Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Sudah Sadar


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu, Airin tidak ada perkembangan sama sekali. Tubuh Airin masih tidak bisa merespon apapun. Setiap hari Revan terus menemani Airin di rumah sakit. Dia mengajaknya bicara dan menghiburnya. Terkadang di ujung mata Airin hanya ada tetesan air mata saat mendengar cerita-cerita Revan.


"Airin, bangun sayang. Besok kita akan menikah." Revan menggenggam tangan Airin dan menciumnya. Lagi-lagi Revan merasa sangat lemah saat melihat kondisi Airin seperti ini.


Alvin kini berdiri di samping Revan dan mengusap pundak Revan. "Kamu ikhlas ya. Kalau kamu ingin membatalkan pernikahan itu tidak apa-apa. Karena Dokter telah memvonis jika Airin berhasil melewati koma, dia juga akan lumpuh."


Revan menggelengkan kepalanya. Dia kini mendongak menatap calon mertuanya itu. "Apapun yang terjadi saya akan tetap menikahi Airin besok."


"Tapi..."


"Om, saya tidak peduli dengan keadaan Airin selanjutnya. Saya akan tetap menikahi Airin besok. Om, merestui kita kan."


Seketika Alvin memeluk Revan. Dia sangat tersentuh dengan keputusan Revan. Revan benar-benar memiliki rasa cinta yang besar dan tulus pada Airin. "Iya, Om pasti akan merestui kamu. Mulai besok kamu panggil Om dengan sebutan Ayah. Kamu memang calon suami yang sangat baik untuk Airin. Semoga Airin cepat sadar dan pulih. Dia harus merasakan kebahagiaan bersama kamu."


Revan hanya menganggukkan kepalanya.


Keesokan harinya, kondisi Airin masih tetap sama. Revan kini tengah bersiap melakukan ijab qabul di ruangan Airin di rawat. Pesta yang mewah itu terpaksa dia batalkan.


Suasana haru menyelimuti ruangan itu. Revan kini berhadapan dengan Alvin yang sudah didampingi penghulu. Dengan keyakinan hati Revan menjabat tangan Alvin dan mengucap kalimat ijabnya yang langsung dibalas dengan kalimat qabul dari Alvin.


Meski Airin tidak menyaksikannya tapi Revan yakin Airin bisa mendengarkannya.


Setelah saksi menyatakan sah, Revan berdiri dan memakaikan cincin yang dia pilih bersama Airin sebelum kejadian nahas itu terjadi lalu dia mencium kening Airin. "Sayang, kita sudah sah menjadi suami istri. Cepat sadar ya. Aku sangat mencintaimu."


...***...


Airin berjalan seorang diri di ruangan tanpa batas. Hanya ada cahaya terang yang sesekali membuatnya silau.


"Airin..."


Airin berlari menghampiri sumber suara itu. Dia tersenyum saat melihat Della sedang berdiri menatapnya. "Della, untung ada kamu. Aku di sini sendirian, dari tadi aku mencari jalan tidak ketemu."


"Ai, ini bukan tempat kamu. Kamu kembali ya..."


Airin berusaha memegang tangan Della tapi Della kian menjauh. "Tapi Della!" Airin sudah tidak melihat Della lagi. Dia kini berjalan tanpa arah lagi lalu dia bertemu dengan Azka.


"Azka, temani aku." Airin akan memegang tangan Azka tapi Azka juga pergi menjauh.


"Airin, kamu kembali ya. Orang tua kamu dan Revan sedang menunggu kamu."


"Tapi aku gak bisa. Bagaimana caranya aku kembali." Airin jatuh terduduk. Dia tidak tahu kemana harus pergi.

__ADS_1


Tiba-tiba ada yang mengusap puncak kepalanya, seketika Airin mendongak.


"Nak, petualangan kamu dengan makhluk-makhluk itu sekarang sudah selesai."


"Kakek buyut?"


"Maafkan kakek yang telah menitipkan kelebihan kakek sama kamu. Kakek akan mengambilnya. Mulai sekarang kamu tidak akan berada dalam bahaya lagi. Sekarang pejamkan mata kamu dan berdoa. Kamu akan kembali..."


Airin mengikuti apa yang dikatakan kakek buyutnya. Dia memejamkan matanya dan berdo'a. Beberapa detik kemudian dia membuka matanya. Pandangannya masih kabur. Dia memejamkan matanya lagi lalu membukanya lagi. Dia melihat sekeliling tempatnya. Ya, sekarang dia berada di rumah sakit dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya. Di sisinya ada Revan yang tertidur sambil menopang kepalanya.


Airin berusaha menggerakkan tangannya tapi sangat berat, seperti tidak ada tenaga sama sekali, bahkan untuk bersuara juga sangat sulit. Dia hanya bisa menggerakkan ujung jarinya untuk menyentuh Revan.


Seketika Revan terbangun. Dia kini menatap Airin yang sudah membuka kedua matanya. "Airin sayang, kamu sudah sadar." Betapa bahagianya Revan melihat Airin telah sadar.


"A-aku..." Airin masih kesulitan untuk berbicara.


"Kamu tenang dulu, biar aku panggil Dokter untuk memeriksa kamu." Revan segera menekan tombol emergency untuk memanggil Dokter.


Beberapa saat kemudian Dokter dan perawat segera datang dan memeriksa keadaan Airin.


"Perkembangan yang sangat bagus. Ini keajaiban, saraf-sarafnya kembali bekerja dengan baik." Dokter itu menggerakkan tangan Airin secara perlahan lalu kaki Airin. "Akan tetapi masih butuh beberapa terapi untuk menstabilkan otot-ototnya. Besok kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Jika haus boleh minum secara perlahan. Untuk sementara masih harus makan bubur halus dulu ya nanti akan diantar sama suster jaga malam."


Airin berusaha untuk berbicara tapi sangat sulit. "Se-sekarang tanggal be..."


"Sekarang hari pernikahan kita." Revan tersenyum lalu menggenggam tangan Airin. "Sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri."


Airin menautkan alisnya dan menatap Revan.


Kemudian Revan mengambil ponselnya dan menunjukkan rekaman ijab qabulnya pada Airin. "Kamu lihat, kita sudah resmi menjadi suami istri sayang."


"Ta-tapi kalau..."


"Sssttt, aku sudah memutuskan untuk tetap menikahi kamu apapun kondisi kamu. Aku yakin kamu bisa pulih. Aku akan merawat kamu karena kamu sudah menjadi tanggung jawab aku." Revan kini membuka whatsappnya dan menghubungi orang tua Airin. "Kita hubungi Ayah Bunda dulu ya. Mereka pasti senang melihat kamu sudah sadar."


Beberapa saat kemudian Revan sudah terhubung video call dengan kedua orang tua Airin.


"Airin sudah sadar."


Seketika mereka berdua mengucap syukur dan tertawa bahagia. "Gimana kondisi Airin sekarang, Van?"


"Kata Dokter tidak ada kelainan pada saraf Airin hanya butuh beberapa terapi karena Airin belum lancar bicara dan belum bisa menggerakkan kaki dan tangannya."

__ADS_1


"Syukurlah."


"Ayah dan Bunda gak ke sini?" tanya Revan.


"Besok pagi saja ya. Malam ini kamu temani saja Airin. Harusnya malam ini menjadi malam yang spesial buat kamu dan Airin."


Revan tersenyum kecil, "Bagi saya malam ini adalah malam yang sangat spesial, karena Airin berhasil melewati masa komanya."


"Ya sudah, sayang sampai jumpa besok pagi ya."


Airin hanya mengangguk pelan kemudian panggilan video itu terputus.


"Sayang, kamu mau minum?"


Airin hanya mengangguk.


Revan mengambil gelas dan mengisi pipet dengan air lalu menyuapi Airin air putih dengan pipet secara perlahan.


Setelah beberapa kali suapan Airin menggelengkan kepalanya.


Revan kembali meletakkan gelas itu di atas nakas. "Udah hampir tengah malam, kamu mau tidur?"


Airin menggeleng pelan, "Aku capek tidur."


Revan tersenyum sambil mengusap rambut Airin. "Ya sudah, aku temani malam ini. Biar aku yang bercerita, kamu cukup dengerin aja." Revan bercerita sampai hampir semalaman. Dia juga berhasil membuat Airin tersenyum kecil beberapa kali. Hingga akhirnya saat menjelang pagi Airin kembali tertidur.


Revan menguap panjang dan meregangkan otot-ototnya. Rasanya dia enggan meninggalkan Airin meski hanya untuk tidur di sofa.


Akhirnya dia menidurkan kepalanya di samping tangan Airin. "Ini malam pertama kita, Ai." Revan tersenyum kecil karena dia justru bergadang di rumah sakit menemani Airin yang terbaring lemah. "Cepat pulih ya. Aku akan selalu menemani kamu di masa penyembuhan."


.


💕💕💕


.


Akhirnya, tertutup sudah mata batin Airin..


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2