Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Masih Butuh Waktu


__ADS_3

"Ibu tenang saja, kejadian 18 tahun yang lalu tidak akan terulang pada Siska."


Nenek Titik membulatkan matanya mendengar kalimat itu. "Lisna!" Seketika Nenek Titik memeluk tubuh Siska. "Lisna, ibu sangat kangen sama kamu. Tapi tolong keluar dari tubuh Siska."


"Aku ingin menyatukan Siska dengan Ayahnya."


"Lisna, sudah kamu jangan mengungkit lagi Ayah Siska. Ibu gak mau Siska juga merasakan sakit hati."


"Dia masih mencariku, Ibu."


Di dapur, Azka mendengar semua obrolan mereka. Dia mengusap pelipisnya yang berkeringat.


Jadi, Siska dirasuki sama ibunya. Lalu maksudnya Ayah Siska, apa jangan-jangan...


"Azka, makan dulu yuk!" Siska tiba-tiba datang dan mendekatinya.


Dengan cepat Azka menggelengkan kepalanya. Sebelum dia terpengaruh, lebih baik dia keluar dari rumah Siska. "Aku pulang dulu ya." Kemudian Azka berjalan dengan cepat keluar dari rumah Siska.


Setelah berpamitan pada Nenek Titik yang ada di teras, buru-buru Azka menaiki motornya kemudian dia melajukan motornya meninggalkan rumah Siska.


Besok aku harus kasih tahu Airin tentang info ini. Mungkin saja dugaanku benar.


...***...


Berulang kali Revan berusaha menghubungi nomor Airin, tapi tetap saja sama, nomornya tidak terhubung sama sekali dengan nomor Airin. "Sepertinya nomor aku diblokir Airin."


Revan menghela napas panjang lalu duduk di dekat meja belajarnya. "Harusnya, aku tadi gak usah jujur sama Airin. Jelaslah, Airin tidak mungkin menerima aku secepat itu setelah kepergian Della."


Revan mengambil buku-buku matematikanya, lalu membuat ringkasan materi untuk Airin. Agar bisa Airin pelajari untuk persiapan olimpiade nanti.


Tak lupa juga dia menulis sebuah pesan di dalamnya karena Airin pasti masih belum mau mendengar penjelasannya. "Mumpung belum malam, biar aku antar ke rumahnya sekarang."


Revan mengambil jaket dan kunci motornya, lalu dia keluar dari rumah dengan membawa tas kecil yang berisi buku rangkuman materinya.


Setelah memakai helmnya, dia segera mengendarai motor sportnya. Beberapa saat kemudian motor itu melaju ke rumah Airin.


Semoga Airin mau menemui aku.


Beberapa saat kemudian dia menghentikan motornya di depan rumah Airin, kemudian dia turun dari motor dan melepas helmnya. Dia berjalan masuk ke teras rumah Airin lalu mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat itu. Beberapa saat kemudian Ayahnya Airin membukakan pintu untuknya.


"Revan, mau cari Airin?"


Revan menganggukkan kepalanya. "Iya Om, Airin ada?"


"Kamu masuk dulu, sebentar aku panggilkan." Alvin menaiki tangga dan memanggil Airin yang berada di kamarnya.

__ADS_1


Sedangkan Revan kini duduk di ruang tamu menunggu Airin.


Alvin masuk ke dalam kamar putrinya. Terlihat Airin sedang duduk sambil menatap layar laptopnya. "Airin, dicari Revan."


Seketika Airin menatap Ayahnya. "Ayah serius?"


"Iya, masak Ayah bohong. Tuh lagi duduk di ruang tamu, nunggu kamu. Temuin gih."


"Ayah, bilang Airin udah tidur," kata Airin sambil merebahkan dirinya dan menarik selimutnya.


"Airin, kasihan dia malam-malam ke sini tapi malah gak kamu temui. Kalau ada masalah bicarakan baik-baik."


"Nggak Ayah. Suruh pulang aja." Airin masih kekeh tidak mau menemui Revan.


"Kalau gitu biar aku aja yang nemuin," sahut Ayla yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka. Ayla berjalan menuju tangga tapi Airin menyusulnya dan menarik tangannya.


"Kak Ayla, jangan ih. Nanti Kak Ayla ngomong yang aneh-aneh." Airin menahan tangan Ayla agar tidak menuruni tangga.


"Iya dong, aku gak akan melewatkan kesempatan yang ada. Masak cowok ganteng dianggurin."


"Kak, ih, ya udah aku temui." Airin akhirnya turun ke bawah daripada kakaknya yang menemui Revan.


Ayla hanya tertawa. "Airin, nemuin cowok gitu aja repot banget sih. Kayak aku dong, langsung aku temui kalau ada cowok yang datang ke rumah. Kalau ada yang datang tapi sayangnya gak ada." Mirisnya, sampai sekarang tidak ada satu lelaki pun yang mendekati Ayla.


"Ih, Ayah, aku gak mau jadi chef." Alvin dan putri pertamanya kini masuk ke dalam dapur sambil mengobrol.


Sedangkan Airin dengan terpaksa menemui Revan. Dia kini duduk berjauhan dengan Revan dan hanya berdiam diri.


"Ai, maaf aku ganggu kamu." Revan mengambil bukunya dan dia letakkan di atas meja dekat Airin. "Di buku itu sudah aku tulis materi apa saja yang harus kamu persiapkan untuk mengikuti olimpiade."


Airin hanya terdiam dan menatap buku yang Revan letakkan di atas meja.


"Kalau kamu memang gak mau belajar sama aku, gak papa, kamu pelajari sendiri materi ini."


Airin masih saja terdiam.


Revan tidak bisa memaksa Airin untuk berbicara. Ya, mungkin saja Airin memang masih butuh waktu untuk sendiri. Semua ini memang salahnya. Dia yang tidak bisa mengerti bagaimana isi hati seorang perempuan.


"Ya sudah, aku mau pulang dulu. Salam buat Ayah kamu." Revan berdiri dan keluar dari rumah Airin karena Airin masih saja mendiamkannya.


Beberapa saat kemudian Bunda Rili datang sambil membawa minuman. "Loh, katanya ada Revan."


"Udah pulang, Bun." Airin berdiri dan melangkahkan kakinya menuju tangga tapi terhenti saat Ayla mengambil buku Revan yang dia tinggal di atas meja.


Ayla membuka buku itu dan menemukan surat dari Revan.

__ADS_1


"Airin, maafkan aku. Kalau kamu memang..."


Airin memutar langkahnya dan merebut buku serta surat itu tapi Ayla mengelaknya. "Kak, mana! Jangan dibaca!"


"Kamu gak mau baca kan? Makanya aku bacain. Tadi aja Revannya dikacangin."


"Aku gak bermaksud mengungkit masa lalu, tapi memang benar perasaan aku sama kamu..."


"Kak, ih, mana. Jangan dibaca." Kaka beradik itu kini berkejar-kejaran di dalam rumah.


"Astaga, Ayla, Airin, kalian udah besar. Udah jangan goda adiknya terus." teriak Alvin.


"Nih!" Ayla akhirnya memberikan buku dan surat itu pada Adiknya. "Udahlah, diterima aja. Lagian Della juga masa lalu, dia juga udah tenang di sana. Mikirin apa lagi sih, Dek."


"Ih, Kak Ayla kepo aja."


"Ayla, jangan pengaruhi adik kamu. Kalian gak boleh pacaran dulu," kata Alvin lagi.


Tapi Ayla justru merengkuh bahu adiknya dan menaiki tangga. "Dek, padahal Ayah sama Bunda itu pacaran sejak SMA. Jangan mau diakalin Ayah sama Bunda nanti kita rugi."


"Ayla, ngomong apa kamu!" teriak Alvin dari bawah saat mendengar obrolan putrinya.


"Ayla, Airin, makan dulu!" imbuh Rili.


"Iya, Bun sebentar lagi."


Alvin menghela napas panjang lalu duduk di sofa. "Dulu aku kira Ayla yang akan bandel berpacaran saat sekolah, makanya aku jadiin satu sekolah sama Arsyad biar ada yang mengawasi, tapi ternyata malah sebaliknya, Arsyad yang sering kena kasus pacaran. Dan Airin yang kalem justru dikejar-kejar cowok."


Rili tersenyum lalu duduk di sebelah suaminya. "Ya, tapi aku rasa mereka masih aman kok, Mas. Airin juga masih menjaga jarak dengan Revan maupun Azka."


"Iya, syukurlah tidak ada yang meniru kita dulu." kaya Alvin sambil tersenyum kecil.


Rili mencubit pinggang Alvin saat mengingat betapa nakalnya mereka waktu seumuran putrinya.


💕💕💕


.


Rili dan Alvin memang nakal banget waktu SMA... 😂😂😂


Ini kisahnya yang mau mampir...


👇👇👇


__ADS_1


__ADS_2