Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Makam Esmee


__ADS_3

"Tidak ada?" tanya Airin lagi.


Alea menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Iya, Rania meninggal tiga tahun yang lalu karena leukimia. Anak perempuan tante satu-satunya lebih dulu meninggalkan Tante." Alea kini duduk di tepi ranjang kamar putrinya. Kamar itu masih tetap sama seperti saat ditempati Rania dulu.


Airin kini duduk di samping Alea, "Maaf ya Tante. Tante jadi sedih."


"Tidak, Tante tidak sedih. Rania sekarang sudah tidak merasakan sakit di sana dan sekarang Tante juga sudah punya anak perempuan juga. Istri Raffa, dan juga calon istri Reka dan Revan nanti." Alea mengusap rambut panjang Airin. "Dulu Rania pergi meninggalkan Tante waktu SMA kelas tiga, seumuran kamu. Bajunya masih banyak di lemari. Kamu pilih saja ya."


"Iya, tante." Airin menganggukkan kepalanya.


Alea masih saja mengusap rambut Airin sambil tersenyum. "Revan nakal gak sama kamu?"


Airin menggelengkan kepalanya. Nakal yang seperti apa? Airin tersenyum kecil dalam hatinya, Revan memang nakal saat berpacaran. Apalagi sejak tahu rasanya ciuman.


"Kalau dia menyakiti kamu, bilang ya sama tante."


Airin hanya menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, kamu ganti baju dulu. Katanya mau ke makam ya?"


Airin menganggukkan kepalanya lagi. "Iya, saya dan Revan sudah tahu tentang nenek buyut, maksudnya ibunya Kakek Marko."


"Nenek? Pasti Papa senang sekali akhirnya tahu tentang ibunya. Kamu hebat ya bisa mengetahui banyak hal. Ya sudah, tante mau siap-siap dulu."


Airin menganggukkan kepalanya. Setelah Alea keluar dari kamar, Airin berdiri dan membuka lemari yang besar itu. Dia memilih baju yang sopan yang akan dipakai ke pemakaman. "Ini ada lengan panjang sama celana."


Airin mengambil baju itu, tanpa sengaja dia menjatuhkan sebuah kotak musik. Kotak musik itu terbuka dan berbunyi. Seketika Airin berjongkok. Dia melihat kotak musik itu berputar dengan satu orang penari di atasnya.


Airin memegang kotak musik itu, seketika bayangan masa lalu terlintas di kepalanya.


"Aku ingin menjadi penari hebat." Terlihat seorang gadis menari dengan sangat indah di atas panggung tapi tiba-tiba dia pingsan.


"Aku sudah tidak bisa menjadi penari lagi." Dia menangis dan putus asa.


Seketika Airin menutup kotak musik itu. Dia berdiri dan mengembalikan kotak musik itu ke dalam lemari. Kemudian dengan cepat dia berganti baju. Setelah menyisir rambutnya sesaat, buru-buru Airin keluar dari kamar. Tepat saat Revan menghampirinya.


"Revan!" Airin menahan dada Revan saat dadanya bertabrakan dengan Revan.


"Kenapa?" tanya Revan yang melihat wajah panik Airin.

__ADS_1


"Van, kenapa kamu gak pernah cerita kalau kamu punya kakak perempuan?"


"Oo, ya gak papa. Kak Rania udah tenang di sana." Sedetik kemudian Revan membuka pintu kamar itu. "Jangan bilang kamu lihat Kak Rania di dalam."


Airin menggelengkan kepalanya. "Gak lihat sih, tapi..." Airin menghentikan perkataannya karena terdengar suara Kevin memanggil Revan. "Nanti saja aku ceritakan, kita selesaikan masalah ini dulu."


Kemudian mereka berdua berjalan menuju teras rumah Revan. Keluarga Revan sudah berkumpul di sana, termasuk pamannya Revan dan istrinya.


"Van, Papa sudah bilang sama Paman Rendra untuk ikut doa bersama di sekolah kamu bersama kyai pondok, nanti kita semua juga akan ikut berdo'a di sekolah kamu."


"Ayo! Kakek sudah tidak sabar dapat kejutan dari kamu." teriak Kakek Marko yang sudah berada di dalam mobil. "Revan sama Airin duduk sama kakek di belakang ya," imbuhnya lagi.


"Bener-bener cucu kesayangan," ledek kedua kakak Revan.


Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, mobil mereka segera melaju menuju taman makam pahlawan.


"Kita mau kemana?" tanya Kakek Marko pada Revan yang duduk di sebelahnya. Meskipun wajahnya sudah terlihat keriput tapi badannya masih bugar. Hanya gerakannya saja yang melambat sedangkan kondisi tubuhnya masih sangat sehat.


"Kita akan ke suatu tempat," jawab Revan.


"Kamu selalu bisa buat kakek penasaran." Kemudian Kakek Marko menatap Airin yang hanya terdiam di sebelah Revan. "Nak Airin diam saja."


"Iya Kek." Airin hanya tersenyum kaku. Ini pengalaman pertama dia berada di tengah-tengah keluarga Revan.


"Jangan malu. Kita semua keluarga. Kakek lihat kalian sangat serasi, semoga kalian berjodoh ya. Doakan kakek agar diberi umur panjang. Kakek ingin melihat semua cucu kakek menikah."


"Iya, Kek. Amin."


Beberapa saat kemudian mereka berhenti di depan taman makam pahlawan itu.


"Kenapa kita ke makam? Makam buyut kamu kan tidak di sini dan kakek juga sudah ke sana," kata Kakek Marko.


Revan hanya tersenyum lalu turun terlebih dahulu dan membantu kakeknya turun dari mobil. "Ai, bawakan buku album itu," suruh Revan pada Airin.


"Iya." Setelah mengambil buku album itu, Airin berjalan di samping Revan.


"Kakek sebentar ya." Revan dan Airin mencari keberadaan makam itu. Tiba-tiba Esmee muncul dan tersenyum menatap Airin.


"Terima kasih kamu sudah membawa putra saya ke sini. Ternyata benar, pria yang bersama kamu itu masih keturunan Mas Aryo."

__ADS_1


Airin hanya terdiam, dia kini melihat batu nisan yang bertuliskan nama Esmee tepat berada di bawah hantu Noni Belanda itu. "Van, ini makamnya."


Setelah berhasil menemukan, Revan segera menuntun kakeknya mendekati makam itu.


"Esmee? Makam siapa?" tanya Kakek Marko.


Revan mengambil album foto yang dibawa Airin lalu membukanya. Dia menunjukkan foto Esmee pada kakeknya. "Ini nenek buyut."


Kakek Marko mengernyitkan dahinya. "Nenek Buyut?"


"Ibu Kakek."


"Ibu?" setetes air mata terjatuh di pipi Kakek Marko. Selama ini tidak pernah ada yang mengungkap identitas ibunya. Dia tidak tahu sama sekali bahwa foto yang selama ini tersimpan di album foto itu adalah foto ibunya.


Perlahan Kakek Marko duduk di rerumputan yang diikuti oleh Airin dan Revan. "Darimana kamu tahu?" tanya Kakek Marko.


"Jadi nenek buyut yang memberi tahu keberadaannya lewat bantuan Airin. Kebetulan Airin memang indigo. Dia bisa melihat makhluk tak kasat mata itu. Dulu kakek Aryo menjalin hubungan terlarang dengan putri jendral Belanda sehingga Kakek Aryo ditangkap dan masuk penjara. Nenek Esmee hamil dengan Kakek Aryo. Nenek Esmee juga yang membantu pemberontakan di dalam penjara itu tapi sayang saat Kakek Aryo berhasil selamat dan melarikan diri, Nenek Esmee mengorbankan dirinya demi keselamatan kakek dan kakek Aryo. Nenek Esmee tertembak dan meninggal."


"Tidak ada yang menberitahu Kakek tentang ini."


"Semua ini dilakukan demi keselamatan Kakek. Agar tidak ada yang tahu bahwa kakek adalah putra dari orang Belanda." Revan kini memeluk Kakeknya yang menangis.


"Terima kasih kado terindahnya." Kakek Marko menepuk lengan kokoh Revan yang menahan tubuhnya.


"Saya punya satu kado lagi buat Kakek." kata Airin.


"Apa?"


"Pegang tangan saya ya, Kek."


💕💕💕


.


Like dan komen ya...


.


Keluarga Revan ini memang besar. Dari kakaknya Revan udah ada novel sendiri-sendiri, Reka, Raffa, sebenarnya mau aku lanjut Rania tapi tidak jadi, langsung skip ke Revan. 🤭

__ADS_1


.


Siapa yang udah baca semua novelnya hayo?? 😁


__ADS_2