
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Azka keluar dari kafe dan berjalan menuju tempat parkir. Dia berhenti saat merasakan ponselnya bergetar beberapa kali.
Matanya membulat saat mendapat kiriman foto dari Fani. "Ini Airin?" Azka menghubungi Fani agar info yang dia dapat lebih jelas.
"Hallo, Kak Fani. Itu benar Airin?"
"Aku gak tahu Ka. Aku dapat foto itu dari Rega, dia mirip banget sama Airin dan ngakunya dia bernama Kiran. Kalau bisa kamu cek ke sana. Siapa tahu dia terpengaruh alkohol atau obat."
"Baik Kak. Terima kasih infonya." Azka memutuskan panggilan itu lalu dia naik ke atas motor. Belum juga menghidupkan mesin motornya, ada panggilan masuk dari Revan.
"Hallo, Van?"
"Azka, lo tahu keberadaan Airin sekarang dimana? Dia dicari sama Ayahnya."
"Gue barusan dapat info dari Fani. Ada cewek yang mirip banget sama Airin di klub Rega. Sekarang gue mau cek ke sana."
"Ya sudah. Gue juga akan ke sana."
Azka mematikan panggilannya. Dia segera menghidupkan motornya dan melaju menuju klub malam itu.
...***...
"Ayo sekarang, baby." Napas Roy sudah sangat berat. Dia membalik posisi Airin hingga Airin berada di bawah kungkungannya. "Biar aku saja yang memimpin karena ini pengalaman pertama kamu." Roy melepas kemejanya lalu mendekatkan kembali dirinya. Dia tarik temali dress Airin dan menurunkannya.
Satu tangan Airin diam-diam meraih botol minuman yang ada di atas nakas lalu dia memukul kepala Roy hingga botol itu pecah.
Roy memegang kepalanya yang terasa sakit dan berdarah. "Apa yang kamu lakukan?"
Airin mendorong tubuh Roy. Dia merapikan kembali dressnya lalu tertawa menyeringai. Wajahnya terlihat sangat menakutkan. Aura hitam juga telah menyelimutinya.
Airin semakin mendekat dengan memegang leher botol yang telah pecah di tangan kanannya. "Kamu masih ingat dengan Kirana?"
Mendengar nama itu, seketika Roy melebarkan matanya.
"Pasti masih ingat kan? Wanita yang kamu rayu satu bulan yang lalu, setelah kamu pakai kamu jual dia ke teman-teman kamu."
"Kirana memang seorang pe la cur!" Roy semakin berjalan mundur karena Airin terus mengintimidasi dia.
"Iya, Kirana memang seorang pe la cur yang pekerjaannya memuaskan pria hidung belang. Tapi dia bukan budak **** kamu atau teman kamu. Apalagi sampai menipu. Bukannya membayar tapi malah kalian bunuh."
Dengan cepat Roy membuka pintu dan keluar dari kamar. Dia menuruni anak tangga karena Airin terus mengejarnya.
"Roy, ada apa? Tumben cepat!"
"Ada Kirana." Roy menyingkirkan tangan temannya yang menghalangi karena Airin sudah semakin dekat.
__ADS_1
Ketiga temannya kini mengikuti Roy keluar dari klub.
"Maksud kamu Kirana siapa?"
"Itu." Roy menunjuk Airin yang sedang tertawa menyeringai di belakang ketiga temannya.
"Bagus, kalian semua berkumpul di sini. Kalian mau menyerahkan diri kalian ke polisi atau aku yang akan mengakhiri hidup kalian."
Ketiga teman Roy membalikkan badan mereka. "Mana mungkin dia Kirana. Kirana udah mati." Kemudian mereka bertiga menyergap Airin. "Kita bawa aja dia. Kita nikmati sama-sama."
Airin berusaha memberontak tapi mereka mengikat tangan Airin dengan dasi lalu memasukkan Airin ke dalam mobil Roy.
"Kalian gila! Kalau dia benar-benar kerasukan dan mau membunuh kita bagaimana!" Roy masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi. Dia ragu untuk membawa Airin.
"Dia sendirian. Kita berempat."
"Buang tasnya!"
"Ada uang gue! Gue ambil dulu." Setelah mengambil uang 10 juta itu, Roy melempar tas Airin keluar hingga ponsel Airin dan cermin itu terbanting dan pecah.
Seketika Airin melemas dan memegang kepalanya. "Aku dimana? Kalian siapa? Lepasin!" Airin sangat ketakutan melihat empat pria yang tidak dia kenal. Tangannya sudah diikat, dia tidak bisa bergerak.
Roy segera melajukan mobilnya dengan kencang.
Di belakang mobil Roy, Azka menghentikan motornya. "Itu sepertinya Airin! Sial! Aku terlambat!"
Azka semakin menambah kecepatan motornya karena mobil itu melaju sangat kencang.
"Cantik sekali dia." Kedua teman Roy yang menghimpit Airin di belakang mulai menjamah tubuh Airin.
"Jangan sentuh!"
"Jangan sok polos. Tadi aja kamu menggoda Roy."
"Kalian berdua jangan seenaknya. Gue duluan yang harus mencobanya." Roy membelokkan mobilnya di kawasan pergudangan yang sepi.
"Kepala lo luka. Lo gak mungkin kuat."
"Ini cuma luka kecil." Roy meraba kepalanya yang darahnya sudah berhenti mengalir.
Mereka semua keluar dari mobil dan menyeret Airin masuk ke dalam gudang. "Lepasin!" Airin berusaha memberontak tapi dia tidak ada kekuatan. Bahkan badannya terasa sangat lemas.
"Roy, dia gak ada tenaga sama sekali. Bisa-bisanya lo ketakutan!"
Roy menarik tubuh Airin dari teman-temannya. Tiba-tiba mata Airin berubah menjadi merah. Dia melepas ikatan tangannya lalu mencekik Roy. "Kamu harus mati sekarang!"
__ADS_1
Roy berusaha melepas tangan Airin tapi tangan Airin sangat kuat. Dia hampir kehabisan oksigen.
Ketiga temannya menarik tubuh Airin hingga akhirnya Roy terlepas dari cekikan itu.
"Kalian semua akan mati!" Airin membanting mereka bertiga ke tanah hingga mereka meringis kesakitan.
Roy kini berlari dan masuk ke dalam mobilnya.
"Kalian mengubur Kirana di sini! Kalian juga akan aku kubur di tempat ini juga!"
Ketiga teman Roy berusaha untuk bangkit saat mendengar deru mesin mobil Roy yang menyala. Roy melajukan mobilnya dengan kencang ke arah Airin.
"Airin, awas!" Azka datang dan mendorong tubuh Airin. Tapi nahas, Azka justru terjatuh dan kaki kanannya terlindas ban mobil.
"Aarrgghh.." Azka mengerang kesakitan. Dia berusaha menggerakkan kakinya tapi sudah tidak bisa dia gerakkan lagi.
"Jangan bergerak!" Beberapa polisi menodongkan pistol ke arah mereka. Roy juga dipaksa keluar dari mobil dan ditangkap.
Tersadar Airin segera meraih tubuh Azka yang sedang kesakitan. "Azka!!" Airin berteriak histeris melihat darah yang mengalir dari kaki Azka. "Azka kenapa kamu nolong aku."
"Airin aku gak papa." Azka masih berusaha menggerakkan kakinya tapi tidak bisa. "Kaki aku!" Tiba-tiba tubuh Azka melemas dan pingsan di pangkuan Airin.
"Azka!"
"Airin, Azka!" Alvin dan Revan datang, mereka berdua segera mengangkat tubuh Azka masuk ke dalam mobil Kevin. "Cepat bawa ke rumah sakit!"
Kemudian Alvin kembali menghampiri putrinya yang masih terduduk di tanah dengan lemas dan menangis. "Airin, tenang sayang..."
"Pak polisi! Mereka semua pembunuh! Ada mayat yang terkubur di sisi kanan gudang itu." tunjuk Airin setelah mendapat bayangan tentang Kirana.
"Baik, kita akan segera melakukan penyelidikan!"
Alvin melepas jaketnya dan memakaikan nya di tubuh Airin yang hanya mengenakan dress pendek itu.
"Ayah, maafkan Airin." Airin kini menangis dipelukan Alvin. "Airin gak sadar dengan apa yang Airin lakukan. Airin..."
"Sudah Ai. Ayah yang harusnya minta maaf. Ayah yang tidak peka dengan kondisi kamu. Ayo, sekarang kita pulang."
Airin menggelengkan kepalanya. "Aku mau lihat keadaan Azka di rumah sakit. Harusnya bukan Azka yang terluka tapi Airin. Kasihan Azka."
"Ssstt, sudah jangan menangis. Ayo, kita sekarang ke rumah sakit." Alvin membantu Airin berjalan lalu dia membuka pintu mobilnya. Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, beberapa saat kemudian mobil Alvin segera melaju menuju rumah sakit.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...