Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Menanti Sebuah Jawaban


__ADS_3

Di sudut lain, ada Revan yang terus mengamati mereka berdua. Meski dia sudah paham dengan persahabatan mereka, tapi tetap saja setengah hatinya terluka.


Kemudian dia melangkahkan kakinya mendekat. "Airin..."


Seketika Airin mendongak menatap Revan. "Iya."


"Ada masalah apa? Sepertinya kalian mengobrol serius." tanya Revan, meski sebenarnya dia juga sudah mendengar apa yang mereka bicarakan. Pantas saja Airin begitu ingin Azka yang mengikuti olimpiade itu.


"Kalian mengobrol saja, aku mau ke kantin." Azka berdiri dan meninggalkan mereka berdua. Memang lebih baik dia yang mengalah demi kebahagiaan Airin, daripada Airin masuk dalam hidupnya yang rumit.


"Van, aku mau mundur dari olimpiade. Biar Azka yang menggantikan," kata Airin sambil berdiri.


"Iya, aku ngerti. Ayo aku temani ke Bu Sonya untuk bilang ini."


Airin menganggukkan kepalanya lalu mereka berjalan menuju ruang guru. Sesampainya di ruang guru, dia kini melihat piala-piala yang berjajar di etalase. Benar apa yang dikatakan Azka, ada beberapa piala dengan nama Arka. Dua piala yang sangat mencolok adalah piala juara 1 OSN tingkat Kota dan piala juara 1 OSN tingkat Provinsi. Itu artinya tinggal selangkah lagi Arka menuju ke tingkat nasional.


"Ada apa? Airin, Revan?" tanya Bu Sonya.


"Ini piala milik Arka kakaknya Azka ya, Bu?" tanya Airin berbasa-basi.


"Iya, ini milik Kakaknya Azka. Sayang sekali, takdir berkata lain. Padahal tinggal selangkah lagi dia akan mengikuti OSN tingkat nasional. Dulu Ibu yakin dia pasti bisa sampai ke kanca internasional, tapi begitulah takdir yang telah digariskan."


"Hmm, Bu, biarkan Azka yang mengikuti olimpiade ini. Saya tidak apa-apa mundur karena saya rasa yang lebih cocok mengikuti olimpiade ini adalah Azka."


Bu Sonya tersenyum lalu duduk di kursinya. "Kalau begitu kalian bertiga saja yang ikut. Tidak apa-apa di bidang Matematika ada tiga orang. Panggilkan Azka ke sini ya."


Seketika Airin tersenyum. "Iya Bu, terima kasih."


"Oiya, nanti kalau kalian ada waktu kalian belajar bersama ya, Ibu temani."


Airin dan Revan menganggukkan kepalanya lalu mereka keluar dari ruang guru. Mereka kini berjalan menuju kantin. Terlihat Azka sedang duduk dengan Tomi sambil mengobrol. Airin mendekatinya dan berdiri di sampingnya.


"Azka, kamu disuruh ke ruang guru menemui Bu Sonya."


"Ada apa?" tanya Azka.


Airin hanya menggelengkan kepalanya.


Kemudian Azka berdiri dan berjalan ke ruang guru. Revan dan Airin membeli minuman dingin terlebih dahulu lalu duduk di dekat Tomi.


"Udah jadian nih? Lengket amat kalian berdua." tanya Tomi.


Revan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Waduh, nunggu apa lagi sih. Kelamaan banget, cepat resmiin gih. Atau mau langsung ke KUA, tapi minta keringanan umur dulu ke pengadilan." Tomi tertawa menggoda Revan yang jarang bercanda itu.


"Apaan? Ngaco lo! Gue lagi nunggu jawaban."


"Ciee... Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu." Tomi tertawa sambil menyanyikan lagu Padi yang legendaris itu.


Airin hampir saja tersedak mendengar perkataan Revan. Pipinya kini bersemu merah, untunglah ada Melodi dan Siska yang kini mendekat hingga detak jantungnya bisa kembali stabil.


"Airin, kita cariin dari tadi ternyata kamu di sini."


"Hai Siska, aku gak nyangka ternyata kamu anak kandung Pak Satya," goda Tomi. "Untunglah aku udah masuk tim basket sekolah, jadi bisa sekalian PDKT sama calon mertua. Kalau calon mertua udah merestui, pasti mudah buat ambil hati anaknya."


Siska hanya mencibir, "Apaan sih."


"Tomi, Siska gak mempan dengan omongan buaya kayak kamu," kata Melodi sambil meminum es coklatnya.


"Lo gitu amat Mel sama gue. Lo punya dendam apa sama gue. Gue mau les piano di tempat lo aja diusir."


"Idih, kamu gak niat les malah godain cindo, kapok diusir sama Papa."


Tomi semakin tertawa, apalagi melihat ekspresi Revan dan Airin yang tidak mengerti maksud dari cindo.


"Cindo apaan?"


"Dasar!" Melodi menjitak kepala Tomi dengan botol Aqua yang telah kosong.


"Cowok normal. Revan dan Azka pasti kalau lihat cewek mulus juga matanya jelalatan."


"Eh, kenapa lo jadi bawa-bawa gue." Revan tak terima dengan ucapan Tomi.


"Hilih, ada pawangnya aja bilang gitu."


Airin hanya tertawa mendengar mereka berdua. Revan yang sekarang memang sudah tidak terlalu introvert seperti dulu. "Sis, kamu sekarang tinggal dimana?" tanya Airin.


"Masih di rumah nenek. Minggu depan aku baru pindah ke rumah Ayah."


"Semoga kamu bahagia ya."


"Makasih ya Ai, ini semua berkat kamu," kata Siska. Dia sangat beruntung, sekarang dia memiliki teman yang sangat baik seperti Airin dan Melodi.


"Iya, sama-sama." Karena berkat kejadian Siska itu, Airin jadi tahu isi hati Revan meski sampai sekarang dia belum menjawab pertanyaan Revan.


"Tapi Siska, berkat tragedi kamu ada yang ngerasain cemburu loh." kata Melodi.

__ADS_1


Seketika Airin mencubit pinggang Melodi. "Ih, Melo."


"Iya maaf, aku gak sadar apa yang aku lakukan tapi sepertinya ibu ingin menunjukkan cinta kalian berdua."


Seketika Airin tersenyum malu. Karena kejadian itu Revan akhirnya mengungkapkan semua perasaannya meski awalnya sempat salah paham.


"Sama-sama mau, udah kalian jadian aja," kata Tomi. "Gemes banget gue lihatnya."


"Hmm, aku duluan ya. Mau ke toilet." Airin berdiri yang disusul oleh Revan.


"Loh, mau ke toilet berdua."


Sebenarnya toilet hanyalah sebuah alasan klasik dari keadaan yang membuatnya salah tingkah. Tapi Revan justru menyusulnya dan menarik tangan Airin ke belakang kelas.


"Van, bel masuk mau bunyi." Airin berusaha melepas tangan Revan karena dadanya semakin berdebar tak karuan.


"Sebentar. Just one minute." Revan menghentikan langkahnya. "Aku, hmm, pertanyaanku kemarin masih berlaku."


Airin menatap Revan yang kini berdiri di hadapannya. Lalu dia tersenyum malu. "Pertanyaan?"


Revan tersenyum kecil lalu dia menatap lekat kedua mata Airin. "Oke, aku ulangi lagi. Will you be my girlfriend?"


Airin semakin tersenyum. "Oke, itu english vesion. Translate please."


Seketika Revan mencubit hidung mancung Airin. Tidak tahukan jika Revan juga sama salah tingkahnya seperti Airin. "Udah bel masuk, kita ke kelas aja," kata Revan pada akhirnya yang tidak sesuai ekspektasi Airin.


"Eh, hmm," Airin menggigit bibir bawahnya sesaat. Sepertinya dia memang terlalu lama mengulur waktu, bagaimana kalau Revan mengurungkan niatnya.


Kemudian Airin mendekatkan bibirnya di telinga Revan, "Aku mau jadi pacar kamu." Lalu dia berjalan mendahului Revan karena dia sangat malu dan pipinya bersemu merah.


Seketika Revan tersenyum merekah. Lalu dia menyusul langkah Airin. "Seriously?"


Airin menganggukkan kepalanya. "Tapi jangan bilang siapa-siapa dulu ya."


"Oke." Satu cubitan mendarat di pipi Airin lalu mereka berjalan menuju kelas dan sesekali masih tersenyum malu.


💕💕💕


.


🤭🤭


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2