
Azka tersenyum kecil melihat Melodi yang sedang bermain piano mengajarkan anak-anak les musik. Dia memang hebat di bidang seni.
"Orang tuanya pianis, jelas anaknya meniru." Kemudian Azka duduk di taman dekat tempat parkir rumah Melodi yang luas itu sambil menunggu Melodi.
Beberapa saat kemudian Melodi selesai mengajar les lalu keluar menemui Azka. "Tumben ke sini?" tanya Melodi sambil duduk di sebelah Azka. "Gak nunggu di dalam, banyak nyamuk loh di taman ini."
Azka tersenyum kaku. "Gak enak, ada Papa kamu."
"Kalau Papa sih biasa orangnya. Lagian jam segini lagi sibuk urus kursus."
"Gak papa, di sini aja." Kemudian Azka menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Dia juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba ke rumah Melodi padahal tidak ada perlu apa-apa.
"Lagi galau?" tebak Melodi. Dia pasti sedang memikirkan Airin yang semakin dekat dengan Revan.
"Ya, kamu tahulah. Di rumah lagi suntuk juga," jawab Azka. Dari sorot mata Azka sangat terlihat jika hatinya tidak baik-baik saja.
"Tunggu dulu, ini pasti bukan soal Airin saja kan?" Melodi bisa menangkap gurat kesedihan di wajah Azka.
Azka hanya menghela napas panjang, "Ya, masalah kedua orang tua aku."
"Orang tua kamu bertengkar lagi?" tanya Melodi. Jarak rumahnya dan Azka memang tidak terlalu jauh, dia juga tahu bagaimana kedua orang tua Azka.
Azka menganggukkan kepalanya. "Ayah, selalu keras sama Ibu. Sedangkan aku sendiri..." Azka menghentikan perkataannya. Dadanya terasa sesak saat mengingat jika dia selalu dibandingkan dengan Kakaknya.
"Sabar ya. Tapi aku yakin kamu bisa memberikan yang terbaik untuk kedua orang tua kamu," kata Melodi sambil mengusap lengan Azka.
"Iya. Btw, Airin dan Revan sudah jadian?" tanya Azka karena kedekatan Airin dan Revan seharian tadi sangat mencurigakan.
Melodi menggelengkan kepalanya. "Aku gak tahu, Airin gak mau mengakui perasaannya. Tapi aku bisa melihat kalau mereka berdua memang semakin dekat."
"Sepertinya aku memang harus melupakan perasaanku. Daripada memikirkan perasaan, masih banyak yang harus aku pikirkan." Kemudian Azka berdiri. "Ya udah aku pulang dulu ya."
__ADS_1
"Kamu gak bawa motor?" tanya Melodi karena tidak melihat motor Azka.
"Nggak, tadi niatnya memang jalan-jalan cari udara malam."
"Ya udah, aku anterin yuk!" Melodi berdiri dan mengambil motornya.
"Gak usah. Deket aja."
"Deket gimana? Beda RT juga. Ayo naik. Sekalian aku mau beli martabak di dekat gang rumah kamu." Setelah naik ke atas motor, kemudian Melodi menghidupkan mesin motornya.
Akhirnya Azka naik ke boncengan Melodi. Beberapa saat kemudian, motor Melodi melaju menuju rumah Azka.
"Aneh banget rasanya kalau dibonceng cewek. Aku berasa tinggi banget."
"Kamu memang tinggi banget. Gak nyadar udah kayak tiang listrik," kata Melodi sambil tertawa. Dia saja hanya setinggi bahu Azka.
Azka juga ikut tertawa. Itu sebabnya dia selalu bisa menembak bola basket tepat sasaran meski dari triple poin.
Azka turun dari motor Melodi. "Thanks."
Azka melangkahkan kakinya menuju teras rumahnya yang kecil, dari depan rumah saja terdengar kedua orang tua Azka masih bertengkar.
Melodi urung saat akan memutar motornya karena sepertinya pertengkaran orang tua Azka semakin menjadi.
"Ayah! Stop!" Azka menahan tangan Ayahnya yang akan memukul ibunya. "Kalau memang Ayah mau pergi, udah pergi saja! Jangan menyakiti ibu lagi!"
"Kamu memang anak yang gak berguna! Bisa-bisanya Arka mempertaruhkan nyawanya demi kamu! Kalau dia masih hidup, dia pasti sudah menjadi kebanggaan Ayah! Kamu lihat itu!" Rahman menunjuk beberapa piala dan penghargaan juara olimpiade matematika dan sains yang berada di tembok. "Itu semua milik Arka! Sedangkan kamu hanya bisa mengandalkan basket. Mau jadi apa kamu!"
Azka hanya mengeraskan rahang bawahnya. Perkataan Ayahnya sangat menyayat hatinya berulang kali.
"Ayah, udah! Kasihan Azka. Ini semua bukan salah Azka." bela ibunya.
__ADS_1
"Bukan salah Azka! Coba saja Azka waktu itu bisa hati-hati, tidak lari hanya mengejar bola basketnya. Pasti Arka tidak akan tertabrak truk hanya untuk menolong Azka."
Seketika Azka mengepalkan tangannya. Hatinya sudah terlalu sakit dan hancur mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ayahnya, "Aku juga gak minta ditolong Kak Arka. Harusnya Kak Arka biarkan aku mati daripada aku hidup tapi tidak dianggap." Kemudian Azka melangkah jenjang keluar dari rumah dan menaiki motornya. Beberapa saat kemudian motor Azka melaju dengan kencang.
"Azka mau kemana?" Melodi mengikuti motor Azka di belakangnya.
Azka semakin menambah kecepatan motornya. Dadanya terasa sesak dan sangat sakit. Ingin dia menangis tapi dia tahan, hanya mata merahnya saja yang terlihat.
Beberapa saat kemudian, dia menghentikan motornya di depan pemakaman umum. Tidak ada lagi rasa takut meski dia ke tempat itu malam hari.
Azka berjalan di antara batu nisan menuju sebuah makam yang telah mengering. Dia kini terduduk dengan kedua tangan yang mengepal di atas tanah.
"Kenapa Kak Arka gak biarkan aku mati saja waktu itu, agar Ayah gak nyalahin aku terus-terusan. Hanya kakak yang selalu di hati Ayah dan nomor satu. Semua prestasi dan usaha aku hanya dipandang sebelah mata! Aku gak berguna! Aku gak bisa seperti Kak Arka!" Air mata yang sedari tadi dia tahan kini mengalir di pipinya. "Aku gak bisa lihat ibu terus disalahkan hanya karena ibu membela aku. Aku gak bisa melihat mereka bertengkar hanya karena akulah penyebab kematian Kak Arka. Andai saja waktu bisa diputar, biarkan saja aku yang pergi. Ayah tidak akan pernah menyesali kepergianku, seperti Ayah yang menyesali kepergian Kak Arka."
Azka semakin menundukkan kepalanya. Dia ingin marah pada dirinya sendiri. Sesosok yang kuat itu, kini sedang rapuh. Benar-benar rapuh dan hancur.
Tiba-tiba angin bertiup cukup kencang. Azka merasakan kehadiran seseorang dan merengkuh punggungnya yang bergetar. Saat dia menoleh, tidak ada siapa-siapa di sampingnya.
Azka kembali menatap pusara yang telah mengering itu lalu menghapus sisa air matanya, lalu dia tersenyum hambar. "Aku udah gila ngomong sendiri di kuburan. Kak Arka udah gak ada. Gak akan menjawab semua keluh kesah aku. Maaf, ganggu tidur Kak Arka. Aku memang adik yang cengeng dan lemah. Hanya terlihat kuat saat diluar rumah saja." Kemudian Azka berdiri dan membalikkan badannya. Dia menatap Melodi yang sedang menangis satu meter di belakangnya.
"Melodi, kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Kenapa kamu gak pernah cerita masalah ini sama aku atau Airin. Kita itu sahabat..."
💕💕💕
.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
.
__ADS_1
Like dan komen ya...