
"Iya. Hmm, apa status kita bisa berubah menjadi pacar?"
Meskipun pertanyaan Revan terkesan kaku tapi hal itu sudah mampu membuat Airin gerogi. Dadanya semakin berdebar tak karuan.
"Hmm, aku..." Airin menghentikan perkataannya. "Aku gak bisa jawab sekarang. Beri aku waktu. Lagian aku udah terlalu lama izin ke toilet. Aku mau kembali ke kelas dulu." Airin melangkahkan kakinya menuju tangga. Selalu saja, dia tidak bisa memberi kepastian Revan karena dirinya terlalu gerogi. Tapi lagi-lagi Revan menahannya.
"Gimana kalau kita bolos saja. Sudah terlambat 30 menit, kita gak mungkin boleh masuk sama Pak Robi."
Airin menatap Revan ragu. "Serius kita murid teladan di sekolah bolos pelajaran?"
"Sekali saja. Pelajaran kedua nanti kelasnya Bu Sonya. Kita langsung masuk." Revan mencari tempat yang aman agar tidak terlihat oleh guru piket yang tiba-tiba berkeliling. "Duduk sini." Revan duduk di dekat tong kosong sebagai penutup tubuh mereka.
"Aku takut kalau dilaporkan ke Ayah." Meskipun ragu tapi Airin kini juga ikut duduk di sebelah Revan.
"Kalau hanya sekali gak akan dilaporkan, dua kali hanya diberi peringatan. Baru yang ketiga dilaporkan pada wali murid."
"Baik Pak Ketos. Paham."
Revan justru tertawa. Dia merasa sekarang lebih bandel daripada sebelumnya. "Jangan ungkit jabatan pas aku lagi gak bener kayak gini."
Airin juga ikut tertawa. "Iya, lucu ya. Semoga aja gak ada yang tahu kalau kita bolos di sini. Bahaya kalau anggota kamu sampai tahu."
"Iya." Kemudian Revan menghela napas panjang. Dia kembali mengingat kejadian yang di luar nalar barusan. "Kenapa bisa makhluk itu menjadi kamu? Dan aku bisa melihatnya bahkan menyentuhnya."
Airin menggelengkan kepalanya. "Aku juga gak tahu, tapi sepertinya itu hantu yang sama yang ada di tubuh Siska. Kata Azka, hantu itu adalah ibunya Siska."
"Ibunya Siska?"
Airin menganggukkan kepalanya. "Itu hanya dugaan sementara. Nanti sepulang sekolah, aku akan selidiki masalah ini dengan Azka."
"Nanti kan ada latihan basket," kata Revan.
"Iya, biar aku lihat sekalian. Udah lama aku gak lihat Azka main basket."
Revan tahu, meskipun suatu saat nanti dia memiliki Airin, akan selalu ada Azka di antara mereka. Dia tidak mungkin melarang Airin agar tidak dekat dengan Azka.
...***...
Hingga pelajaran pertama selesai, Airin dan Revan tak juga kembali ke kelas.
"Mel, Airin chat kamu gak?" tanya Azka. Sebenarnya dia sudah curiga, pasti Airin izin ke toilet untuk mencari Revan.
"Kayaknya hp Airin ada dalam tas."
__ADS_1
Benar saja dugaan Azka, beberapa saat kemudian Revan dan Airin masuk ke dalam kelas secara bersamaan.
"Ciee, habis bolos bareng."
"Pak Ketos ngasih contoh buruk saja!"
"Woy, Pak Ketos juga insan biasa yang ingin merasakan indahnya masa remaja yang nakal." kata teman-teman sekelas mereka, tapi Airin dan Revan tak menggubrisnya.
Airin kembali mengambil tasnya dan berpindah ke tempat duduknya semula yang berada di depan Revan.
"Udah rujuk aja. Cepet banget baikan kalau berantem." kata Melodi sambil membawa tasnya kembali ke tempat duduknya semula.
"Ih, rujuk apaan sih." Airin duduk di bangkunya sambil tersenyum malu.
Azka hanya menatap Airin. Sepertinya memang sudah ada sesuatu di antara mereka.
Semakin tidak ada celah untuk aku masuk ke dalam hati Airin.
...***...
Sepulang sekolah, Airin duduk di deretan penonton bersama Melodi untuk melihat Azka dan timnya bermain basket. Beberapa saat kemudian Siska duduk di sebelah mereka.
"Keren ya!" kata Siska sambil tersenyum.
Seketika bulu kuduk Airin merinding. Hawa negatif itu kembali terasa. Sepertinya sosok halus itu kembali menguasai Siska.
Airin semakin menautkan alisnya saat melihat Siska yang sepertinya sedang menggoda Pak Satya.
"Minum dulu."
Seketika Airin mengalihkan pandangannya dari Siska saat Revan menyodorkan minuman dingin dan duduk di sampingnya.
"Kamu belum pulang?" tanya Airin sambil mengambil botol minuman itu dari tangan Revan.
"Belum." Ya, tentu saja karena dia ingin menemani Airin. Dia tidak mungkin membiarkan Airin hanya berdua dengan Azka.
"Ai, aku pulang dulu ya." Melodi tiba-tiba saja berdiri.
"Kenapa pulang?" tanya Airin sambil menatap Melodi yang mulai berjalan menuju pintu.
"Disuruh Ayah pulang." Melodi melambaikan tangannya pada Airin. Sebenarnya dia sengaja memberikan waktu untuk Airin dan Revan berdua. Melodi memang sahabat yang sangat pengertian.
Airin kembali meluruskan pandangannya lalu meneguk minuman dingin itu. Setelah habis setengah botol dia letakkan minuman itu di sampingnya.
__ADS_1
Pandangan mata Airin kini tertuju pada Siska yang sedang mengikuti Pak Satya ke ruangannya.
"Van, aku penasaran sama Siska. Aku mau ikuti dia." Airin berdiri dan berjalan menuju ruangan Pak Satya yang berada di dalam ruang latihan itu.
Revan juga mengikuti Airin. Mereka kini berdiri di dekat pintu untuk mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Pak Satya kalung saya mana?" tanya Siska sambil duduk di hadapan Pak Satya.
"Kalung?" Pak Satya mengernyitkan dahinya sambil menatap Siska.
"Iya, kalung yang berliontin hati."
"Itu punya kamu?"
"Iya, itu punya saya yang dikasih pacar saya."
Seketika Pak Satya membulatkan matanya menatap Siska. Tanpa efek tipu daya apapun, Pak Satya bisa melihat bahwa Siska sangat mirip dengan seseorang di masa lalunya.
Pak Satya mengambil kalung itu, lalu membukanya. "Ini bukan foto kamu." Foto yang terlihat usang itu jelas bukan foto Lisna. Seharusnya di sebelah foto itu adalah foto dirinya, yang sekarang sudah tidak ada.
Siska mengambil kalung itu dan tersenyum. "Kalau begitu saya mirip gak dengan orang yang ada di foto ini?"
Pak Satya tak menjawab. Dia semakin mengamati Siska. "Iya, kenapa kamu bisa sangat mirip, apa kamu adiknya Lisna?"
"Karena saya adalah benih yang Bapak tinggalkan 18 tahun yang lalu, tepatnya 15 Oktober di UKS."
Seketika Pak Satya berdiri dan sangat terkejut. "Gak mungkin!"
"Kenapa gak mungkin?"
Pak Satya semakin berjalan mundur saat Siska semakin mengintimidasinya.
"Gak mungkin! Karena aku melakukannya cuma sekali. Aku juga sudah mencari Lisna saat aku kembali, tapi aku tidak bertemu."
"Kamu cari dimana!" tatapan Siska semakin menakutkan.
"Di rumah Lisna." Punggung Pak Satya sudah terbentur tembok. Dia tidak bisa bergerak lagi karena Siska semakin mendekatinya.
"Jelas, Pak Satya tidak bertemu. Karena Lisna sudah ada di kuburan!" Wajah Siska berubah menjadi sangat mengerikan. Dia semakin menatap tajam Pak Satya dengan satu tangan yang menyergap kaos Pak Satya. "Kalau Pak Satya mau, saya bisa mempertemukan Pak Satya dengan Lisna!"
Pak Satya tercekat mendengar kalimat itu. Tatapan mata Siska yang sangat tajam seolah membawa Pak Satya ke masa lalu.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...