Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Mimpi Atau Nyata?


__ADS_3

"Revan, bangun!" Airin sangat panik saat Revan jatuh dari motornya dan pingsan di depan rumahnya. "Van!" Bahkan sampai saat ini dia belum juga bangun.


Sudah berbagai cara dia lakukan agar Revan sadar tapi Revan tak juga meresponnya. "Ayah, gimana ini?"


Alvin juga ikut panik sama seperti putrinya. "Kalau belum sadar juga kita bawa ke rumah sakit. Mungkin saja tadi ada yang terbentur."


Airin mengusap telapak tangan Revan. Dia baru tersadar ada jam tangan yang dipakai Revan.


Ini kan jam tangan dari Putri? Kayaknya tadi gak ada.


Airin melepas jam tangan itu tapi sulit. "Kenapa gak bisa dilepas." Dia terus menatap jam tangan itu. Jarum di jam itu terus berputar. Dia teringat lagi dengan surat yang ada di surat itu tentang waktu dan detik jam.


Airin menghentikan jarum jam itu, seketika jam tangan itu berhasil Airin lepas dari tangan Revan.


Beberapa saat kemudian, Revan membuka matanya dan menarik napas panjang. "Airin!" Dia bangun dan memeluk Airin.


"Kenapa?" tanya Airin. Dia bisa merasakan napas Revan yang tak teratur.


"Putri. Dia ingin aku menemaninya selamanya."


Airin mengernyitkan dahinya. Apa tadi Putri membawa Revan ke alam lain?


"Ehem!"


Satu deheman membuat Revan tersadar bahwa sekarang dia sedang berada di rumah Airin. Revan melepas pelukannya. Dia masih mengedarkan pandangannya bingung. Lalu melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul sebelas siang.


"Sekarang hari apa?" tanya Revan bingung. Apakah dia pingsan semalaman?


"Van, kamu gak amnesia kan? Ini hari Minggu. Kan kita janjian mau ke rumah Putri. Tadi kamu jatuh di depan rumah aku terus pingsan."


Revan semakin tak mengerti. Dia menundukkan pandangannya sambil memegang kepalanya berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi.


Apa barusan mimpi atau kenyataan? Dia seolah mengalami distorsi ruang dan waktu.


"Kamu minum dulu." Rili memberikan segelas air putih pada Revan.


Revan segera mengambil segelas air itu dan meminumnya hingga habis.


"Kalau ada yang sakit kita ke rumah sakit saja." kata Alvin.

__ADS_1


"Tidak, Om. Saya tidak apa-apa." Revan kini menoleh Airin yang ada di sampingnya. "Ai, apa kita sudah ke rumah Putri?"


"Belum. Kita belum ke sana."


"Tapi aku merasa kita sudah ke sana. Kita ke rumah Rima terlebih dahulu, lalu tanya rumah Putri. Kita juga ke rumah Putri dan bertemu dengan Ayahnya. Setelah itu kita ke rumah sakit. Kamu pulang dan aku jalan sama Putri sampai malam, setelah dia berubah menjadi menakutkan. Aku gak bisa lepas dari dia."


Airin terus menatap Revan.


"Akhirnya aku dengar suara kamu, waktu seolah berhenti dan aku kembali ke sini."


"Mungkin itu cuma mimpi buruk."


"Tapi itu terasa nyata, Ai. Sekarang aku bingung mana yang nyata mana yang mimpi."


"Revan, ini nyata." Alvin duduk di sebelah Revan dan menepuk bahunya. "Kamu tarik napas panjang, kamu tenangkan diri kamu. Mungkin kamu mengalami distorsi ruang dan waktu. Dimana kamu merasa kalau kamu bisa melintasi waktu dan berpindah tempat seperti kenyataan padahal kamu hanya mimpi."


Revan mengikuti apa yang disarankan Ayahnya Airin. Dia sekarang lebih tenang.


"Oiya, kalian mencari yang namanya Putri kan? Ini ada pengumuman di grup chat RW. Putri anak dari Bu Rona dan Pak Widi meninggal dunia di rumah sakit."


"Iya, itu Putri yang kita cari," jawab Revan. Karena dia sudah tahu nama kedua orang tua Putri dari mimpi yang terasa nyata barusan. Kemudian dia mengambil ponselnya. Benar saja di grup sekolah juga ada berita meninggalnya Putri. "Iya, di grup sekolah juga ada." Revan menghela napas panjang. Itu berarti, barusan jiwanya memang dibawa pergi Putri. Untunglah dia bisa kembali lagi ke dunia.


"Iya, kita mau ikut," jawab Airin. Dia berdiri dan berjalan ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Van, kamu beneran sudah tidak apa-apa?" tanya Alvin sekali lagi untuk memastikan.


Revan menggelengkan kepalanya. "Sudah tidak apa-apa, Om."


Beberapa saat kemudian mereka semua berjalan menuju rumah Putri. Setelah sampai di sana, sudah banyak orang yang melayat. Kedua orang tua Putri masih saja meneteskan air mata mereka melihat jasad Putri yang sudah tertutup kain putih.


Airin terkejut saat melihat Putri tiba-tiba berdiri di dekatnya. Dia tersenyum ke arahnya dengan bibir yang pucat.


Makasih, kamu sudah memberiku izin untuk bersama Revan meski hanya sebentar.


Airin kini menatap Revan. Sepertinya Revan tidak bisa melihat keberadaan Putri kali ini.


Awalnya aku ingin memiliki Revan tapi aku tahu dia sangat mencintai kamu. Semoga kalian selalu bersama.


Beberapa saat kemudian bayangan Putri sudah menghilang. Kemudian dia melihat kedua orang tuanya sibuk membantu di rumah itu. Dia merasa tidak nyaman dengan aura di tempat itu.

__ADS_1


"Van, ayo kita pulang saja."


Revan menganggukkan kepalanya lalu mereka menyampaikan bela sungkawa dan berpamitan pada kedua orang tua Putri. Kemudian mereka keluar dari rumah Putri dan berjalan menyusuri jalan menuju rumah Airin.


"Van, ternyata benar. Barusan Putri membawa kamu ke dunianya."


"Iya, ternyata sangat menakutkan. Aku yang baru sekali merasakan langsung seperti orang linglung, bagaimana dengan kamu yang selalu berurusan dengan mereka."


Airin hanya tersenyum kecil. "Itu jalan takdir aku. Tapi aku bersyukur, aku selalu mendapatkan suport dari kamu dan semua orang yang dekat dengan aku."


Setelah sampai di rumah, mereka berdua masuk ke dalam ruang tamu Airin.


"Kak Ayla kemana, Ai?" tanya Revan karena rumah Airin sangat sepi.


"Kak Ayla lagi keluar sama teman-temannya. Sepi ya kalau gak ada Kak Ayla di rumah."


Mereka berdua duduk di sofa dan menatap jam tangan dari Putri.


"Jam tangan itu?"


"Kita musnahkan saja. Agar detik jam itu tetap berhenti." Airin mengambil jam itu lalu dia bawa ke taman samping. Dia masukkan ke dalam tong besi yang sudah dipenuhi daun kering. Setelah itu dia bakar daun-daun itu. Api melahap jam tangan itu dengan cepat.


"Satu masalah sudah berakhir."


Revan duduk di bangku taman sambil melihat api dalam tong itu. Airin juga duduk di sampingnya. Mereka sama-sama terdiam.


"Ai, aku pulang ya."


"Kamu udah gak pusing kan?" tanya Airin.


Revan menggelengkan kepalanya. "Aku udah gak papa."


Mereka berdua berdiri dan berjalan ke teras rumah Airin. Revan mencari kunci motornya di saku-sakunya tapi tidak ada. "Kunci motor aku dimana?"


"Tadi dibawa Ayah waktu mindahin motor kamu. Aduh, ditaruh mana nih?" Airin masuk ke dalam rumahnya dan mencari kunci motor Revan. "Kalau gak ada, kamu tunggu Ayah saja sampai pulang." Airin masih sibuk mencari kunci motor Revan ke sana kemari. Dia menghubungi nomor Bunda dan Ayahnya tapi tidak ada yang aktif.


💕💕💕


Like dan komen ya..

__ADS_1


__ADS_2