Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
ke Rumah Revan


__ADS_3

Revan menghentikan motornya di depan rumahnya. Tapi Airin tak juga turun dari boncengan Revan.


"Van, aku malu." kata Airin karena ini pertama kalinya dia datang ke rumah Revan.


"Gak papa. Kalau gak sama kamu, aku gak bisa jelaskan ke kakek. Aku juga sudah dapat info dari Pak Umar dimana letak makam Esmee."


Airin akhirnya turun dari motor Revan. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah yang terbuka itu.


"Revan, kok pulang cepat?" tanya Alea menyambut kedatangan mereka berdua.


Airin mencium tangan Mamanya Revan lalu dia duduk di sofa setelah dipersilakan.


"Ada sedikit masalah di sekolah, Ma. Kakek dimana? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada kakek."


"Kakek lagi sama kakak kamu di ruang tengah."


Revan mengajak Airin masuk ke ruang tengah tapi Airin menahan langkahnya. "Van, aku malu."


"Airin gak papa. Masuk saja. Anggap saja rumah sendiri." Senyum ramah Alea mengembang. Rupanya anak bungsunya memang sudah dewasa dan sangat mencintai pasangan yang dia pilih sendiri.


Airin akhirnya mengikuti langkah Revan. Di ruang tengah ada kakeknya Revan yang sudah terlihat tua dan juga ada dua kakak laki-laki Revan.


"Revan, kamu sudah pulang? Bawa siapa itu?"


"Ini Airin, Kak." Revan memberi tempat duduk pada Airin di sampingnya. "Kakek." Revan mencium punggung tangan kakeknya lalu memperkenalkan Airin. "Kakek ini Airin."


Airin hanya tersenyum sambil bersalaman dengan kakeknya.


"Pintar juga kalau milih cewek." celetuk Raffa, kakak kedua Revan.


"Kamu boleh pacaran tapi ingat gak boleh sampai kebablasan kayak Raffa." kata Reka kakak pertama Revan.


Sedangkan Raffa yang dibicarakan hanya tertawa.


"Iya, Kak. Pasti." Kemudian Revan beralih menatap Kakek Marko. "Hmm, Kek. Selamat ulang tahun ya. Aku punya satu hadiah spesial buat kakek."


"Apa?" Kakek Marko menatap Revan dengan mata berbinarnya. Karena Revan memang cucu kesayangannya yang sering menemaninya bercerita.


"Sebentar menunggu Papa pulang dulu. Papa pulang jam berapa, Kak?"


"Sebentar lagi," jawab Reka. "Memang mau kemana?"


"Surprise." Kemudian Revan menatap Airin. "Ai, kita makan dulu ya."


Airin hanya tersenyum kecil. Rasanya dia masih malu dan canggung berada di tengah-tengah keluarga Revan.


"Iya, kalian makan dulu." kata Alea. "Kita semua sudah makan. Kalian makan saja berdua."

__ADS_1


"Ayo." Revan menarik tangan Airin karena dia tahu Airin pasti malu.


"Astaga, aku kalah sama anak SMA." kata Reka. Kakak pertama Revan memang masih belum menikah


"Makanya cepat cari jodoh, Kak." kata Revan sambil berlalu.


Airin masih saja tersenyum malu lalu melepas genggaman tangan Revan. "Ih, Revan malu," kata Airin lalu dia duduk di ruang makan bersama Revan.


"Ngapain malu. Nanti juga jadi keluarga kan."


Pipi Airin semakin bersemu merah mendengar hal itu. Semakin hari Revan semakin bisa membuat hatinya meleleh.


"Makan yang banyak. Karena kita berkeliling di zaman penjajahan tadi menguras banyak tenaga," kata Revan, dia kini mengambilkan Airin piring lalu mengisinya dengan nasi.


"Dikit aja," kata Airin karena piring itu diisi penuh oleh Revan.


"Gak papa. Makan yang banyak biar habisnya lama dan kenyangnya sampai besok."


Seketika Airin tertawa karena kata-kata itu yang dia ucapkan saat Revan makan siang di rumahnya. "Balas dendam nih ceritanya."


"Nggak. Aku cuma membalas cinta kamu."


Airin menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia memastikan tidak ada yang mendengar gombalan Revan itu. "Jangan gombal gitu." kemudian Airin memelankan suaranya. "Lagian ini di rumah kamu. Malu kalau ada keluarga kamu yang dengar."


"Iya." Revan mengusap puncak kepala Airin lalu mendekatkan piring Airin yang sudah penuh dengan nasi dan lauk. "Kamu makan. Dihabiskan ya."


"Hmm, kalau kamu bilang Esmee adalah ibu kakek kamu, apa kakek kamu percaya jika tanpa bukti," kata Airin.


Revan kini berpikir. Ya, benar juga apa yang dikatakan Airin. "Iya, aku ingat." Setelah menghabiskan makanannya dan minum air putih, Revan berdiri dan melangkah cepat menuju kamarnya.


"Yah, kok ditinggal." Airin menghabiskan minumannya. Dia bingung harus berbuat apa? Membereskan meja makan. Ya, sebagai calon menantu yang baik selesai makan harus dibersihkan seperti di rumahnya.


"Biar saya saja, Non." Baru juga Airin menumpuk piring, pembantu rumah Revan sudah membereskannya.


"Pacarnya Den Revan?"


Airin hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kalian berdua cocok sekali. Semoga berjodoh ya."


"Iya, amin." jawab Airin pelan.


Beberapa saat kemudian Revan keluar dari kamarnya dan kembali duduk di samping Airin. Dia menunjukkan sebuah album foto yang telah usang.


"Sebenarnya foto-foto di dalam sini mau aku edit dan beri warna tapi belum sempat. Ini peninggalan dari kakek buyut Aryo." Revan membuka album foto itu dan menunjukkan foto-foto kakek buyut Aryo yang berwarna hitam putih. "Ini kakek Aryo." tunjuk Revan pada salah satu foto itu.


"Iya, persis seperti yang kita lihat tadi."

__ADS_1


Kemudian Revan membalik halaman itu dan akhirnya dia menemukan satu foto yang dia cari. "Nenek Esmee. Ini kan?"


Airin mengamati foto itu. "Iya, dia Noni Belanda itu. Tapi kakek kamu beneran gak tahu tentang Esmee?"


Revan menggelengkan kepalanya. "Aku sempat tanya soal foto ini, katanya ini hanya Noni Belanda zaman dulu."


"Revan, katanya kamu cari Papa? Mau kemana? Mau melamar Airin?" goda Kevin. Dia baru saja pulang dan mengambil minuman lalu duduk di depan mereka.


"Papa, bukan itu. Aku mau kasih kejutan sama kakek." kata Revan sedangkan Airin hanya menundukkan pandangannya malu.


"Kejutan apa?"


"Aku sudah menemukan nenek buyut, Pa. Kita ajak Kakek ke makamnya ya."


"Nenek buyut? Ibunya kakek Marko?" tanya Kevin memastikan lagi.


Revan menganggukkan kepalanya.


"Kamu yakin? Bagaimana kamu tahu?"


"Aku dan Airin sudah melihat semua peristiwa itu."


"Meskipun ini janggal, tapi Papa percaya. Pasti kelebihan Airin yang menunjukkan semua kebenaran itu." kata Kevin yang memang sudah tahu tentang kekuatan indigo Airin.


"Iya, dan aku ingin masalah ini cepat selesai karena di sekolah banyak teman yang kesurupan. Oiya, Pa, nanti Paman Rendra ke sini kan? Aku ingin minta bantuan sama anak pondok untuk ikut kirim do'a bersama di sekolah."


"Iya, sebentar lagi pasti sampai. Ya sudah, Papa mau ganti baju dulu. Kalian juga ganti baju, biar gak pakai seragam sekolah." Kemudian Kevin berdiri dan memanggil istrinya.


"Ai, kamu ganti baju dulu ya." kata Revan.


"Aku pulang dulu?" tanya Airin.


Revan menggelengkan kepalanya. "Kamu sama Mama saja."


Beberapa saat kemudian Alea mengajak Airin masuk ke dalam sebuah kamar. "Kamu pakai bajunya kakaknya Revan saja ya."


"Revan punya kakak perempuan tante?"


"Punya. Tapi sekarang sudah tidak ada."


"Tidak ada?"


💕💕💕


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2