Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Murid Baru


__ADS_3

Pagi hari itu beberapa wartawan mencegat Airin saat baru turun dari mobil Ayahnya di depan sekolah.


"Bagaimana bisa adek tahu tentang kasus pembunuhan itu?"


"Apa benar adek punya indera keenam?"


Beberapa wartawan itu menyerbu Airin dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin Airin jawab.


Seketika Alvin turun dari mobil dan menghalangi para wartawan itu. "Kalian jangan pernah bertanya apa-apa tentang kasus itu. Anak saya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kasus itu, dia hanya kebetulan ada di tempat saat mengantar catering."


Airin segera masuk melewati pintu gerbang sekolahnya. Tidak hanya di luar gerbang tapi di dalam gerbang beberapa temannya juga menjadi wartawan dadakan.


Kali ini Revan segera menarik tangan Airin dan mengajaknya berlari menuju kelas. Beberapa pasang mata melihat kedekatan mereka berdua setelah sampai di dalam kelas, tak terkecuali Azka.


Tangan Revan baru terlepas setelah Airin duduk di bangkunya.


Rasa sakit itu kembali menusuk hati Azka. Jika memang Airin lebih memilih Revan, tidak ada yang bisa dia lakukan selain merelakannya. Meski itu sangat sulit.


Beberapa saat kemudian, Bu Sonya masuk ke dalam kelas. Ada seorang siswi baru yang berjalan di belakangnya.


"Hari ini kalian kedatangan teman baru. Ayo, perkenalkan nama kamu." kata Bu Sonya.


"Nama saya Siska," kata Siska sambil terbata. Kacamata bulat dan tebal menghiasi wajahnya, rambut kuncir satu dan lepek tanpa poni serta seragam dimasukkan dengan rapi, dia terlihat sangat lugu dan polos dibanding teman lainnya.


"Siska apanya koll?" sahut Tomi sambil tertawa.


"Bunga koll kalau yang ini." sahut teman lainnya yang dibarengi dengan ledekan dan tawa.


Siska hanya menunduk. Dia memang sudah terbiasa dibully dan dicaci seperti itu, bahkan dia pindah ke sekolah itu juga kasus pembullyan yang terus-terusan terjadi padanya. Apakah kali ini akan berakhir sama?


"Ya sudah, Siska kamu duduk di kursi yang kosong. Untuk yang lainnya, kalian tidak boleh membully sesama teman!"


"Iya, Bu."


Kemudian Bu Sonya mengambil setumpuk kertas hasil ulangan mereka. "Azka, kamu bagikan hasil ulangan ini," suruh Bu Sonya pada Azka.


Azka berdiri, lalu membagikan hasil ulangan itu.


"Ibu, cukup puas dengan hasil ulangan kemarin. Ada dua orang yang berhasil mendapatkan nilai sempurna yaitu Revan dan Airin."


Seketika Airin membulatkan matanya. Hasil ulangannya adalah hasil dari contekan Aditya waktu itu, tidak murni dari hasil pemikirannya sendiri.

__ADS_1


"Dua minggu lagi akan ada olimpiade matematika. Ibu sudah menetapkan Revan dan Airin yang bekerja sama dalam satu tim untuk mengikuti olimpiade itu, wakil dari sekolah kita." kata Bu Sonya lagi.


"Ta-tapi Bu, saya tidak..."


"Kenapa Airin?" tanya Bu Sonya


"Hmm, iya, tidak apa-apa." Airin hanya menggigit bibir bawahnya. Apakah dia harus menolaknya? Dia tidak sepintar itu. Harusnya yang mengikuti olimpiade itu bukan dia.


"Selamat ya, nilai yang sempurna." Azka memberikan hasil ulangan Airin. Mereka saling menatap beberapa saat. Kemudian dia menarik kertas ulangan Azka.


Hanya salah satu soal? Harusnya Azka yang mengikuti olimpiade itu.


"Kenapa lihat punya aku, mau membandingkan. Kali ini, kamu yang terbaik." Azka mengambil lagi hasil ulangannya, lalu dia duduk dan kembali menyimak pelajaran.


...***...


"Azka, aku mau ngomong sesuatu," kata Airin sambil menahan langkah Azka yang akan keluar dari kelas.


"Nanti aja, aku mau ke ruang latihan basket dulu." Azka kembali melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Sepertinya dia memang sengaja menghindari Airin.


"Ai, ke kantin yuk!" ajak Melodi sambil menarik tangan Airin.


"Mel, harusnya bukan aku yang ikut olimpiade itu. Harusnya Azka." Airin memelankan suaranya, "Soalnya hasil ujian itu aku dapat dari bisikan hantu."


Revan yang masih duduk di belakang Airin jelas mendengar apa yang dikatakan Airin.


"Tenang aja, kan ada aku." kata Revan kemudian dia berdiri dan keluar kelas.


"Ciee, ada aku cinta, kamu tenang aja," goda Melodi yang membuat pipi Airin bersemu merah.


Seketika Airin mencubit pinggang Melodi. "Bukan masalah itu, ini masalah Azka."


"Azka?" Melodi mengernyitkan dahinya.


"Iya. masa' kamu lupa sih? Azka masuk ke sekolah ini kan karena mendapat beasiswa."


"Iya, tapi kan prestasi non akademik Azka bagus." Mereka berdua kini berjalan menuju kantin sekolah sambil mengobrol.


"Iya, tapi beasiswa saat kelas tiga berdasarkan prestasi akademik karena setelah kelas dua belas nanti, dia sudah tidak menjadi kapten basket dan fokus pada akademik saja. Kamu tahu kan, Azka itu pintar dalam segala hal, harusnya dia yang ikut bukan aku, agar beasiswanya juga lancar kalau bisa sampai dia kuliah."


Melodi hanya tersenyum kaku. Airin memang sangat perhatian dalam hal sekecil apapun, pantaslah jika Azka sampai sekarang masih mengejarnya.

__ADS_1


"Mel, itu anak baru kan? Kasihan, dia makan sendirian. Kita temani yuk." Melodi dan Airin berjalan mendekati Siska tapi lagi-lagi Ria dan teman-temannya membuat masalah.


"Cupu, lo jangan duduk di sini! Pindah sana!"


Siska hanya mengangguk lalu dia menggeser tempat duduknya.


"Pindah meja, jangan disitu! Idih, gue gak sudi makan bareng lo."


Siska menoleh ke kanan dan ke kiri, kantin saat itu ramai dan telah penuh. "Tapi sudah tidak ada meja lain."


"Gue gak peduli! Sana-sana!"


Airin menghampiri keributan itu. Dia menahan Siska yang akan pindah tempat duduk. "Ria, biarin aja dia makan di sini. Lagian biasanya kamu juga gak pernah makan di kantin kan!"


"Ngapain lo ikut campur urusan gue! Jangan mentang-mentang lo dekat sama Revan dan Azka lo jadi sok popular."


"Aku sama sekali gak merasa kayak gitu. Sikap kamu aja yang salah!"


Ria semakin menantang Airin.


Brrakk!!


"Udah cukup!" Siska menggebrak meja lalu dia pergi dari tempat itu.


Airin melebarkan matanya saat melihat bayangan hitam yang mengikuti Siska. Seketika Airin melangkahkan kakinya dan akan menyusul Siska, tapi dengan sengaja Ria membegal kaki Airin hingga membuatnya jatuh ke lantai yang kotor.


"Lo emang pantas dibully sama kayak si cupu itu. Rekrut gih, jadi teman satu geng cupu!" Ria dan teman-temannya tertawa dengan keras.


"Kalian keterluan banget! Airin!" Melodi membantu Airin berdiri. Kedua lutut Airin terluka, roknya juga kotor terkena lumpur.


"Ria!" Revan menarik lengan Ria kasar agar menjauh dari Airin. "Lo jangan pernah ganggu Airin lagi!"


"Sok jadi pahlawan banget lo! Apa bagusnya Airin sampai lo ngejar-ngejar dia. Bukan cuma Azka yang penglihatannya minus, ternyata lo juga."


Airin tak mau lagi mendengar perkataan Ria, lebih baik dia pergi membersihkan dirinya di toilet. Dia berjalan dengan cepat menuju toilet bersama Melodi.


Setelah masuk ke dalam toilet, samar-samar dia mendengar suara tangisan.


"Mel, kamu dengar suara tangisan gak?" tanya Airin sambil mengernyitkan dahinya karena suara tangisan itu semakin jelas dan sangat memilukan.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya ..


__ADS_2