Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Hari Kelulusan


__ADS_3

Hari itu, semua murid kelas dua belas bersuka cita karena mereka semua berhasil lulus dengan nilai yang bagus.


"Airin, selamat ya. Nilai kamu hampir menyamai nilai Azka," kata Melodi memberi semangat pada Airin.


Airin juga tak menyangka dengan nilai yang dia dapat. Dia bisa masuk lima besar di sekolahnya. Otomatis dia dan Azka bisa lolos masuk ke kampus negeri sesuai keinginannya.


"Melo, kamu gak masuk kampus yang sama kayak kita? Nilai kamu juga memenuhi kriteria."


Melodi menggelengkan kepalanya. Keputusannya sudah bulat untuk masuk di fakultas musik, dimana Papanya bekerja juga sebagai dosen. "Aku mau awasi Papa di kampus." Melodi tersenyum penuh arti karena dia sangat penasaran dengan kehidupan Papanya ketika di kampus.


"Astaga, ini gak kebalik. Ya Papa kamu kali yang ngawasi kamu," kata Siska karena dia juga akan satu kampus dengan Airin.


"Yang nakal itu Papa bukan aku." Melodi tertawa kecil. Baginya Papanya memang sudah seperti sahabatnya sendiri. "Kalian berdua tenang aja, kita masih bisa tetap bersama kok." Mereka bertiga saling berpelukan.


"Woy, gue ikut pelukan." Tomi mendekat tapi langsung didorong oleh Melodi.


"Idih, jijay lo. Pelukan sana lo sama Azka."


Mereka bertiga melepas pelukannya lalu bersalaman dengan Azka.


"Selamat ya Azka. Akhirnya kamu bisa seimbang dengan Revan." kata Melodi. "Btw, kamu gak mau kuliah di luar negri juga?"


Azka menggelengkan kepalanya. "Nggak. Aku sudah masuk di universitas negeri sama Airin."


Sedangkan Airin kini teringat sesuatu. Ya, janjinya dengan Revan. "Aku duluan ya, ada perlu. Azka nanti kalau kamu mau registrasi bilang sama aku ya."


"Iya."


Airin memutar langkahnya. Hari itu dia sudah membuat janji dengan Revan di atas gedung sekolah. Sesuai keinginannya, dia ingin berkencan dengan Revan sehari saja sebelum Revan berangkat ke luar negeri.

__ADS_1


Airin menaiki tangga itu dengan cepat. Setelah sampai di atap gedung, terlihat Revan sudah berdiri di sana sambil menatap birunya langit yang sangat cerah itu.


"Udah lama?" tanya Airin. Dia kini berdiri di samping Revan.


Revan menggelengkan kepalanya dan beralih menatap Airin. "Baru aja."


Mereka kini saling bertatapan tanpa berkata. Beberapa detik kemudian mereka saling berpelukan. "Baru beberapa bulan jaga jarak sama kamu rasanya aku sudah kangen, bagaimana jika aku gak bertemu dengan kamu."


Revan tersenyum sambil mengusap rambut Airin. "Apa yang kamu rasakan itu sama dengan apa yang aku rasakan. Tapi kamu lihat hasilnya, nilai kamu sangat bagus. Nanti saat kita bertemu lagi, kita pasti sudah sukses."


Airin semakin mengeratkan pelukannya dan menghirup dalam aroma tubuh Revan.


"Hari ini mau jalan kemana?" tanya Revan. Dia cium puncak kepala Airin sesaat.


Airin menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau kemana-mana. Aku ingin dekat dengan kamu seperti ini, seharian ini."


"Oke." Revan melepas pelukannya lalu mereka duduk di dekat gudang yang teduh. Mereka sama-sama bersandar di tembok. Satu tangan Revan kini menggenggam tangan Airin. "Hari sangat cepat berlalu. Rasanya seperti baru kemarin aku menjadi murid baru di sekolah ini lalu aku jatuh cinta pada gadis yang sekarang ada di samping aku." Revan menatap Airin yang tersenyum malu. "Dulu aku gak terlalu berharap karena aku kira kamu lebih suka sama kapten basket, sampai aku akhirnya jadian sama Della dan semua peristiwa itu terjadi yang membawa aku dekat dengan kamu."


"Iya, kamu yang sudah mampu mencairkan hati aku." Kemudian Revan mencium tangan Airin. "Aku gak pernah berhenti berharap bahwa kamulah masa depan aku. Entah cerita apa yang akan terjadi selama empat tahun ini, aku pasti akan kembali di sini. Jika nanti aku sudah kembali dan kamu sudah memiliki cinta yang lain, aku gak akan usik kamu lagi."


"Cinta yang lain? Aku gak pernah memikirkan itu. Mungkin kamu yang kecantol bule di sana."


Revan tertawa lalu melingkarkan tangannya di pinggang Airin. "Semua memang bisa terjadi karena perasaan manusia itu sewaktu-waktu bisa berubah. Kita jalani saja hidup ini apa adanya." Kemudian satu kecupan mendarat di pipi Airin


Airin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Revan memang selalu bisa menenangkan hatinya. Dia tidak mungkin bisa mengganti cinta Revan begitu saja.


Kini mereka masih saja saling bertatapan, beberapa detik kemudian wajah itu saling mendekat. Bibir yang telah menjadi candu itu kini saling bersentuhan dan memagut. Menikmati manisnya madu dan semakin menyesapnya begitu dalam.


Satu tangan Revan bergerak perlahan di punggung Airin lalu dia menyusuri leher belakang Airin yang membuat Airin melenguh tertahan dan mendongakkan kepalanya. "Aku pasti akan merindukan ciuman ini." bisik Revan di dekat telinga Airin kemudian dia lu mat cuping telinga Airin sesaat lalu bibir itu perlahan turun ke leher jenjang Airin yang seputih susu itu. Menyusurinya dan menyesapnya kecil tanpa meninggalkan jejak.

__ADS_1


Airin semakin mendongak sambil menggigit bibir bawahnya. Karena desiran aneh di dirinya seolah mendorong suara Airin untuk men de sah.


Kecupan Revan berhenti di leher depan Airin tepat di atas dadanya. Kemudian dia sandarkan keningnya di bahu Airin. Dia tarik napas panjang berulang kali untuk menenangkan hasrat yang tiba-tiba terpancing. "Sorry, Ai. Tegangannya terlalu tinggi." Revan tertawa kecil lalu menegakkan dirinya.


"Nakal. Buat aku ser-ser an aja." Airin juga tertawa. Pipinya masih merona karena sudah dibawa Revan terbang beberapa saat.


"Bawaannya pengen nikahin kamu aja. Andai aja aku udah sukses dan udah bisa bahagiain kamu pasti aku akan langsung datang melamar kamu."


"Kalau kayak gini gimana aku bisa lepasin kamu."


Revan kembali merengkuh bahu Airin. "Beberapa bulan ini kita sudah berhasil menjalaninya tanpa komunikasi meskipun masih bertemu di sekolah. Aku yakin kita bisa. Kita fokus kuliah dulu demi kebahagiaan yang sebenarnya."


Airin menganggukkan kepalanya lalu bersandar di bahu Revan. "Aku boleh minta satu lagi gak?"


"Apa?"


"Nanti kan ada acara perpisahan, kamu bisa peform gak?"


"Peform? Nari?"


Airin semakin tertawa. Bisa-bisanya Revan beranggapan jika Airin memintanya untuk menari. "Bukan, ih. Aku mau dengar kamu nyanyi sambil main gitar."


"Ai, aku biasanya pidato gak pernah nyanyi."


Airin semakin tersenyum dan membayangkan jika Revan benar-benar perform di atas panggung. "Pasti sweet banget."


Revan tersenyum lalu mencium kecil pipi Airin. "Oke, aku akan perform sesuai permintaan kamu. Tapi bukan buat kamu saja ya, buat seluruh teman-teman kita yang ada di sekolah."


"Ya, sweetnya dibagi-bagi."

__ADS_1


Revan mencubit pipi Airin saking gemasnya. Dia berharap suatu saat nanti dia bisa kembali bersama dengan Airin.


__ADS_2