
Putri membalikkan badannya dan menatap Revan. Beberapa detik kemudian, dia mengangguk kaku. "Apa Kak Revan menolakku karena sudah punya pacar?"
"Iya, aku sudah punya pacar. Gak papa, hari ini aku antar pulang. Sudah sore, kamu kelihatannya juga lagi gak enak badan." Revan kembali menaiki motornya.
Beberapa saat kemudian Putri juga naik ke boncengan Revan.
"Rumah kamu dimana?" tanya Revan sebelum menjalankan motornya.
"Di jalan Mawar."
Rumahnya di daerah rumah Airin?
Tanpa bicara lagi, Revan melajukan motornya. Tidak ada pembicaraan selama perjalanan. Setelah sampai di daerah jalan bunga-bunga itu, barulah Revan bertanya. "Masuk gang atau tidak?"
"Turun sini saja," kata Putri.
Akhirnya Revan menghentikan motornya di dekat gapura yang bertuliskan jalan Mawar.
Kemudian Putri turun dari motor Revan. "Hmm, Kak, aku boleh minta sesuatu gak?"
"Apa?" Revan membuka kaca helmnya.
"Bisa gak kita pacaran pura-pura. Sehari saja?" pinta Putri.
Revan menggelengkan kepalanya. "Maaf ya, gak bisa. Aku sudah punya pacar." Revan bersiap melajukan motornya.
"Nanti aku bilang sama pacar Kak Revan."
Revan hanya tersenyum. "Udah ya." Kemudian dia kembali melajukan motornya.
Ada-ada saja. Ingin jadi pacar pura-pura?
Revan kini melewati rumah Airin. Kebetulan sekali, Airin sedang menyiram tanaman di dekat pagar.
Tinn!
Revan sengaja membunyikan klakson di dekat Airin yang membuat Airin terkejut.
Airin kini menatap Revan yang membuka helmnya dan tersenyum ke arahnya. "Revan, kamu dari mana?" tanya Airin sambil mematikan kran airnya.
"Dari sekolah, kebetulan tadi disuruh Pak Widodo buat proposal. Lalu gak sengaja ketemu Putri dan aku antar pulang," jawab Revan dengan jujur. Dia tidak akan pernah menutupi apapun dari Airin.
Airin kini mendekati Revan yang masih duduk di atas motornya. "Putri yang ngasih kamu kado tadi?"
Revan menganggukkan kepalanya. "Iya, maaf ya, aku gak bilang kamu dulu kalau mau antar dia soalnya dia kelihatan pucat banget. Ternyata rumahnya di jalan Mawar sini."
"Deket dong dari sini."
"Iya, lumayan. Mungkin masih satu RW sama kamu. Tadi aku mau kembalikan kado yang dia kasih tapi dia gak mau." Revan membuka tasnya lalu mengambil kado itu dan dia berikan pada Airin. "Kamu bawa aja ya. Biar kamu saja yang simpan."
Airin mengambil kotak yang sedari tadi membingungkan itu dari tangan Revan. "Ya udah, biar aku simpan. Kamu masuk dulu gih."
__ADS_1
Revan menggelengkan kepalanya. "Udah sore, aku pulang dulu ya."
"Ya udah, hati-hati." Airin melambaikan tangannya seiring kepergian Revan.
Airin segera membereskan pekerjaannya lalu masuk ke dalam rumah. Dia menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Dia letakkan kado itu di atas nakas. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh dirinya.
Tak butuh waktu lama, dia keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Dia kini duduk di depan meja riasnya lalu menyisir rambutnya yang basah.
Beberapa saat kemudian ada sebuah pesan masuk ke dalam chat whatsapp nya.
"Nomor siapa?" Airin mengernyitkan dahinya membaca nomor yang tidak dia kenal itu. Kemudian dia membaca isi chat nya.
Ini Kak Airin pacarnya Revan ya? Ini aku Putri. Nanti setelah maghrib apa kita bisa bertemu? Aku mau bilang sesuatu sama Kak Airin.
"Darimana dia tahu nomor aku, apa dikasih Revan? Tapi rumahnya dekat sini, mungkin aja dia minta teman aku di RW sini." gumam Airin.
Airin berpikir sesaat lalu dia membalasnya. "Iya, rumah kamu dimana? Apanya rumah Rima?" Dia ada satu teman SMP di jalan Mawar itu.
Nanti aku tunggu di depan rumah kakak saja.
"Itu berarti dia udah tahu rumah aku. Mungkin tanya sama teman aku." Airin meletakkan ponselnya lalu dia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur karena perutnya terasa lapar.
...***...
Sore hari menjelang malam itu, sesuai janjinya dengan Putri, Airin keluar dari rumah. Ternyata Putri sudah menunggunya di dekat gerbang.
"Udah lama di sini?" tanya Airin.
"Aku Airin." Airin mengulurkan tangannya dan mengajaknya bersalaman.
"Aku Putri." Putri membalas tangan Airin.
Airin mengernyitkan dahinya saat merasakan tangan Putri yang sangat dingin. "Kita masuk dulu yuk."
"Aku cuma sebentar. Ngobrol di taman depan saja ya."
Airin menganggukkan kepalanya, lalu mereka menyeberang jalan dan duduk di taman kecil yang berada di komplek perumahan itu.
"Mau ngomong apa?" tanya Airin.
"Maaf ya Kak, aku gak tahu kalau Kak Revan sudah punya pacar "
"Iya, gak papa."
"Hmm, tapi aku boleh gak minta satu hal sama Kak Airin. Aku ingin pura-pura menjadi pacar Kak Revan, sehari saja. Boleh ya?" pinta Putri.
Airin menatap Putri sesaat. Dia tidak bisa menjawab pemintaannya kali ini. "Kenapa kamu ingin sama Revan?"
"Karena aku ingin merasakan punya pacar, meski hanya satu kali dalam hidup aku."
Airin tersenyum kecil. "Kamu cantik, suatu saat nanti kamu pasti bisa mendapatkan seseorang yang juga sayang sama kamu."
__ADS_1
Seketika Putri menundukkan pandangannya. Dia terlihat sangat sedih.
Airin menjadi tidak tega melihatnya. "Jangan sedih, nanti aku bicara dulu sama Revan."
"Makasih ya, Kak." Kemudian Putri berdiri. "Aku pulang dulu ya."
Airin hanya tersenyum melihat Putri yang berjalan meninggalkannya.
"Ada-ada aja," gumam Airin lalu dia kembali masuk ke dalam rumahnya.
"Darimana, Ai?" tanya Alvin pada putrinya.
"Dari taman depan ngobrol sama teman," jawab Airin. Dia kini menaiki tangga dan kembali ke kamarnya. Dia ambil ponselnya lalu dia menghubungi Revan.
"Van, lagi ngapain?" tanya Airin.
Seketika Revan mengubah panggilan itu menjadi video.
"Ih, kebiasaan deh video call." Airin menerima panggilan video itu. Terlihat Revan sedang tertawa di dalam kamarnya.
"Aku lagi mikirin kamu."
"Idih, gombal. Aku baru aja ketemu Putri."
Seketika Revan menatap serius Airin. "Ketemu Putri? Kok bisa?"
"Iya, tadi tiba-tiba dia whatsapp aku, minta ketemuan. Ya udah aku temui."
"Terus? Dia tahu nomor kamu darimana?"
"Aku juga gak tahu. Tapi anak sini kan banyak yang punya nomor aku. Ya mungkin aja dari anak RW sini."
Revan hanya menganggukkan kepalanya.
"Tadi, Putri bilang dia ingin menjadi pacar pura-pura kamu sehari saja."
"Tadi, dia juga bilang seperti itu."
"Kenapa kamu gak bilang sama aku?"
"Iya, aku lupa. Lagian aku juga gak mau."
"Tapi kasihan, dia kelihatan sedih banget."
Revan hanya terdiam, sebenarnya apa mau si Putri ini. Tak sengaja dia melihat meja belajarnya. "Loh, itu kan kado dari Putri tadi."
Seketika Airin melihat nakasnya. "Kenapa bisa ada di kamu? Tadi aku letakkan di atas nakas."
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...