Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Masuk Sekolah


__ADS_3

Setelah hari libur sekolah telah usai, kini Airin sudah masuk sekolah sebagai murid kelas dua belas. Dia melangkahkan kakinya jenjang melewati gerbang sekolah. Dia terus berharap semoga kejadian buruk tidak terjadi lagi pada dirinya dan sahabat-sahabatnya.


Baru melangkah di koridor kelas, Melodi dan Siska menyambut kedatangannya.


"Untunglah tahun ini kelas kita tidak diacak lagi." Mereka bertiga kini berjalan menuju kelas baru mereka.


"Kita duduk deketan ya," kata Siska.


"Si Airin pasti juga duduk di depannya Revan," kata Melodi.


"Ih, tahu aja." Airin masuk ke dalam kelas dan jelas saja Revan sudah datang, tempat duduk mereka sama seperti sebelumnya.


"Akhirnya kamu udah datang, di sini tempat kamu." Revan telah menandai tempat duduk Airin agar tidak ada yang menempati. "Ya udah aku mau nyiapin apel pagi untuk penyambutan murid baru."


"Iya."


Satu usapan mendarat di puncak kepala Airin. Setelah itu Revan keluar dari kelas.


"Tambah so sweet aja sih." Mereka bertiga kembali mengobrol sampai apel pagi dimulai.


Seluruh murid berkumpul dan berbaris rapi di lapangan untuk melakukan apel pagi dan menyambut kedatangan murid baru.


Airin tersenyum melihat Revan berdiri di depan lapangan dan memberi sambutan. Dia merasa bangga menjadi pasangan seorang ketua OSIS.


"Hati-hati, pacarnya diintai sama anak baru."


Airin hanya tersenyum mendengar bisikan Melodi. Memang iya, sebagian besar tatapan dari siswi baru menatap kagum pada Revan. Tapi Airin tak khawatir, Revan bukan tipe cowok playboy yang mudah tergoda dengan cewek lain.


Setelah apel dibubarkan, khusus hari itu tidak ada pelajaran. Semua murid hanya bersih-bersih kelas, perpustakaan, dan lainnya setelah itu bebas dan diperbolehkan untuk pulang.


Sampai acara bersih-bersih selesai, Revan masih sibuk dengan murid-murid baru. Dia memberikan materi pengenalan lingkungan sekolah sebagai tugas akhir menjabat sebagai ketua OSIS.


"Ai, kamu mau nungguin Revan?" tanya Siska. Kebetulan Melodi juga ditugaskan masuk dalam salah satu kelas murid baru jadi Airin hanya bersama Siska saja.


"Pulang aja. Kayaknya Revan masih lama. Kamu duluan gak papa. Aku dijemput kok."


"Oke." Siska akhirnya berjalan meninggalkan Airin.


Airin berjalan ke depan kelas sambil menghubungi Ayahnya. Tapi ternyata Ayahnya sedang ada acara diluar kafe. Akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan pada Revan.

__ADS_1


Tak berapa lama, Revan membalas pesan Airin. Dia kini tersenyum kecil saat Revan menyuruhnya untuk menunggu di taman samping.


"Ai, gak pulang?" tanya Azka yang baru saja mengambil tasnya.


"Iya, sebentar lagi aku pulang."


"Ya udah, aku duluan ya. Aku mau ke kafe Ayah kamu. Aku mulai training hari ini."


"Iya, semoga betah ya."


Kemudian Azka melambaikan tangannya lalu melangkah pergi meninggalkan Airin. Airin kini berjalan menuju taman. Sekolah sudah mulai sepi karena sebagian besar murid kelas sebelas dan dua belas sudah pulang. Hanya tinggal murid baru yang sekarang masih berada di dalam kelas.


Kemudian Airin melangkah melewati Laboratorium Biologi, ada satu hal yang menarik perhatiannya. Dia melihat Guru Biologi yang kemarin sempat dia lihat di depan bioskop tapi kali ini bukan bersama Nita, melainkan bersama gadis lain. Entah dia kelas berapa, Airin tidak mengenalnya.


"Itu Pak Diki yang kemarin kan? Mau ngapain ke Lab. Biologi." guman Airin sangat pelan.


Airin mendekat, bahkan pintu Lab itu juga ditutup. Pak Diki masih muda dan tampan, jelaslah beberapa siswi pasti tergoda pesonanya.


Kemudian Airin membungkukkan dirinya dan mengintip lewat lubang kunci. Dia melebarkan matanya saat melihat Pak Diki memeluk gadis itu dari belakang dengan tangan yang menyentuh dada gadis itu.


"Ahh, Pak, jangan gitu."


Sayup-sayup terdengar suara dari dalam ruangan itu.


Airin menegakkan dirinya dan membalikkan badannya tapi saat dia akan melangkah, dia menabrak dada bidang Revan.


"Ai, kenapa?"


"Nggak papa."


"Kamu barusan ngapain..."


Seketika Airin menutup mulut Revan karena Pak Diki membuka pintu laboratorium itu.


"Revan kamu belum pulang?" tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan ruang lab itu kini juga terbuka lebar. Entah gadis itu bersembunyi dimana sekarang.


"Belum Pak. Murid-murid baru juga masih belum pulang."


"Bapak selesai membersihkan ruang lab. Debunya banyak sekali. Ya sudah, saya mau pulang dulu."

__ADS_1


"Iya, Pak." Revan menganggukkan kepalanya.


Airin segera menarik tangan Revan agar mengikutinya. Mereka kini duduk di taman samping kelas yang sepi.


"Kenapa?"


Airin menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan jika tidak ada siapapun di tempat itu. Kemudian Airin mendekatkan bibirnya di telinga Revan. "Tadi aku lihat Pak Diki sama cewek di dalam lab itu."


"Sama Nita?"


"Bukan, aku gak kenal. Pak Diki melecehkan cewek itu."


"Kamu yang benar?"


Airin menganggukkan kepalanya. "Iya, aku gak salah lihat."


Revan nampak berpikir, benarkah Pak Diki melakukan tindak asusila di lingkungan sekolah. Jika benar masalah ini harus segera dilaporkan.


"Kamu ikut aku." Revan menarik tangan Airin menuju belakang lab. Biologi. Di sana ada ventilasi yang tidak tertutup, tapi lumayan tinggi.


Revan mengambil dua kursi yang telah usang dan tidak terpakai lalu menumpuknya. Dia naik ke atas kursi itu lalu mengintip ke dalam ruang lab lewat ventilasi. Benar kata Airin, Pak Diki ada di belakang cewek itu dan menggerakkan pinggulnya cepat dengan celana yang setengah melorot.


Revan segera mengambil ponselnya tapi belum sempat merekam, satu kaki kursi itu patah dan membuat Revan terjatuh.


Tentu saja suara Revan jatuh bersama kursi itu cukup keras.


"Van, kamu gak papa kan?" tanya Airin sambil membantu Revan berdiri.


"Ssttt..." Revan segera menarik Airin bersembunyi.


Sesuai dugaan Revan, Pak Diki datang ke tempat itu dan mengecek tempat itu. Untunglah, ada kucing yang lewat hingga membuat Pak Diki tidak curiga lagi dan pergi dari tempat itu.


"Van, kamu gak papa kan?" tanya Airin setelah Pak Diki pergi.


"Gak papa. Hanya sakit dikit," kata Revan sambil mengibaskan lengannya yang kotor. "Ternyata benar apa kata kamu, Pak Diki gak bener. Sayang banget aku gagal merekamnya."


"Bahaya kalau semakin banyak korban, Van."


"Iya, masalahnya kita harus cari bukti dulu sebelum melapor." Revan menghela napas panjang. "Kamu hati-hati ya karena Pak Diki akan mengajar di kelas kita mulai tahun ini."

__ADS_1


Airin menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia juga tidak habis pikir, bagaimana bisa teman perempuannya terperangkap oleh Pak Diki? Sudah jelas-jelas dia seorang guru dan melakukan hal itu jelas dilarang.


"Ayo, kita pulang sekarang." Revan menarik tangan Airin agar segera pergi dari tempat itu.


__ADS_2