Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Ada Apa Airin?


__ADS_3

"Kalau gak ada, gak papa aku tunggu Ayah kamu saja." Revan kini duduk di sofa.


"Iya, gak ada. Kayaknya ada di sakunya Ayah." Airin ikut duduk di samping Revan. "Kamu lapar gak? Aku buatin makanan ya." tanya Airin karena hari juga sudah siang.


"Iya, tapi aku mau numpang ke toilet dulu," kata Revan.


"Di toilet bawah, kran airnya rusak. Gak papa kamu ke toilet yang ada di kamar aku aja."


Revan menggelengkan. "Gak enak kalau harus ke kamar kamu. Aku tahan aja gak papa."


"Aku tunggu di bawah. Gak papa naik aja. Kamar aku yang sebelah kanan, ada tulisannya Airin di pintunya."


Revan tak juga beranjak dari tempatnya, Airin kini masuk ke dalam dapur untuk membuatkan minuman dan makanan. Dia tahu, Revan pasti lapar. Sampai selesai, Revan masih saja dalam posisi yang sama.


"Beneran gak jadi ke toilet? Ya udah kamu minum dulu gih. Ini juga ada risol mayo."


"Iya, kira-kita Ayah kamu masih lama gak ya?" tanya Revan lagi karena dia sudah berusaha menahannya tapi sepertinya tidak bisa.


"Ya gak tahu. Udah gak papa, ke toilet aja sebentar kalau udah gak bisa tahan."


Revan akhirnya berdiri dan berjalan menuju kamar Airin. Dia menaiki anak tangga dengan cepat lalu masuk ke dalam kamar Airin.


Airin menundukkan pandangannya sambil memakan risol mayo, tiba-tiba dia melihat sekelebat bayangan yang melewatinya lalu naik ke atas tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


"Apa itu?" Airin segera berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Dia sangat terkejut saat berpapasan dengan Revan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kenapa?" tanya Revan sambil menatap Airin.


"Tadi kayak ada yang masuk ke sini." kata Airin. Dia melihat sekeliling kamarnya tapi tidak ada sosok yang dia cari bahkan dia juga mencarinya ke kamar mandi, tapi tidak ada apa-apa.


"Ya udah, aku keluar dulu." Revan melangkahkan kakinya menuju pintu, tapi tiba-tiba pintu itu tertutup dengan keras. Revan berusaha membuka pintu itu tapi tidak bisa. "Kenapa pintunya gak bisa dibuka?"


"Masak sih?" Airin segera mendekat. Dia juga mencoba membuka pintu kamarnya tapi tidak bisa. "Pintunya gak rusak kok, tapi kenapa gak bisa terbuka?" Airin berusaha memutar kunci yang ada di dalam tapi tetap tidak bisa. Airin akhirnya menyerah. "Tau ah capek. Kamu coba sampai bisa gih. Nanti kalau Ayah pulang bisa marah tahu kita berduaan di kamar."

__ADS_1


"Iya, tapi ini benar-benar gak bisa." Revan masih berdiri di belakang pintu dan terus mencoba membuka pintu itu dengan sekuat tenaganya, dia takut kalau orang tua Airin salah paham dengannya.


"Duh, masak tiba-tiba rusak pintunya." Airin kini duduk di dekat meja riasnya. Tanpa sengaja dia melihat sebuah cermin tangan vintage yang berwarna gold berada di atas mejanya. "Ini cermin siapa?" gumam Airin. Dia mengambilnya lalu melihat dirinya di cermin. Seketika senyum merekah mengembang di bibirnya. "Aku cantik ya, Van."


Revan tak percaya dengan apa yang dia dengar. Selama ini Airin sama sekali tidak pernah memuji dirinya sendiri. Tapi sedetik kemudian dia tertawa, mungkin saja Airin hanya ingin bercanda.


"Iya, kamu cantik banget," kata Revan sambil duduk di samping Airin karena dia juga sudah capek berusaha membuka pintu itu.


"Tapi apa kamu cinta sama aku karena aku cantik?" tanya Airin.


Revan semakin tersenyum. Dia merasa ada yang berbeda dengan Airin. Ya mungkin ini sisi lain dari kekaleman Airin. "Ya nggak dong. Aku cinta kamu apa adanya, bukan ada apanya." Kemudian Revan berdiri untuk mengecek pintu yang terkunci itu tapi tangannya ditahan oleh Airin.


"Ai, sebentar aku mau cek pintu dulu sebelum Ayah kamu pulang."


"Kalau Ayah aku pulang, nanti tinggal aku bilang saja kalau pintunya terkunci dari luar."


Entah kenapa aura yang dipancarkan Airin sangat berbeda. Dia sangat menggoda dan terlihat sexy.


"Panas ya, sebentar aku mau ganti baju dulu." Airin berdiri dan mengambil pakaian di lemarinya lalu beralih ke kamar mandi.


Revan kini berjalan mendekati pintu dan berusaha membuka pintu itu lagi. "Kenapa gak bisa." Bahkan kuncinya saja berada di dalam. Dia memutar kunci itu ke kanan lalu ke kiri tapi tetap pintu itu tertutup rapat.


Revan menghela napas panjang, kalau Ayah Airin sampai tahu tamat sudah riwayatnya sebagai calon menantu Alvin.


"Masih gak bisa?" tanya Airin yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia menghampiri Revan yang sekarang sedang terpaku menatapnya.


Ya, bagaimana Revan tidak terpaku saat melihat Airin keluar dari kamar mandi dengan memakai dress singlet pendek saja. Jiwa laki-lakinya benar-benar diuji saat melihat lekuk tubuh sexy itu.


"Iya ini gak bisa." Revan mengalihkan pandangannya lalu mencari alat untuk membuka paksa pintu itu di meja belajar Airin.


"Cari apa?" Airin mendekati Revan di belakangnya.


"Cari sesuatu buat buka pintu. Kamu punya gunting atau cutter?" Revan membalikkan badannya. Jantungnya berdetak dengan kencang saat dadanya bersentuhan dengan Airin.

__ADS_1


"Ada sih, tapi gak tahu dimana." Airin menggeser dirinya yang membuat tubuh Revan kian menegang.


Revan menghela napas panjang. Dia kini juga melepas jaketnya karena merasa panas lalu duduk di tepi ranjang.


Airin mencari barang yang diinginkan Revan itu. Dia membungkuk mencarinya di dalam kardus yang berada di bawah meja.


Revan benar-benar tercekat melihat Airin. Rok pendek itu hanya beberapa centi di bawah pan tat Airin.


"Aduh, gak ada." Airin tiba-tiba duduk di pangkuan Revan yang berada di belakangnya.


"Ai, jangan pakai rok pendek gini ya." Revan mengambil jaketnya lalu menutupi pa ha mulus Airin.


"Iya, kadang aku memang pakai kayak gini kalau lagi gerah."


Revan terus menatap Airin. Bisikan setan itu benar-benar mempengaruhi otaknya. Dia dekatkan wajahnya dan mencium bibir Airin. Awalnya ciuman itu lembut tapi lama-lama semakin memanas dan liar.


Kali ini Airin benar-benar agresif. Dia memutar dirinya menghadap Revan dan mengalungkan tangannya di leher Revan.


Napas Revan semakin berat apalagi saat merasakan gerakan Airin di atas pangkuannya.


"Ai, jangan gini. Aku takut, aku gak bisa tahan." Revan menahan bahu Airin agar Airin sedikit menjauh.


Airin menyingkirkan tangan Revan dan meletakkannya di pinggangnya. "Kita nikmati saja secara alami."


Revan bagai terhipnotis tatapan Airin, dia kembali mendekatkan dirinya. Mencium bibir Airin dengan liar, perlahan Revan membalik posisi mereka dan merebahkan tubuh Airin di atas ranjang lalu mengungkungnya.


"Gak, ini salah." Tersadar Revan melepas pagutannya dia akan menjauhkan dirinya tapi Airin menahan tengkuk leher Revan hingga ciuman liar itu kembali berlabuh. Kini rok pendek Airin sudah lusuh dan tersingkap.


Ceklek!


💕💕💕


Waduh, kenapa si Airin? Duh, jangan mancing si Revan. 😏

__ADS_1


__ADS_2