
Tiga tahun telah berlalu, Airin dan Azka akhirnya telah berhasil menyelesaikan skripsinya.
Airin menghela napas panjang setelah menyelesaikan sidang skripsinya hari itu. Angan-angannya untuk wisuda cepat akan segera terwujud.
Azka berjalan mendekat dan tersenyum melihat wajah tegang Airin. Dia kini duduk di samping Airin. "Selamat sudah berhasil menyelesaikan sidang dengan baik." Azka mengulurkan tangannya pada Airin untuk memberinya selamat.
"Iya, semoga kita wisuda bareng ya." Airin membalas jabatan tangan Azka. Mereka sama-sama tersenyum.
Beberapa tahun ini mereka memang melewati hari-hari dengan belajar dan bercanda bersama. Setidaknya rasa rindu pada Revan sedikit hilang saat Airin bersama Azka.
"Setelah kamu lulus kamu mau lanjut S2 atau kerja?" tanya Airin.
Azka menggandeng lengan Airin. "Aku bersyukur sekali satu per satu keinginan aku terwujud. Aku dapat beasiswa S2 di Inggris dan aku juga bisa masuk klub basket di Inggris."
Senyum Airin semakin merekah. Dia ikut bahagia mendengar kabar itu dari Azka. "Serius? Aku ikut senang dengarnya. Semoga kamu sukses ya di sana."
"Semua ini berkat dukungan kamu, Ai."
"Kamu udah sepantasnya mendapatkan itu semua. Karena kamu sudah berusaha dengan keras." kata Airin karena Azka memang benar-benar berusaha untuk meraih impiannya.
"Ai, besok kita kencan yuk?" ajak Azka.
"Kencan?"
"Iya, karena sebentar lagi Revan sudah kembali. Aku kan hanya pinjam kamu sebentar. Aku akan mengembalikan kamu sama Revan. Masa kontrak aku sudah habis." kata Azka sambil tertawa meskipun setengah hatinya terluka.
Jujur saja, sampai saat ini tidak ada yang bisa mengganti posisi Revan di hati Airin. Tapi kebersamaannya bersama Azka selama tiga tahun lebih ini, tentu akan meninggalkan banyak kenangan manis. "Terus kamu?"
Azka hanya tersenyum sambil mengusap puncak kepala Airin. "Kamu jangan memikirkan aku. Tugas aku menjaga kamu akan selesai. Kamu juga harus mendapatkan kebahagiaan kamu bersama Revan. Aku juga sudah melakukan tes DNA, lusa aku akan mengambil hasilnya. Semua telah tercapai, jadi aku bisa pergi dengan tenang."
Airin semakin menatap Azka, mengapa perasaannya tiba-tiba menjadi cemas setelah mendengar kalimat Azka yang terakhir. "Pergi dengan tenang? Jangan bilang gitu, ih."
Azka semakin tertawa dan mengacak rambut Airin. "Benar kan? Kalau Revan kembali, kamu udah bahagia dan ada yang menjaga kamu. Terus setelah tes DNA itu selesai, Ibu juga sudah tidak dituduh Ayah lagi. Setelah aku pikir-pikir, biarkanlah Ibu bersatu lagi dengan Ayah. Aku sudah memaafkannya meskipun sampai saat ini Ayah jarang banget pulang ke rumah. Apa yang aku dapat selama kuliah sudah lebih dari cukup buat aku. Ya, setelah ini aku bisa hidup dengan tenang."
"Aku selalu berdoa buat kamu, semoga nanti kamu semakin sukses."
"Amin." Azka menangkup kedua pipi Airin. Dia menatap dalam kedua bola mata yang berbinar menatapnya. "Setelah ini, aku akan benar-benar berhenti mencintai kamu."
__ADS_1
"Semoga kamu segera bertemu dengan seseorang yang benar-benar mencintai kamu juga."
"Iya, semoga saja." Azka semakin mendekatkan wajahnya. Entah kenapa dia sangat tertarik dengan bibir tipis itu.
"Kita cariin ternyata kalian mojok di sini."
Mendengar suara itu seketika Azka menjauhkan dirinya. Dia menyugar rambutnya untuk menghilangkan salah tingkahnya.
"Loh, Melodi kamu ke sini?" Airin menarik Melodi agar duduk di sampingnya. "Udah lama kita gak ketemu."
"Iya, aku sibuk banget." Melodi tertawa sesaat lalu berbisik pada Airin. "Aku ganggu kamu gak? Kalau ganggu kamu lanjut deh. Bibir Azka udah deket banget."
Seketika Airin mencubit pinggang Melodi. "Ih, jangan bahas itu. Kita ke kafe yuk. Kak Ayla hari ini dilamar." Airin mengajak Siska dan juga Melodi berjalan menuju tempat parkir.
"Kakak kamu lamaran kok kamu masih di kampus." kata Siska.
"Udah ah biarin. Habisnya aku iri. Kalau pacaran di umur udah matang langsung sat set gitu ya. Gak perlu ngerasain patah hati berulang." cerita Airin sambil menggandeng tangan Melodi dan Siska.
Sedangkan Azka kini berjalan di belakang mereka bertiga. Dadanya masih saja berdebar-debar membayangkan apa yang akan dia lakukan pada Airin barusan. Andai saja mereka tidak datang pasti dia sudah berhasil mencium Airin.
"Azka, kamu hari ini kerja kan di kafe?" tanya Airin sambil memakai helmnya.
"Iya, aku malah diwanti-wanti sama Ayah kamu suruh masuk kerja untuk menyambut tamu VIP," jawab Azka.
"Ya udah kita ke sana sekarang aja." Airin kini menaiki motornya.
"Hmm, Ai, jangan lupa besok ya, aku jemput kamu pagi-pagi." kata Azka. Dia kini juga memakai helmnya.
Airin hanya menganggukkan kepalanya.
"Siska, kamu bawa motor aku ya. Aku mau dibonceng Airin." kata Melodi yang tiba-tiba naik diboncengan Airin.
"Iya deh." Siska kini naik ke motor Melodi. Kemudian ketiga motor itu melaju meninggalkan kampus Airin.
Melodi memang sengaja naik ke boncengan Airin agar dia bisa mengobrol. Melihat motor Azka yang sudah melaju mendahului mereka, Melodi segera bergosip. "Ai, gimana hubungan kamu sama Azka? Udah serius?" tanya Melodi sambil mendekatkan wajahnya di telinga Airin agar Airin bisa mendengar suaranya.
"Ya biasa aja. Setelah lulus dia akan berangkat ke Inggris."
__ADS_1
"Loh, masa kontrak Azka sudah habis." Melodi tertawa cukup keras karena dia memang sudah tahu jika Azka dekat dengan Airin hanya untuk menjaga Airin selama Revan masih berada di luar negeri. "Pemilik aslinya bakal pulang makanya Azka lebih memilih ke luar negeri untuk mengalihkan patah hatinya."
Airin hanya menghela napas panjang. Dia fokus menatap jalanan siang hari itu.
"Sebelum dia pergi kasih kenang-kenangan gih. Kayak tadi kan udah deket banget, hampir bersentuhan," kata Melodi lagi.
"Ih, nggak ah."
"Kenapa? Tinggal rasain aja."
"Melodi, astaga, kamu banyak berubah ya. Udah kenal cinta jadi nakal kayak gini nih."
Melodi semakin tertawa di belakang Airin. "Cinta aku itu selalu gak mulus, Ai."
"Sabar ya, aku sendiri juga gak tahu bagaimana kelanjutan kisah cinta aku. Aku hanya menjalaninya apa adanya seperti ini. Entah nanti setelah Revan kembali apakah bisa sama seperti dulu atau tidak."
"Emang Revan benar-benar gak pernah kasih kamu kabar?"
Airin menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar lost contact dengan Revan. Entah Revan pernah pulang atau tidak, dia tidak tahu.
"Kamu masih cinta gak sama Revan?" tanya Melodi.
Airin tersenyum kecil. "Aku gak mungkin bisa melupakan Revan."
"Pasti Revan juga merasakan hal yang sama seperti kamu."
"Ya, semoga saja..."
💕💕💕
.
Like dan komen ya... ðŸ¤
.
Bulan depan aku usahain ada novelnya Ayla nih kakaknya Airin. Setelah itu ada novelnya Melodi juga. Banyak rencana tapi novel belum kelar-kelar.. 😂😂
__ADS_1