
Suara nyanyian ceria terdengar di pagi hari itu ditambah suara hairdryer yang dipakai Siska untuk mengeringkan rambutnya. Kemudian dia memakai seragam putih yang baru dia kecilkan semalam dan rok abu-abu yang lebih pendek dari kemarin.
Lalu memoles wajahnya dengan bedak, alis tipis, dan lipbalm beraroma strawberry. Tak lupa memakai handbody dan menyemprot minyak wangi di badannya.
"Hampir lupa kalau hari ini pelajaran olahraga." Kemudian Siska memasukkan seragam olahraganya ke dalam tas.
"Cantik." Siska mengurai rambutnya yang sekarang lebih lembut dan tidak kusut lagi. Dia berjalan bak seorang model keluar dari kamarnya.
"Nenek, aduh, Siska kesiangan." Siska langsung menyomot roti dan memakannya.
Nenek Titik terkejut melihat penampilan Siska pagi hari itu. Bahkan Siska tak pernah seceria ini. "Siska, kenapa rambut kamu terurai? Kacamata kamu mana? Terus ini kenapa seragamnya jadi kecil gini." Nenek Titik menarik seragam putih Siska yang pres body itu.
"Nenek, cuma ini caranya biar Siska gak dibully lagi." Siska menghabiskan rotinya lalu mencium punggung tangan neneknya. "Dada nenek." Kemudian Siska keluar dari rumahnya dengan semangat.
Nenek Titik mengusap dadanya lalu terduduk dengan lemas. "Mengapa Siska jadi seperti itu?"
...***...
Airin dan Melodi menghentikan langkahnya saat berjalan di koridor kelas. Mereka membalikkan badannya ketika mendengar teman-temannya heboh dan bersorak.
Kedua mata Airin membulat saat melihat penampilan Siska yang berubah drastis. Dia sangat cantik dan memancarkan aura yang memikat. Siapa saja yang melihat senyumannya pasti akan terpesona.
"Hai, pagi Airin, Melodi." Siska menengahi mereka berdua lalu kedua tangannya merangkul pundak Airin dan Melodi.
"Kirain tadi siapa. Sumpah, kamu cantik banget," kata Melodi.
"Biasa aja. Ya, setelah aku pikir-pikir lebih baik aku berubah seperti ini daripada terus dibully."
Airin merasakan ada hawa negatif saat berdekatan dengan Siska. Bulu kuduknya merinding. Dia menatap Siska tapi dia tidak melihat kehadiran makhluk tak kasat mata itu.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Siska?
__ADS_1
Mereka bertiga kini masuk ke dalam kelas dan langsung diserbu tatapan dari teman-teman sekelas mereka termasuk Ria.
Siska melepaskan tangannya dari Airin dan Melodi lalu dia berjalan dengan percaya diri menuju bangkunya.
"Heh! Lo tuh gak pantas dandan kayak gini." Ria menjambak rambut Siska karena dia merasa kesal kitika ada yang menyaingi kecantikannya.
Tapi Siska mencengkeram tangan Ria dengan kuat hingga Ria meringis kesakitan. "Emang kenapa? Lo takut gue saingi. Semua mata juga bisa lihat, lo dan gue itu cantik siapa?" Kemudian Siska melepas kasar tangan Ria.
Merasa tidak terima dengan perkataan Siska, Ria mengangkat tangannya dan akan menampar Siska, tapi dengan cepat ada yang menahan tangannya.
"Ria, jangan gunakan kekerasan!" Revan melepas kasar tangan Ria. Sebagai ketua OSIS, dia ingin sekali para murid di sekolah itu berlaku baik, damai, dan tidak ada pembullyan lagi. Tapi hal itu sangat sulit dia wujudkan.
Revan kini beralih menatap Siska.
Siska tersenyum dengan manis. "Makasih ya..."
Entah mengapa senyuman itu membuat Revan terpesona. Dia terpaku beberapa saat. Kecantikan itu sangat memikatnya.
Kayak ada yang aneh dengan Siska? Dia seperti bukan dirinya sendiri. Apa dia dikuasi oleh makhluk halus?
Airin masih saja menautkan alisnya. Dia kini melihat Revan yang juga tidak seperti biasanya. Wajah Revan seolah tidak bisa berpaling dari Siska.
"Hei, bengong aja?" Azka datang dan mencubit hidung mancung Airin.
"Aduh! Ih, jangan dicubit." Airin menepis tangan Azka.
"Nanti mau gak aku ajarin main basket," kata Azka sambil duduk menyamping di bangkunya dan menatap Airin.
"Tinggi aku rata-rata banget. Sulit mau masukin bolanya."
"Meskipun gak tinggi, kalau tahu tekniknya pasti bisa masukin bolanya." Azka tertawa di ujung kalimatnya.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Aku gak tinggi." Airin kini membalas Azka dengan cubitan di pinggangnya.
Mendengar suara tawa Airin seketika Revan tersadar. Dia menggaruk kepalanya dan melihat Airin yang sedang bercanda dengan Azka. "Ai," panggil Revan karena suasana hatinya kini mulai memanas saat melihat kedekatan mereka berdua.
"Iya." Airin melepas tangannya dari Azka lalu duduk menyamping di bangkunya sambil menatap Revan. Wajah Revan sudah berubah. Tatapannya juga tidak kosong lagi.
"Nanti sepulang sekolah belajar bareng yuk. Aku udah dapat materi untuk olimpiade matematika nanti," ajak Revan.
Belum juga Airin menjawab, Azka sudah menyahutinya. "Halah, alasan aja belajar bareng padahal pengen dekat-dekat. Lo tuh masih dalam masa berkabung, jangan cari pelarian!"
"Terus yang mau ajarin main basket tadi siapa? Modus lo kan, biar bisa pegang-pegang Airin."
Airin memutar bola matanya. Mulai lagi mereka bertengkar. Dia kini berdiri sambil membawa baju olahraganya lalu keluar dari kelas bersama Melodi. Dia biarkan mereka berdua bertengkar.
"Loh, Ai?" Revan dan Azka menatap kepergian Airin. Kemudian mereka sama-sama berdiri sambil membawa seragam olahraganya dan keluar menyusul Airin.
Tatapan mata Siska begitu tajam menatap mereka. Dia juga berdiri sambil membawa seragam olahraganya lalu keluar dari kelas.
Beberapa teman laki-laki sekelasnya kini mengikuti langkah Siska.
"Rumah kamu dimana? Kenalin aku Tomi." Tomi mengulurkan tangannya tapi ditepis oleh Ivan.
"Jangan mau sama nih orang, dekil, item gitu."
Sedangkan Siska tak mendengar perkataan mereka semua. Pandangannya hanya fokus pada Azka dan Revan yang berjalan di belakang Airin.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1