Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Kerasukan


__ADS_3

Keesokan harinya, Airin dan Ayahnya menjemput Azka terlebih dahulu ke rumahnya sebelum berangkat ke sekolah.


"Maaf Om, jadi merepotkan," kata Azka setelah Alvin membantu Azka masuk ke dalam mobil.


"Gak papa. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya karena kamu sudah menolong Airin." Alvin kini beralih ke kursi pengemudi lalu dia segera melajukan mobilnya menuju sekolah.


Airin duduk di belakang bersama Azka. Dia menatap layar ponselnya yang kini terhubung dengan Revan di Jakarta lewat video call.


"Ini aku sama Azka."


Azka melihat layar ponsel Airin. "Semoga lo menang. Good luck!"


Terlihat Revan tersenyum kecil. "Nanti kalau gue menang, gue kasih ke lo pialanya."


Seketika Azka mengambil ponsel Airin. "Lo ngajak ribut!"


Revan semakin tertawa. "Lo tahu sendiri, gue ikut olimpiade cuma sebagai formalitas."


"Sombong amat lo!"


"Makanya lo harus semangat. Masih banyak yang bisa lo raih nanti. Perjalanan lo masih panjang. Gue pinjamin Airin, lo harus jagain dia selama gue gak ada."


"Iya." Azka mengembalikan ponsel Airin.


Di kursi pengemudi Alvin hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar percakapan mereka.


"Udah ya Ai, hati-hati di sekolah. Jangan ke aula kalau memang banyak energi negatif di sana."


"Iya."


"Udah ya. Love you."


"Revan, bilang apa?" Seketika Alvin menyahut ungkapan cinta yang terdengar dari loudspeaker panggilan video itu.


"Aduh, lupa kalau ada Ayah kamu, Ai. Maaf ya Om, gak sengaja."


"Ya udah, aku matiin ya." Airin mematikan panggilan itu daripada masalah semakin panjang.


"Airin, Airin. Kamu pacaran terus. Sudah kelas 12, fokus dulu sama pelajaran," kata Alvin yang kini telah menghentikan mobilnya di depan sekolah.


"Iya Ayah."


Lalu Alvin keluar dari mobil dan menurunkan kursi roda Azka. Kemudian dia membantu Azka turun dari mobil.


Pak Satpam yang sedang berjaga di depan gerbang dengan sigap membantu Azka.


"Azka, jadi benar berita kecelakaan kamu ini. Ya Allah, semoga lekas sembuh," kata Pak Satpam itu yang memang mengenal Azka.


"Iya Pak, terima kasih."

__ADS_1


"Ai, bantu Azka ya," pesan Alvin saat Airin mencium punggung tangannya.


"Iya Ayah."


"Makasih ya, Om. Maaf merepotkan." Azka juga bersalaman dengan Ayahnya Airin. Setelah itu, mereka berdua masuk ke dalam sekolah.


"Ai, maaf aku merepotkan kamu." kata Azka yang entah sudah ke berapa kalinya.


"Enggak. Berapa kali sih kamu harus minta maaf gini. Kamu gak ngerepotin."


Teman-teman yang melihat Azka, merasa kasihan. Mereka menghampiri Azka dan mendoakan kesembuhan Azka.


"Azka, sudah masuk lo!" Tomi menggeser tempat duduk Azka agar bisa ditempati kursi roda Azka.


"Udah, gak enak lama-lama libur nanti gue banyak ketinggalan pelajaran."


Airin menghentikan kursi roda Azka di tempat duduknya lalu dia duduk di bangkunya sendiri.


"Enak banget ada suster pribadi. Tapi kalau mau ke toilet jangan minta tolong sama susternya bahaya."


Azka tertawa dan menabok lengan Tomi yang sekarang duduk di mejanya. "Ya, gaklah. Gimana latihan basketnya? Jalan sesuai jadwal kan?"


"Iya, dibimbing Pak Satya."


"Kalian cari kapten baru aja. Gue nanti mau pamitan sama anak tim basket."


Azka menggelengkan kepalanya. "Masih lama dan gue gak tahu apa gue masih bisa main basket atau tidak."


"Sebelum lo menjadi kapten basket dulu, tim basket sekolah kita gak ada apa-apanya. Tapi sejak lo jadi kapten basket, tim basket sekolah ini terus-terusan menang. Sampai kapanpun lo akan tetap jadi kapten tim basket kita."


"Ya percuma gue jadi kapten kalau gue gak bisa main basket!"


Airin yang mendengar hal itu seketika menoleh Azka.


Tomi menepuk bahu Azka. "Sorry, bukan maksud gue buat hati lo sedih lagi."


"Iya, gak papa. Emang ini kenyataannya."


"Semoga cepat pulih. Kita selalu mendoakan lo."


"Iya, makasih."


Tomi kini kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Azka memijat pelipisnya yang terasa pusing.


Airin terus menatap Azka dari samping. Kesedihan Azka sangat terlihat di wajahnya


Kasihan Azka. Apa yang bisa aku lakukan agar Azka tidak sedih.


...***...

__ADS_1


"Ai, lihat kita latihan paduan suara yuk di aula. Satu minggu lagi kita mau ikut lomba," ajak Melodi. Dia kini di belakang kursi roda Azka dan bersiap mendorong Azka. "Azka lo ikut lihat ya, daripada lo bosen di kelas terus." Tanpa menunggu persetujuan Airin, Melodi mendorong kursi roda Azka keluar dari kelas.


Mau tidak mau Airin mengikuti mereka. "Mel, kan aula lagi di renovasi. Memang sudah bisa dipakai?"


"Udah, renovasinya tinggal di depan aula saja." sahut Melodi.


Airin kini terdiam. Firasatnya menjadi tidak enak. Dia kini masuk ke dalam aula itu lalu berdiri di samping kursi roda Azka. Dia melihat Melodi yang bergabung dengan teman-temannya naik ke atas panggung.


"Suara Melodi memang keren ya," kata Azka saat Melodi dan teman-temannya mulai bernyanyi.


Airin menarik kursi agar dia bisa duduk di dekat Azka. "Iya." jawabnya singkat. Pandangan matanya kini menyapu seluruh penjuru aula itu. Dia merasa ada banyak mata yang mengintainya. Beberapa kali terdengar suara tembakan dan jeritan.


Airin menutup telinganya karena suara-suara itu terdengar semakin menakutkan dan memilukan.


"Ai, kenapa?" tanya Azka. "Astaga kamu kan gak boleh ke aula sama Revan. Pasti ada yang gak beres. Ayo, kita keluar saja dari sini."


Airin melepas tangannya lalu berdiri. Dia mendorong kursi roda Azka keluar tapi tiba-tiba, nyanyian dari tim paduan suara berubah menjadi teriakan. Mereka kehilangan kesadaran dan kendali.


Airin membalikkan badannya. Dia melebarkan matanya saat melihat beberapa temannya kerasukan termasuk Melodi. "Azka, aku harus menolong mereka."


"Tapi bahaya."


Airin mendorong kursi roda Azka menepi dan mencari tempat yang aman. "Kamu tunggu di sini dulu."


"Ai, aku gak bisa nolong kamu kalau ada apa-apa. Sudah ada guru yang menolong."


Airin tak menggubris ucapan Azka. Dia kni naik ke atas panggung dan menahan tubuh Melodi yang meronta tak karuan.


"Pak, cepat panggil guru lain. Mereka kenapa jadi seperti ini." Bu Iis panik melihat mereka semua kesurupan.


"Kalian sudah mengusik tempat kami!!!"


"Mel, sadar. Melo." Airin berusaha menahan tubuh Melodi. Dia menatap teman-teman lainnya. Ada makhluk halus yang menguasai tubuh mereka.


Noni Belanda itu muncul dan tertawa menyeringai di antara mereka semua.


"Kalian semua bisanya mengganggu ketenangan kami! Mengubah dan menempati tanpa permisi! Kalau kita marah, bisa apa kalian semua!"


"Apa mau kamu?!" teriak Airin.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...


.


Author mau THR, Ai. Duh, gak dapat THR.. 🙄

__ADS_1


__ADS_2