Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Kembalilah Azka


__ADS_3

Malam hari itu Airin tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan Azka. "Semoga Azka cepat sembuh," gumamnya pelan lalu dia memejamkan matanya.


"Airin!"


Airin membuka matanya karena mendengar suara Azka memanggilnya. "Azka." Dia mengedarkan pandangannya. "Azka!" Dia sangat terkejut saat melihat Azka yang berdiri di dekat ranjangnya.


"Benar sekali dugaanku kamu bisa melihatku."


Airin mengucek matanya lalu dia menepuk pipinya sendiri. "Ini mimpi?"


"Ini bukan mimpi."


"Lalu? Kamu sudah sadar? Kamu sudah sembuh?" tanya Airin dengan mata berbinarnya. Tapi saat melihat tatapan sayu Azka dan wajahnya yang pucat tersadar bahwa dia bukanlah raga Azka.


Airin menyentuh tangan Azka tapi tidak bisa. "Azka." Airin kini menangis. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Azka. "Kenapa kamu ada di sini? Kamu sudah..." Kemudian Airin mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya Azka.


"Hallo tante. Bagaimana keadaan Azka sekarang?"


"Azka masih belum ada perkembangan sama sekali"


"Ya sudah tante. Nanti tolong kabarin Airin ya perkembangan Azka."


"Iya."


Kemudian Airin mematikan panggilannya dan dia kini menatap Azka yang masih berdiri mematung di dekat ranjangnya.


"Kenapa kamu ke sini? Kamu harus kembali ke tubuh kamu."


Azka menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa."


"Kamu pasti bisa, ayo aku antar ke sana." Airin mulai menangis lagi. Dia ingin menarik tangan Azka tapi tidak bisa. "Azka, ayo kembali ke rumah sakit. Kembali ke tubuh kamu agar kamu cepat sadar. Semua keinginan kamu akan terwujud dan Ayah kamu juga sudah menyayangi kamu sekarang."


Azka menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa kembali, Ai. Tapi aku akan tetap di samping kamu selama Revan belum kembali."


"Azka, kamu harus kembali." Airin semakin menangis histeris. Dia kini terduduk di lantai. "Ayo kita ke rumah sakit. Kamu jangan di sini. Azka..."


"Ai, jangan menangis. Ini sudah takdir."


"Nggak, pokoknya kamu harus kembali ke raga kamu." Airin berdiri dan berusaha memegang tangan Azka. "Aku gak bisa!"


"Airin kenapa?" Kedua orang tuanya kini membuka pintu kamar Airin yang tidak terkunci itu.

__ADS_1


Seketika Airin membalikkan badannya dengan air mata yang berurai. "Ayah, bawa Azka kembali ke raganya. Aku gak mau Azka di sini. Azka harus kembali. Azka harus sembuh."


Seketika Rili memeluk putrinya dan menenangkannya. "Airin tenangkan diri kamu. Azka masih di rumah sakit. Kamu berdo'a saja ya agar Azka cepat sadar."


Airin masih saja menangis tergugu. "Azka ada di sini. Dia tidak bisa kembali ke tubuhnya. Airin gak mau kalau dia pergi untuk selamanya. Ayah, ayo antar dia ke rumah sakit." Airin menarik lengan Ayahnya sambil menangis.


"Airin tenang." Alvin beralih memeluk putrinya dan mengusap rambutnya. "Azka ada di sini?"


Airin menganggukkan kepalanya. "Iya. Dia bilang tidak bisa kembali ke tubuhnya. Gimana caranya Azka bisa kembali?"


"Arwahnya keluar dari tubuhnya karena dia sedang berada di antara hidup dan mati."


"Ayah, aku gak mau kehilangan Azka." Airin masih menangis tergugu di dada Ayahnya.


"Airin, kita gak bisa melawan takdir. Kita berdo'a saja, semoga Azka segera sadar dan sembuh."


Airin hanya mengangguk pelan.


"Azka masih ada di sini sekarang?"


Ujung mata Airin kini melirik Azka yang ada di dekatnya lalu dia menganggukkan kepalanya.


"Azka, biarkan Airin istirahat dulu. Kamu kembali ke rumah sakit saja, siapa tahu kamu bisa cepat sadar."


Alvin kini menangkup kedua pipi Airin. "Kamu jangan sedih lagi ya. Kalau ada apa-apa bilang sama Ayah atau Bunda."


Airin menganggukkan kepalanya.


Setelah itu kedua orang tua Airin keluar dari kamar Airin, meski sebenarnya Alvin tidak tega jika memang benar ada arwah Azka di kamar Airin. Alvin menghela napas panjang dan menutup pintu kamar itu lagi.


Airin kini duduk di tepi ranjang. Air matanya telah surut. "Ka, apa kamu punya musuh?" tanya Airin.


Azka hanya terdiam lalu dia duduk di samping Airin. "Kenapa kamu tanya seperti itu?"


"Karena mobil tadi sengaja menabrak kamu dan aku cari rekaman cctv sudah tidak ada."


Azka hanya terdiam. Dia kini menatap kosong jendela kamar Airin.


"Azka, tolong kasih aku info agar aku bisa mengungkap kasus ini." kata Airin.


Azka menggelengkan kepalanya. "Tapi ini bahaya, Ai."

__ADS_1


"Aku gak sendiri, aku bisa minta bantuan sama Ayah." Airin masih menunggu azka berbicara. Dia tahu, sepertinya Azka sangat takut melibatkan Airin dalam masalahnya. "Azka, aku gak akan biarkan orang yang sudah buat kamu celaka seperti ini tidak mendapat hukuman. Kalau kamu gak mau cerita, biar aku cari tahu sendiri."


"Dia pasti Satria." jawab Azka pada akhirnya.


Airin melebarkan matanya sambil menatap Azka. "Bukankah Satria di penjara?"


"Aku dengar dia baru saja keluar. Dia dendam sama aku karena..." Azka menghentikan perkataannya.


"Karena masalah aku dulu?"


"Iya, itu salah satunya, yang pertama Satria kecewa karena aku menggantikan posisinya sebagai kapten basket, yang kedua dia sangat dendam sama aku karena aku yang mengungkap kasus pengedaran narkoba dia."


"Hah? Kenapa kamu gak cerita masalah ini sama aku?"


"Ini terlalu berbahaya buat kamu. Waktu itu dia ingin menjebak aku dengan memasukkan sebungkus narkoba ke tas aku. Aku mengetahuinya dan langsung menyembunyikan barang itu, karena aku punya kenalan orang yang bekerja di ruang kontrol cctv, jadi aku tahu pelakunya dan aku jebak balik dia saat bertransaksi dengan teman-temannya."


Airin hanya tercengang mendengar cerita Azka. Pantas saja Satria sangat dendam dengan Azka. "Kamu tenang saja, aku pasti akan segera mengungkap kasus ini."


"Kamu jangan sendirian menghadapi dia. Dia sangat berbahaya."


Airin menganggukkan kepalanya lalu dia merebahkan dirinya. Dia kini menatap langit-langit kamarnya. "Ka, kamu pasti bisa kembali ke tubuh kamu kan? kamu pasti bisa sembuh kan?"


"Aku gak tahu, Ai. Apapun yang terjadi, cukup kamu doakan aku saja."


"Azka, aku gak mau kehilangan kamu."


"Ai, setiap manusia pasti akan pergi dari dunia ini entah sekarang atau nanti. Kamu harus ikhlas ya, agar aku tidak berat meninggalkan kamu."


Air mata Airin kembali menetes. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia benar-benar kehilangan Azka. "Azka meskipun aku gak bisa menyentuhmu, temani aku tidur malam ini. Sini, kamu naik sini."


Azka menuruti permintaan Airin. Mereka kini saling berhadapan dan sama-sama terdiam. Beberapa saat kemudian akhirnya Airin tertidur karena dia sudah lelah menangis seharian itu.


Azka tersenyum menatap Airin yang telah terlelap.


"Met tidur, Ai." Kemudian Azka menghilang dari sisi Airin.


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen.. 🙄


__ADS_2