Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Menjelajah Waktu


__ADS_3

Revan dan Airin kini membuka matanya. Dia melihat sekeliling tempat itu. Dia berada di sebuah kamar dengan dinding yang terbuat dari bambu dan hanya ada penerangan dari lentera kecil. Terdengar bunyi ranjang yang terbuat dari papan dan beralaskan tikar itu berbunyi berdecit.


"Van, kita dimana?" Airin mengerutkan dahinya melihat tempat yang asing baginya.


"Jangan dilihat." Revan mendekap kepala Airin dan menutup telinganya saat menyadari ada sepasang kekasih yang sedang bergumul di dalam ruangan itu. Suara de sah saling bersahutan semakin keras hingga akhirnya berakhir dengan napas yang sama-sama berat.


"Mas Aryo, saya sangat mencintaimu."


"Saya juga mencintaimu, Esmee. Tapi jika keluarga kamu tahu kita telah melakukan ini, saya bisa langsung dipenggal."


"Bawa saya pergi dari sini. Kita hidup berdua. Saya ingin merasakan kebebasan bersama Mas Aryo."


"Esmee, kamu akan susah hidup bersama saya."


"Saya rela. Kita sudah melakukan semuanya. Saya tidak mau kehilangan Mas Aryo."


Perlahan Airin melepas tangan Revan yang menutupi telinganya. Dia melihat dua orang yang saling berpelukan di bawah sarung.


"Van, itu benar kakek buyut kamu?" bisik Airin.


"Aku gak tahu."


Beberapa saat kemudian terdengar suara gedoran pintu yang sangat keras disertai dengan suara tembakan.


"Keluar kalian berdua!"


Seketika Aryo dan Esmee memakai pakaian mereka. "Mas, bagaimana? Saya tidak mau pulang."


"Kita kabur dari sini." Aryo menggenggam tangan Esmee dan mengajaknya keluar lewat pintu belakang tapi ternyata mereka sudah dicegat di pintu belakang. Mereka dikepung. Esmee ditarik paksa oleh Ayahnya yang merupakan seorang Jendral.


"Esmee, pulang!"


"Daddy, tidak mau."


Mereka melepas paksa tangan Aryo dan Esmee. Kemudian mereka memukuli Aryo hingga Aryo babak belur dan tidak bisa berkutik.

__ADS_1


"Masukkan dia ke penjara!"


Revan ingin menolongnya tapi dia hanya bisa menyaksikan tanpa bisa menyentuh.


"Van, mereka kejam sekali." Airin tak sampai hati menyaksikan penyiksaan itu.


"Kalau kamu tidak sanggup jangan dilihat. Ini belum seberapa." Revan terus mendekap Airin karena Airin beberapa kali menyembunyikan kepalanya di dadanya.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba mereka berpindah tempat dan waktu.


"Van, kita sekarang dimana?" Airin membuka wajahnya, dia melihat bangunan yang tinggi dan kokoh. Di sekitar tempat itu ada banyak pasukan Belanda yang sedang berjaga.


"Sepertinya ini di sekolah kita."


Airin melihat Esmee yang sedang mengendap masuk ke dalam bangunan itu. "Van, kita ikuti dia."


Revan dan Airin mengikuti Esmee masuk ke dalam bangunan itu. "Jadi ini penjaranya." Airin melihat beberapa skat ruangan yang berjeruji besi itu. Satu skat berisi ratusan orang. Mereka terlihat lusuh dan kelaparan. Tubuh mereka sangat kurus, bahkan ada beberapa yang hanya terbaring tak berdaya.


"Van, aku gak sanggup lihat mereka."


"Andai saja aku bisa menolong, pasti aku akan menolong mereka semua. Sayang, kita di sini hanya sebagai penonton."


"Besok akan ada yang mengirim senjata ke tempat ini tengah malam."


Aryo tersenyum lalu tangannya mengusap perut Esmee. "Sebentar lagi anak kita lahir. Maaf ya, saya tidak menemani kamu dalam masa sulit."


Esmee tersenyum dan mengikuti gerakan tangan Aryo yang berada di atas perutnya. "Semoga saat anak ini lahir Mas Aryo sudah bebas."


"Esmee!!"


Seketika Esmee menoleh, dia melihat pasukan yang berhasil menemukannya. Dia segera berlari tapi pasukan Ayahnya segera menahannya.


"Lepaskan!" Esmee berusaha melepas tangannya tapi tidak bisa. Tiba-tiba perutnya terasa mulas. Dia memegangi perutnya sambil meringis kesakitan. "Sakit."


"Esmee, kamu kenapa! Esmee." teriak Aryo.

__ADS_1


Tiba-tiba Airin dan Revan berpindah waktu lagi. Dia kini melihat tragedi pembantaian di penjara itu. Mayat tergeletak dimana-mana, darah sudah mengalir ke tanah yang dipenuhi tumpukan jerami.


Suara jeritan dan suara teriakan membuat Airin semakin ketakutan.


"Ai, ikut aku." Revan menggandeng tangan Airin mengikuti Aryo yang berhasil kabur dan berlari ke belakang bangunan itu.


Di sana Aryo bertemu dengan Esmee. "Mas, bawa anak kita. Wajahnya mirip kamu, hanya sedikit dari gen saya yang mengalir di tubuhnya. Jangan bilang pada siapapun jika dia anak dari seorang penjajah."


Aryo menggendong putranya lalu menciumnya. Inilah pertama kalinya dia melihat putranya. "Esmee, kamu harus ikut dengan saya."


Esmee menoleh ke belakang. Dia menggelengkan kepalanya. "Saya akan menahan mereka. Kamu pergi, jaga anak kita baik-baik."


"Aryo, ayo!!!" Teman seperjuangan Aryo terus menarik Aryo agar dia segera berlari.


Sedangkan Esmee menghalangi mereka hingga akhirnya dia tertembak.


"Esmee!!!" teriakan Aryo begitu keras, tapi dia terus dipaksa berlari oleh teman seperjuangannya hingga mereka akhirnya bersembunyi di semak-semak dan masuk ke dalam jalan yang berada di bawah tanah.


Tubuh Airin terasa lemas melihat semua kejadian itu.


"Aku tidak menyangka, kisah kakek buyut aku seperti ini." Revan kini terduduk lemas di tanah. "Jadi, di darah aku masih mengalir darah dari penjajah itu."


"Lalu kenapa? Semua itu sudah berlalu." Airin mengusap punggung Revan. Kehidupan di masa lalu itu begitu kelam, mungkin saja kakek buyut Airin juga mengalaminya. Mereka tidak akan tahu yang terjadi sebenarnya di masa lalu.


"Asal kamu tahu, Ai. Kakek aku mantan seorang mafia. Darah keras itu mengalir turun temurun."


"Van, bukan saatnya membahas itu. Sekarang kita harus membawa kakek kamu ke makam Esmee. Pasti kakek kamu bahagia, meski hanya bisa bertemu dengan makam ibunya, dan itu juga yang diinginkan Esmee."


"Iya, kamu benar."


💕💕💕


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


.


Yang pernah baca Godaan Sang Mantan di kisahnya orang tua Revan pasti tahu ya kalau kakeknya Revan ini dulunya seorang mafia, namanya Marko Permana. Di sini alur dadakan ya... 😂😂 Ide author tiba-tiba muncul gitu aja tentang silsilah keluarganya.


__ADS_2