga sepeda motor dan dua mobil.
Revan segera memakai helmnya lalu menaiki motornya. Beberapa saat kemudian dia mulai melajukan motornya keluar dari gerbang sekolah.
Baru saja keluar dari gerbang, Revan melihat Putri yang sedang berjalan pelan di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang Revan menghentikan motornya di dekat Putri. Dia membuka kaca helmnya lalu turun dari motornya.
"Putri ya?" tanya Revan memastikan sekali lagi.
Putri menganggukkan kepalanya. Dia hanya diam menatap Revan dengan tatapannya yang kelam.
Revan membuka tasnya dan mengeluarkan kado itu, "Maaf, aku gak bisa terima ini dari kamu."
Putri menatap kado itu lalu dia mendorongnya lagi. "Gak papa, kalau Kak Revan gak bisa membalas perasaanku, cukup simpan ini saja."
"Tapi aku gak bisa."
"Gak papa. Ini memang buat Kak Revan." Kemudian Putri melanjutkan langkah kakinya.
"Kamu pucat sekali? Kamu sakit? Rumah kamu dimana? Ayo, aku antar pulang." tawar Revan. Dia tidak mungkin tega membiarkan Putri begitu saja.
Putri membalikkan badannya dan menatap Revan. Beberapa detik kemudian, dia mengangguk kaku. "Apa Kak Revan menolakku karena sudah punya pacar?"
💕💕💕
.
Jadi ingat waktu aku SMA dulu.. ðŸ¤
.
Like dan komen ya...
__ADS_1