Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Selamat Tinggal


__ADS_3

Airin masih menatap nanar pusara yang masih basah itu. Kedua orang tua Azka juga masih berada di sana dan juga sahabat dekat Azka.


Melodi juga masih menangis sambil memeluk Airin. Dia tidak menyangka Azka pergi secepat ini. "Ai, aku gak menyangka Azka pergi secepat ini. Seperti baru kemarin kita bercanda bersama, Ai."


Airin hanya mengangguk. Tapi kini air matanya telah surut. Dia memang sangat sedih kehilangan Azka tapi inilah takdir. Tidak bisa dia ubah ataupun dia lawan.


"Airin, ayo pulang." ajak Alvin karena hari sudah mulai gelap.


Airin menganggukkan kepalanya. "Azka kita pulang ya. Selamat tinggal, Azka." Kemudian Airin dan Melodi berdiri. Mereka keluar dari pemakaman dan berpisah di tempat parkir.


Airin menghentikan langkah kakinya saat berpapasan dengan Revan. Mereka hanya saling menatap dan terdiam. Mereka tidak tahu harus mulai darimana. Untuk bertanya kabar saja rasanya sangat sulit. Hingga akhirnya Airin masuk ke dalam mobil Ayahnya. Beberapa saat kemudian mobil Alvin mulai melaju.


Airin masih saja menatap Revan dari dalam mobil. Andai saja dia bertemu Revan tidak dalam keadaan seperti ini pasti akan terasa beda. Untuk saat ini dia masih ingin sendiri. Dia butuh waktu untuk menghilangkan kesedihannya.


...***...


Beberapa bulan telah berlalu. Wisuda yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan itu, kini berubah menjadi tangis penuh haru saat kedua orang tua Azka datang dan mengambil ijazah Azka. Azka mendapat nilai terbaik di kampusnya.


Azka, ini wisuda yang kita impikan. Andai saja kamu masih ada pasti kita sudah tertawa bersama. Kamu berhasil meraih nilai tertinggi, Azka.


Bukan hanya Airin dan kedua orang tua yang menangis tapi juga dosen dan seluruh teman-teman Azka. Mereka kini berdoa bersama untuk Azka. Menyampaikan rasa rindu yang mendalam untuk Azka.


Semoga kamu sekarang bahagia di sana. Kita semua sayang sama kamu dan akan selalu mendoakan kamu.


Setelah acara wisuda, Airin mengundang teman-temannya untuk merayakan kelulusan di kafe Ayahnya. Tak lupa dia juga mengundang Melodi.


Mereka semua kini berkumpul di kafe untuk menghibur diri.


"Airin!" teriak Melodi. Dia datang dan langsung memeluk sahabatnya itu karena sudah beberapa bulan juga dia tidak bertemu dengan Airin. "Congratulations. Kamu wisuda duluan daripada aku." Melodi kini duduk dan mengambil minuman yang sudah tersedia.

__ADS_1


"Iya. Aku dan Azka memang sudah membuat rencana untuk wisuda cepat tapi ternyata..." Airin menghela napas panjang dan tidak melanjutkan kalimatnya.


"Sssttt, sudah gak perlu disesali lagi. Azka pasti sudah tenang di sana. Kita cukup doakan dia saja." kata Melodi.


Airin menganggukkan kepalanya.


"Setelah ini kamu mau lanjut S2 atau apa nih?" tanya Melodi. Dia kini duduk bersandar sambil mengamati siapa saja yang datang ke kafe itu.


"Aku mau langsung meneruskan usaha Bunda. Siska nih yang mau lanjut S2. Anaknya Pak Guru harus jadi dosen."


Siska tertawa. Dia juga tidak mengerti mengapa keinginannya kali ini sangat menggebu.


"Mau jadi Dosen? Atau mau mengejar cinta Dosen?" cibir Melodi. Karena dia tahu sedikit gosip bahwa Siska suka dengan salah satu dosen di kampusnya.


Ya, mungkin itulah salah satu alasan Siska yang membuatnya semangat mengejar gelar S2 nya nanti. "Ssssttt, jangan keras-keras nanti aku ketahuan kalau naksir sama Dosen."


"Gak papa. Bagus. Biar kamu semangat. Tapi ingat kalau patah hati jangan sampai kuliahnya putus juga," pesan Airin.


"Ngomong-ngomong Ayah kamu gak cari pendamping hidup gitu, Sis?" tanya Melodi, karena tiba-tiba jiwa keponya kambuh.


"Tunggu-tunggu, kenapa tiba-tiba kamu tanya gini. Kamu gak ada niat jadi ibu tiri aku kan?"


Seketika tawa Airin dan Melodi pecah.


"Eh, gila! Gak mungkinlah. Meskipun aku baru patah hati tapi aku gak punya pikiran kayak gitu."


"Syukurlah, aku udah takut barusan karena kamu sahabat aku, gak mungkinlah aku panggil Mama." Mereka bertiga kembali tertawa. "Katanya Ayah masih ingin sendiri. Ayah masih trauma dengan masa lalunya. Sebenarnya aku juga ingin Ayah merasakan cinta lagi, karena Ayah pasti juga butuh tempat untuk berkeluh kesah. Ayah gak mungkin cerita hal-hal sedih sama aku." Setelah bercerita sedikit, Siska meminum esnya hingga habis.


"Kamu sendiri, Ai, gimana hubungan kamu dengan Revan?" tanya Melodi.

__ADS_1


Airin terdiam beberapa saat. Setelah terakhir bertemu di pemakaman Azka, dia tidak bertemu lagi dengan Revan. Dia juga tidak ada niat untuk menemui Revan. Yang ada dipikirannya saat itu hanya ada Azka. "Aku gak tahu." jawab Airin pada akhirnya.


"Kok gak tahu sih. Memang kamu gak ketemu lagi sama Revan? Aku dengar kabar dari Tomi katanya Revan sudah stay di sini kok. Bahkan dia sudah mulai memegang perusahaan Papanya."


Airin masih menggelengkan kepalanya. "Aku gak tahu apa-apa."


"Astaga Airin. Kalau rindu jangan ditahan, temui dong. Terhukum rindu banget kayak lagunya Kangen Band." kata Siska.


"Revan aja gak menemui aku, masak iya aku menemui dia duluan."


"Ya mungkin Revan mikirnya kamu masih berduka setelah kehilangan Azka. Dia tidak mau mengganggu kamu dulu." Melodi memutar tubuhnya dan memegang tangan Airin. "Tapi kamu masih cinta kan sama Revan?"


Airin berpikir sejenak lalu dia menyandarkan punggungnya. "Ya iya. Aku masih cinta sama Revan. Mana mungkin aku bisa melupakan dia."


Melodi tersenyum penuh arti. Oke, satu info penting di save.


"Oiya, satu minggu lagi hari pernikahannya Kak Ayla. Kalian datang ya." kata Airin.


"Iya kamu tenang saja, kita pasti datang. Iya kan, Sis."


"Iya dong. Kan makan gratis."


Mereka bertiga kembali tertawa lalu mengobrol kesana kemari sampai sore hari.


💕💕💕


.


Like dan komen lah. Dih, pelit banget... 😂😂

__ADS_1


#canda ya guys ya... ✌️✌️✌️


__ADS_2