
"Ai, mau kemana?" Melodi berusaha mengejar Airin. "Tidak ada siapa-siapa. Ini hutan, jauh dari rumah penduduk," kata Melodi yang berhasil menahan tangan Airin.
Seketika Airin tersadar bahwa yang dilihatnya itu bukanlah manusia. Tapi saat dia membalikkan badannya tanpa sengaja dia menginjak sebuah boneka yang dipegang oleh anak perempuan tadi.
"Boneka?" Boneka itu sangat kotor dan lusuh. Tangannya seolah tergerak untuk menyentuhnya.
Toloongg!!!
Suara teriakan dan jeritan terdengar sangat memilukan di telinga Airin. Seketika Airin menjatuhkan boneka itu, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas.
"Ai, kamu gak papa kan?" Melodi menahan tubuh Airin.
"Airin, kenapa?" Revan berlari ke arah Airin dan menahan tubuh Airin.
"Badan aku lemas banget," jawab Airin sambil berpegangan lengan Revan.
"Ayo kita kembali ke tenda." Revan memapah Airin untuk kembali ke tenda. Tapi tiba-tiba Airin melepas tangan Revan. Dia berlari ke arah pepohonan yang rimbun dan mengarah ke tengah hutan.
"Airin!!" panggil Revan sambil berlari mengikutinya.
"Mel, Airin kenapa?" tanya Azka yang baru saja menghampiri Melodi.
Melodi yang akan mengejar Airin pun menghetikan langkahnya. "Sepertinya Airin dalam pengaruh makhluk halus."
"Airin!" Azka juga berlari mengikuti Airin begitu juga dengan Melodi. Mereka berempat kini masuk ke dalam hutan. Azka terus menandai jalannya dengan patahan ranting agar mereka tidak tersesat.
"Airin!" Revan akhirnya berhasil menahan tangan Airin. "Ai, kamu sadar! Ayo kita kembali ke tenda."
Airin masih saja menatap kosong pohon-pohon yang tinggi itu.
"Airin sadar!" Revan memegang kedua pundak Airin dan menggoyangkan tubuhnya agar Airin tidak lagi terpengaruh makhluk tak kasat mata itu.
Seketika Airin tersadar. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hutan belantara itu. Makhluk-makhluk tak kasat mata itu begitu banyak mengintainya.
__ADS_1
Ada tiga anak kecil yang tadi memanggilnya. Beberapa bapak-bapak dengan wajah yang rusak dan berlumur darah. Ibu hamil yang sedang menangis sambil memegang perutnya, kakinya patah dan telah membusuk. Seorang nenek tua dengan kepala miring dengan mata yang hampir keluar, dan masih banyak lagi yang membuat Airin bergidik ngeri dan sangat ketakutan.
"Nggak!!" Napas Airin terasa sesak, ingin dia berlari dan lepas dari pemandangan menakutkan itu tapi kakinya terasa berat. Dia hanya bisa menutup kedua matanya dan duduk di tanah.
"Ai, kamu tenang. Ada aku." Revan ikut berjongkok lalu meraih tubuh Airin yang bergetar itu ke dalam pelukannya.
"Airin, kamu harus kuat. Ayo kita kembali ke tenda. Ada kita yang menemani kamu." Melodi ikut berjongkok dan memegang bahu Airin.
"Aku takut. Mereka banyak banget di sini. Aku takut." kata Airin dengan suara yang bergetar. Dia sembunyikan wajahnya di dada Revan.
"Kamu jalan sambil tutup mata kamu, biar aku pegang. Kita kembali ke perkemahan sekarang sebelum hari semakin sore." Revan membantu Airin berdiri. Dia merengkuh bahu Airin dan mengajaknya berjalan.
"Jalannya sudah aku tandai dengan ranting," kata Azka yang berjalan di depan Revan dan Airin. Baru sepuluh langkah. Dia kini terhenti. "Kenapa rantingnya bisa hilang?"
"Azka, jangan bercanda. Tadi aku lihat sendiri kamu patahin ranting untuk kasih tanda." Melodi ikut mencari ranting di sekitar tempat itu tapi benar-benar tidak ada.
"Kita coba lewat sana saja." Azka mengambil keputusan sendiri. Mereka berjalan menyusuri tanah yang berumput itu tapi sepertinya mereka semakin masuk ke dalam hutan.
"Azka, lo yang bener aja. Lo lihat pohonnya makin besar-besar itu tandanya kita makin masuk ke dalam hutan!" kata Revan yang masih terus mendekap tubuh Airin.
"Kalian jangan bertengkar gini. Ayo kita cari jalan sama-sama. Jangan sampai berpisah." Melodi menarik Azka mundur agar Revan yang mencari jalan. Tapi semakin mereka berjalan, mereka hanya berputar-putar di tempat itu saja.
"Mana jalan keluarnya?" Azka kini bersandar di salah satu pohon besar karena dia sudah merasa capek berjalan tanpa tujuan. Dia kini mengambil ponselnya tapi sama sekali tidak ada jaringan.
Revan menghela napas panjang lalu mengajak Airin duduk untuk beristirahat. "Duduk dulu kita istirahat."
Airin melepas pelukannya pada Revan. Dia kini membuka matanya. "Maaf ya, ini semua salah aku." Airin merasa bersalah telah membawa mereka semua masuk ke dalam hutan dan tersesat. "Ini memang salah aku..."
"Ai, jangan nyalahin diri kamu sendiri. Ini juga bukan mau kamu. Kita istirahat sebentar lalu kita cari jalan keluar. Kita pasti bisa keluar dari hutan ini." Revan juga mengambil ponselnya. Dia mencari layanan SOS yang langsung terhubung pada satelit meskipun tidak ada jaringan. "Ayo, kenapa gak terhubung?" Revan menunggu proses itu dengan tidak sabaran.
Revan berdiri dan mengangkat ponselnya tinggi. Akhirnya pesan SOS berhasil terhubung. Saat akan menjawab pertanyaan emergency tiba-tiba ponselnya mati. Dia tekan tombol power dan dia pukul-pukul ponselnya tapi tetap tidak bisa hidup.
"Sial! Baterainya masih banyak kenapa mati!"
__ADS_1
Airin mendengar sesuatu yang naik ke atas pohon, matanya melebar saat melihat dahan pohon tiba-tiba patah. "Revan awas!" Airin segera menarik Revan hingga mereka berdua jatuh ke tanah.
Dahan yang lumayan besar itu pun jatuh ke tanah dengan keras.
"Ai, kamu gak papa?" Revan duduk dan membantu Airin bangun karena dia menindih tangan Airin.
"Gak papa. Kamu gak papa kan?" tanya Airin sambil mengibaskan lengannya yang kotor.
"Gak papa. Makasih ya." Revan membantu Airin berdiri lalu kembali duduk di dekat Azka dan Melodi. "HP kalian bisa dibuat panggilan SOS tanpa jaringan?"
"Ada tapi harus pakai jaringan juga."
"Apalagi punya gue hanya Hp butut."
"Ai, punya kamu sepertinya ada, kan tipenya sama. Aku lihat," kata Revan.
Airin mengambil ponsel yang ada di sakunya lalu diberikan pada Revan. Dia kini melihat Revan mengotak-atik ponselnya. Fitur panggilan darurat tanpa jaringan itu ada di ponselnya tapi saat Revan mengirim signal ke satelit tiba-tiba saja ponsel Airin mati.
"Kenapa mati!" Revan berdengus kesal. Lalu apa yang harus mereka lakukan? Apa mereka harus berjalan lagi menyusuri hutan tanpa arah dan tujuan?
Kalian tidak akan bisa keluar dari hutan ini!
Airin menutup telinganya lalu bersembunyi di bahu Revan.
Kalian akan menjadi bagian dari hutan ini!
"Ai, kenapa?" Revan merangkum kedua pipi Airin. Wajah Airin semakin terlihat pucat. "Ada aku, Azka, dan Melodi. Kita pasti bisa keluar dari sini. Jangan takut."
"Mereka akan menghalangi kita untuk keluar dari sini. Mereka yang telah menutup jalan kita untuk keluar." Mata Airin memerah. Bukan hanya rasa takut yang menyerangnya tapi juga rasa menyesal, mengapa dia membawa Revan, Azka, dan Melodi ikut masuk dalam hidupnya yang selalu berurusan dengan makhluk-makhluk itu.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya...