
Airin menghentikan langkahnya di depan kelas sesaat untuk mengirim pesan pada Ayahnya agar segera menjemputnya.
"Airin!"
Mendengar panggilan itu Airin segera melanjutkan langkah kakinya. Tapi Revan akhirnya berhasil menyusul langkahnya.
Revan menahan tanga Airin agar tidak berlari lagi. "Airin, dengerin aku dulu."
Airin berusaha melepas tangannya tapi genggaman tangan Revan sangat kuat. Dia tersenyum kaku lalu membalikkan badannya. "Gak papa kok kamu sama Siska. Kenapa mesti jelasin ke aku? Kita kan hanya teman."
Airin berusaha menutupi kegusaran hatinya karena apa yang dia katakan tidak sama dengan isi hatinya.
"Ai, aku juga gak tahu apa yang aku lakukan barusan. Aku gak sadar kenapa tiba-tiba bisa sedekat itu dengan Siska."
Airin hanya menatap Revan, ya, dia tahu apa yang dilakukan Revan barusan memang diluar kesadarannya.
Awan hitam kini mulai bersatu dan berkumpul. Air hujan pun turun dengan derasnya. Seketika Airin menatap langit yang sangat mendung itu. "Yah, hujan." Airin menarik tangannya lagi tapi masih ditahan oleh Revan.
"Ai, jangan menghindar. Aku ingin menjelaskan sesuatu sama kamu."
Airin akhirnya terdiam dan duduk di depan kelas.
Revan mengikuti Airin dan duduk di sampingnya. "Ai, iya, kamu benar kita memang hanya teman. Tapi aku ingin menjelaskan satu hal sama kamu. Aku sama sekali gak ada niat deketin Siska. Aku juga gak tahu kenapa posisi aku bisa sedekat itu dengan Siska barusan."
__ADS_1
"Iya, aku tahu."
Revan menghela napas panjang. Dia kumpulkan semua keberaniannya untuk mengungkap semua perasaannya, daripada semakin terjadi salah paham di antara dia dan Airin. Belum lagi Azka yang selalu menjadi saingannya. "Ai, kamu juga harus tahu satu hal, sebenarnya aku cinta sama kamu."
Seketika Airin menatap Revan. Lalu dia menggelengkan kepalanya, meskipun kalimat itu sangat dinantikan Airin, tapi dia masih belum bisa menerima perasaan Revan secepat ini setelah kehilangan Della.
"Van, kita kehilangan Della belum ada satu bulan. Perasaan kamu gak mungkin berubah secepat itu. Kamu bukan hanya akan menjadikan aku pelarian kan?"
Revan menggelengkan kepalanya. "Aku gak pernah menjadikan kamu sebagai pelarian. Aku cinta kamu, jauh sebelum aku jadian dengan Della."
Airin semakin menatap Revan dengan mata nanarnya, "Jadi selama ini kamu membohongi semua perasaan Della."
"Aku gak bermaksud membohongi perasaan Della. Iya, aku sadar aku salah. Waktu itu, aku kira kamu suka sama Azka, jadi aku memilih Della karena Della mengungkapkan perasaannya sama aku. Aku memang mulai membuka hati aku untuk Della tapi sebelum aku benar-benar menyukainya, Della justru pergi untuk selamanya," jelas Revan. Semua yang tersimpan dalam hatinya selama ini akhirnya bisa dia ungkapkan pada Airin.
Mata Airin semakin berkaca-kaca, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Kamu bisa membohongi Della, bukan tidak mungkin kamu juga bisa membohongi aku." Airin berdiri dan berlari menerobos hujan.
"Lepasin!" Airin berusaha melepas genggaman tangan Revan. "Coba kamu pikir, kalau seandainya Della masih ada di sini. Bagaimana perasaannya kalau dia tahu kamu bohong! Pasti sakit, apalagi kalau dia tahu bahwa pacarnya ternyata mencintai sahabatnya sendiri."
"Tapi Della udah gak ada."
Air mata Airin seketika terjatuh. Dia salah menilai Revan selama ini. Bagi dia, meskipun Della sudah tidak ada, dia tetap sahabatnya. "Kamu bisa-bisanya ya bilang kayak gitu. Mulai sekarang kamu jauhi aku!" Airin menarik kasar tangannya lalu berlari menuju gerbang sekolah.
Revan mengacak rambutnya sesaat. Sepertinya dia sudah salah bicara. "Ai,"
__ADS_1
Airin terus berlari, untunglah mobil Ayahnya baru berhenti di depan gerbang. Airin langsung masuk ke dalam mobilnya tak peduli pada Revan yang masih mengejarnya.
"Airin, Ayah mau jemput kamu ke dalam pakai payung. Kenapa hujan-hujanan?"
Airin tak menjawab pertanyaan itu, Airin justru menyuruh Ayahnya untuk segera melajukan mobilnya. "Jalan Ayah."
Alvin kini melihat Revan yang berhenti di dekat mobilnya. "Ada Revan."
"Jalan, Ayah."
"Iya. Di belakang ada handuk, kamu keringkan rambut kamu." Alvin melepas blazernya lalu diberikan pada putrinya. "Kamu pakai agar gak dingin." Kemudian dia menjalankan mobilnya.
Airin mengambil ponselnya terlebih dahulu lalu mengelapnya dengan tisu. Ponselnya bergetar beberapa kali saat ada panggilan masuk dari Revan.
Airin mereject panggilan itu lalu memblokir nomor Revan. Dia usap air matanya asal lalu meletakkan ponselnya di jok sebelah.
Dia keringkan wajah dan rambutnya dengan handuk kecil. Lalu memakai blazer Ayahnya.
"Ada masalah sama Revan?" tanya Alvin karena dia melihat putrinya masih saja menangis.
Airin menggelengkan kepalanya. Harusnya dia bahagia karena Revan menyatakan perasaannya, tapi mengapa setelah tahu kenyataannya dia merasa kecewa dengan Revan karena telah membohongi Della. Bagaimana jika suatu saat nanti dia berada di posisi Della? Pasti rasanya sangat menyakitkan.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya .