Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Kenangan Manis


__ADS_3

"Ai, apa kamu sudah melupakan apa yang dilakukan Azka?"


Airin terpaku menatap Revan, mengapa tiba-tiba dia bahas masalah itu lagi. "Aku..." Jelas saja dia tidak akan melupakan itu semua.


"Aku tahu, kamu gak akan bisa melupakan kejadian itu. Sama halnya seperti aku. Beberapa hari ini aku berpikir, bagaimana caranya menghapus memori buruk itu." Revan menangkup kedua pipi Airin dan menatapnya lekat. "Kita hapus semua kenangan buruk bersama ya."


"Hmm, caranya?" Airin semakin menatap Revan. Dadanya benar-benar berdebar tak karuan.


"Menghapus kenangan buruk itu dengan kenangan manis."


Airin mengernyitkan dahinya tak mengerti maksud Revan. Beberapa detik kemudian dia menyadari maksud dari perkataan Revan saat wajah Revan semakin mendekat. Airin tercekat dia menahan napasnya beberapa saat ketika bibir itu menyentuh bibirnya. Apa yang harus dia lakukan? Seketika dia blank. Lututnya saja terasa melemas, hingga membuat kedua tangan Airin kini berpegangan pada pinggang Revan.


Bibir Revan menyapu lembut bibirnya, terasa hangat dan basah. Airin masih bingung, bagaimana cara membalasnya. Dia tidak tahu, dia tidak bisa. Akhirnya dia hanya memejamkan matanya dan sedikit membuka bibirnya, memberi celah pada Revan untuk semakin memperdalam ciumannya.


Satu tangan Revan kini berpindah ke tengkuk leher Airin. Dia semakin memperdalam ciumannya dengan lembut saat merasakan Airin sudah menerima kehadirannya dengan terbuka. Bahkan kini Airin sudah membalasnya secara perlahan.


Hingga satu menit, sampai napas mereka terasa sesak, Revan melepas pagutannya. Dia kini mengusap bibir Airin yang basah karena ulahnya. "Mulai sekarang kita lupakan kenangan buruk itu. Anggap saja, inilah ciuman pertama kita."


Airin hanya tersenyum kecil. Jelaslah dia akan selalu mengingat momen ini, bahkan mungkin malam ini dia tidak bisa tidur karena terbayang-bayang momen ini.


"Ai, kalau kamu ingin baikan sama Azka gak papa. Kejadian itu sudah berlalu."


Airin hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Revan memang selalu bisa mengerti dirinya.


Belum juga detak jantungnya stabil, Revan kembali mendekatkan dirinya, meski kali ini hanya sebuah kecupan singkat tapi terasa begitu dalam.


"Pulang yuk!" ajakan Revan menyadarkan Airin dan membawanya kembali berpijah di bumi.


Airin menganggukkan kepalanya lalu mereka keluar dari ruang OSIS. Mereka berjalan menuju tempat parkir dengan tangan yang saling terpaut.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah naik ke atas motor. Tak lupa, tangan Airin memeluk Revan dari belakang lalu motor itu melaju meninggalkan tempat parkir sekolah.


Airin masih saja tersenyum sendiri mengingat apa yang dilakukannya bersama Revan barusan. Indahnya...


...***...


"Airin, sudah tidak ada yang tertinggal barang-barang kamu untuk camping?" tanya Bunda Rili sambil membantu putrinya menyiapkan barang-barang untuk camping besok.

__ADS_1


Airin kembali mengecek cek list nya. Semua sudah penuh. "Sudah, Bun."


"Adek, aku ikut dong. Ih, di sekolah aku gak ada camping selama tiga tahun ini." kata Ayla.


"Ih, gak boleh. Ngapain kakak mau ikut."


"Ya mau jagain kamu lah, pasti di sana nanti pacaran muluk kerjaannya."


Rili hanya tersenyum mendengar kedua putrinya berdebat.


"Enak aja, Revan itu ketos. Dia sibuk siapin acara."


"Ketos kan ada anggota. Dia enak tinggal suruh-suruh aja lalu mojok berdua. Tuh Bun, bahaya kalau Airin berduaan di hutan." Ayla semakin memanasi Bundanya.


"Kak Airin apaan sih. Siapa juga yang berduaan di hutan. Nggak, Bun." Airin kini bergelayut di lengan Bundanya.


"Sudah, kalian ini ribut aja. Ayla, kamu di rumah aja. Siapkan kuliah kamu. Sudah registrasi belum?"


Ayla melipat tangannya sambil memanyunkan bibirnya. "Ayah itu deskriminasi. Kenapa sih aku disuruh masuk jurusan boga. Meskipun nanti jadi penerus kafe kan ada chef, aku gak perlu turun tangan ke dapur."


Rili juga meraih bahu Ayla. "Ayla, meskipun nantinya ada chef, kamu juga harus tahu proses pembuatannya, cita rasanya bagaimana, dan yang paling penting kamu harus bisa mencari menu-menu terbaik untuk kafe."


"Tapi malas Ayah. Cita-cita teman-teman Ayla itu bagus-bagus, ada yang ingin jadi Dokter, Perawat, Dosen."


"Sekarang Ayah tanya, kamu sanggup gak masuk fakultas kedokteran?"


Ayla menggelengkan kepalanya. Jelaslah dia tidak bisa masuk ke sana.


"Ayah itu memberi kamu solusi yang terbaik. Usaha sudah ada nanti tinggal kamu kembangkan atau kamu mau buka anak cabang di tempat lain juga bisa. Gini aja." Alvin mengambil ponselnya lalu membuka akun youtube nya. "Akun youtube Ayah udah lama banget gak aktif. Subscribernya udah ratusan ribu. Ayah dulu bisa buka kafe juga hasil jadi youtuber. Sekarang masih ada sedikit-sedikit viewernya karena udah gak ada konten baru lagi. Akun ini Ayah serahkan sama kamu kalau kamu sudah jadi mahasiswi fakultas boga."


Ayla kini menatap akun dengan ratusan ribu subscriber itu. Total viewer sudah ratusan juta. Seketika matanya berbinar dengan bibir yang tersenyum lebar.


Dia membuka beberapa video Ayahnya waktu masih muda dulu, Ayahnya sering mereview makanan dan memberi resep masakan simple tentu saja dengan cara pembuatannya.


"Ayah masih muda." Airin mendekat dan ikut melihat video Ayahnya.


"Iya, Ayah dulu mulai jadi youtuber waktu kuliah di Amerika. Selain kuliah, Ayah sibuk mencari modal, sibuk banget sampai Ayah gak pernah hubungi Bunda kalian waktu pacaran dulu." Alvin tersenyum kecil saat mengingat perjuangannya LDR selama empat tahun. "Ayah dulu benar-benar ingin membuka sebuah kafe dan restoran sendiri, Ayah mulai semuanya dari bawah. Semua yang Ayah lakukan dulu demi kehidupan kalian sekarang."

__ADS_1


Seketika Ayla dan Airin memeluk Ayahnya. "Makasih Ayah. Iya, Ayla akan nurut apa kata Ayah."


"Airin, fokus sama sekolahnya juga ya. Jangan pacaran terus." kata Alvin sambil mengusap rambut putrinya.


"Iya Ayah. Mulai sekarang Airin akan rajin belajar."


"Besok waktu camping kamu harus hati-hati. Jangan masuk ke dalam hutan sendirian, biar gak tersesat. Kalau ada apa-apa langsung kabari Ayah, di area perkemahannya ada sinyal kan?"


Airin menganggukkan kepalanya. "Sepertinya ada Ayah."


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Ini sudah malam."


"Iya Ayah."


Airin berdiri lalu naik ke lantai atas bersama Kakaknya. Masih terdengar suara cerita mereka sampai mereka berpisah ke kamar masing-masing.


"Masalah Ayla akhirnya beres. Tinggal Airin. Ayah amati nilainya sebagian ada yang turun." Alvin menggeser duduknya lalu merengkuh bahu istrinya.


"Airin dan Ayla kenapa gak ada yang meniru Mas Alvin dulu ya. Mas Alvin dulu sampai bisa dapat beasiswa diluar negeri. Mereka berdua sama kayak aku, ada apa-apa sedikit langsung ngefek ke nilai pelajaran."


"Semua itu ada porsinya sendiri-sendiri. Yang penting kita sudah menata masa depan mereka. Aku sebenarnya juga gak masalah Airin pacaran asal masih tahu batasan."


Rili menganggukkan kepalanya. "Iya, semoga saja Airin tidak seperti kita dulu."


Alvin memencet hidung istrinya sesaat. "Hah, iya, memang jiwa muda kadang nakal dikit. Sekarang kita tidur yuk, Bun."


Rili hanya tersenyum. Hanya dari tatapan mata saja, dia sudah mengerti apa maksud suaminya.


💕💕💕


.


Alvin ini idola aku dulu ya, dia nakal tapi pintar banget.


.


Aku kasih yg indah2 dulu nih sebelum yg tegang2 nanti. 🤭

__ADS_1


.


Like dan komen ya.


__ADS_2