
Dua hari telah berlalu, setiap hari ada saja murid yang kerasukan. Tidak hanya di aula tapi di kelas dan lapangan juga. Selama dua hari itu juga hidup Airin tidak tenang di sekolah. Beberapa penampakan seringkali terjadi. Hantu Noni Belanda itu seringkali menerornya dan bertanya tentang Aryo
"Ai, kan Ayah sudah bilang kalau gak enak badan kamu libur dulu." kata Alvin sambil mengemudikan mobilnya. Dia melihat putrinya dari rear spion beberapa kali memijat pelipisnya.
Airin menggelengkan kepalanya. "Airin cuma kepikiran sama teman-teman yang kerasukan, Yah."
"Kata kamu kan aulanya baru direnovasi, coba adakan do'a bersama agar arwah mereka bisa tenang di alam sana."
"Kemarin sudah, tapi memang hanya beberapa yang berdo'a di sana."
"Ai, kan Revan pulang hari ini. Dia suruh buat pengajuan untuk mengadakan doa bersama satu sekolah." usul Azka yang duduk di sebelah Airin.
"Ka, kan Revan udah bukan ketua OSIS lagi."
"Ya gak papa. Guru-guru pasti langsung bertindak kalau Revan yang mengusulkan. Ketua OSIS yang sekarang kurang sat set."
"Iya, dicoba saja. Ayah gak mau terjadi apa-apa sama kamu dan teman-teman kamu." Alvin kini menghentikan mobilnya di depan sekolah Airin. Kemudian dia turun dan menurunkan kursi roda Azka terlebih dahulu.
Saat Airin membuka pintu mobil Ayahnya, Revan mendekat yang membuat Airin terkejut.
"Revan, katanya masih pulang nanti sore."
Revan tersenyum manis lalu membantu Azka turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya.
"Van, pulang jam berapa?" tanya Alvin.
"Jam satu tadi, Om." Revan menundukkan kepalanya dan bersalaman dengan Ayahnya Airin.
Kemudian Airin mencium punggung tangan Ayahnya sebelum Ayahnya kembali masuk ke dalam mobil.
Setelah itu Revan mendorong kursi roda Azka memasuki gerbang.
"Kamu kok gak bilang kalau hari ini masuk? Kemarin chat katanya masih pulang sore." Satu tangan Airin menggandeng lengan Revan dan berjalan di sampingnya.
"Mau kasih kejutan buat kamu." Revan menatap Airin yang ada di sampingnya. Belum genap tiga hari tidak bertemu rasanya dia sangat merindukan Airin.
Sedangkan Azka hanya menghela napas panjang. Astaga, gue jadi obat nyamuk.
__ADS_1
"Kangen banget sama kamu." kata Revan yang langsung mendapat satu deheman dari Azka.
"Ehem, kalau mau pacaran antar gue ke kelas dulu."
Airin dan Revan hanya tertawa. Mereka berjalan di koridor kelas sambil mendorong kursi roda Azka.
Beberapa saat kemudian ada Tomi yang menghampiri. "Anaknya umur berapa ini? Aduh, lucunya." Tomi mencubit pipi Azka. Karena cara Airin dan Revan berjalan seperti sedang mendorong stroller anaknya.
"Sial lo!" Azka menepis tangan Tomi.
Tomi mengambil alih kursi roda Azka. "Emak sama Bapak biar kangen-kangenan dulu, lo sama gue." Tomi mendorong kursi roda Azka dengan kencang.
"Woy, pelan-pelan. Gila lo, nanti gue jatuh." teriak Azka.
"Pegangan yang kuat."
Airin dan Revan hanya tertawa melihat tingkah konyol Tomi. Kemudian mereka berjalan pelan sambil mengobrol.
"Katanya tiga hari ini banyak yang kerasukan? Kenapa kamu gak cerita sama aku?" tanya Revan.
"Hmm, biar kamu gak kepikiran aja."
Airin terdiam beberapa saat. Lalu dia duduk di depan kelas karena masih ingin mengobrol dengan Revan. "Hmm, kata kamu kakek buyut kamu dulu pernah melarikan diri dari penjara. Apa kakek buyut kamu akhirnya selamat?" Sebenarnya Airin juga sangat penasaran dengan masalah itu. Noni Belanda itu terus menerornya dengan bertanya masalah Aryo.
"Selamat, makanya aku tahu ceritanya."
"Jadi kamu masih ada keturunan Belanda?"
Revan mengernyitkan dahinya. "Maksudnya?"
"Jadi gini, aku beberapa hari ini terus diteror hantu Noni Belanda dan dia mencari Aryo."
"Aryo?"
Airin menganggukkan kepalanya. "Dan Noni itu bilang kalau Aryo membawa anaknya, ya kemungkinan anaknya dan Aryo."
Seketika Revan berdiri dan berjalan cepat.
__ADS_1
"Van, mau kemana?"
"Dimana Noni itu sekarang?" tanya Revan. Dia melangkahkan kakinya menuju aula. "Di aula?"
"Kamu mau ngapain ke sana. Jangan." Airin menahan langkah kaki Revan.
"Ai, Aryo memang nama kakek buyut aku tapi aku juga gak tahu kalau kakek buyut aku mempunyai anak dari orang Belanda."
Langkah Revan terhenti saat mengingat wajah kakeknya. "Iya, wajah kakek memang ada blasteran Belanda."
"Kakek kamu masih hidup?"
Revan menganggukkan kepalanya. "Kakek sudah sangat tua." Kemudian Revan melanjutkan langkah kakinya. "Apa aku bisa bertemu dengan Noni itu?"
"Tapi Van, aku takut kamu dalam bahaya."
"Kalau memang aku masih keturunannya, dia tidak akan menyakitiku." Revan menggandeng tangan Airin mengajaknya masuk ke dalam aula. Kebetulan renovasi aula sudah selesai, sudah tidak ada tukang yang bekerja di sekitar tempat itu.
Saat mereka berdua masuk ke dalam aula, tiba-tiba pintu tertutup rapat. Semua menjadi gelap.
"Van, aku takut." Airin semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Revan.
"Ada aku, Ai. Kamu tenang saja. Kita selesaikan masalah ini sama-sama, agar tidak ada yang menggangu kamu dan juga teman-teman kita."
Mereka berjalan ke tengah aula. Keadaan masih sangat gelap, mereka tidak bisa melihat apa-apa.
Airin ini melingkarkan tangannya di pinggang Revan saat mulai mendengar suara-suara bisikan itu.
"Akhirnya kalian datang, ayo ikut aku!"
Saat Airin dan Revan melangkahkan kakinya, mereka merasa terjatuh ke dalam jurang tanpa dasar.
"Revan!" pekik Airin. Jantungnya seperti terlepas saat dia merasa terjatuh dari ketinggian.
Revan semakin mengeratkan pelukannya pada Airin dan melindungi kepala Airin. "Jangan lepaskan tangan kamu. Kita harus tetap sama-sama."
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...