
Beberapa bulan telah berlalu, Airin kini sudah memasuki kelas dua belas semester dua. Hanya tinggal beberapa bulan lagi mereka semua akan menghadapi ujian akhir untuk menentukan kelulusan mereka.
Hari itu, Airin dan Revan serta Ayahnya Airin menemani Azka melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Setelah gips kaki Azka dilepas satu bulan yang lalu, kakinya masih harus dibalut karena Azka masih kesulitan menggerakkan kakinya.
Di dalam ruang pemeriksaan, Azka ditemani oleh ibunya. Sedangkan diluar Airin sangat khawatir dengan keadaan Azka. Dia takut jika Azka tidak bisa kembali normal seperti semula.
"Van, apa yang harus aku lakukan kalau Azka tidak bisa kembali normal seperti semula?" tanya Airin pada Revan yang sedang duduk di sampingnya.
Revan hanya terdiam. Dia tahu, ini pasti tidak mudah bagi Azka dan pasti Airin juga semakin merasa bersalah. "Kamu support dia. Itu Ayah kamu masih berkonsultasi di dalam. Siapa tahu masih ada terapi-terapi yang bisa dilakukan agar Azka bisa kembali normal lagi."
"Tapi ini semua gara-gara aku. Sampai kapanpun rasa menyesal itu tidak akan bisa hilang."
"Iya, aku tahu." Revan menghela napas panjang. Kemudian tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka sampai Azka yang berjalan dengan bantuan Alvin keluar dari ruang pemeriksaan.
Wajah Azka terlihat sangat sedih. Dia memang sudah bisa berjalan secara perlahan tapi masih terpincang karena patah tulang yang di alami Azka sangat dekat dengan lututnya.
Airin berdiri dan menghampiri Azka. "Bagaimana hasilnya?"
"Masih ada beberapa terapi untuk Azka," jawab Alvin.
"Tidak perlu Om. Terima kasih. Om sudah banyak membantu sampai sejauh ini." Perlahan Azka melepas tangan Alvin lalu beralih pada lengan Ibunya. "Saya bisa pulang sendiri sama Ibu."
"Azka, kamu masih bisa berjalan normal. Ikuti jadwal terapi yang diberikan Dokter ya." kata Alvin. Dia pasti akan melakukan segala upaya untuk kesembuhan Azka.
Azka menggelengkan kepalanya. "Terima kasih, Om." Hanya itu yang bisa dia katakan. Kemudian dia kembali berjalan bersama ibunya.
"Ka," Airin mengikuti langkah Azka di sampingnya. "Ayo, aku temani kamu berjuang."
Azka menggelengkan kepalanya. "Gak perlu, Ai. Gak papa, yang penting aku masih bisa jalan." Azka terus memalingkan pandangannya dari Airin.
Akhirnya Airin menghentikan langkahnya. Mungkin saja saat ini Azka memang butuh waktu untuk sendiri.
"Ai, kamu bujuk Azka pelan-pelan saja. Ayah tahu ini tidak mudah bagi Azka menerima keadaannya."
Airin menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka bertiga berjalan keluar dari rumah sakit. Mereka masih melihat Azka dari kejauhan. Setelah dipastikan Azka masuk ke dalam mobil online, barulah mereka bisa pulang.
__ADS_1
"Van, kamu antar Airin pulang ya. Om ada janji dengan pelanggan." kata Alvin.
Revan menganggukkan kepalanya. "Iya, Om."
Setelah itu Alvin masuk ke dalam mobilnya dan beberapa saat kemudian mobil Alvin sudah melaju meninggalkan tempat parkir rumah sakit.
"Jangan sedih." kata Revan
"Gimana aku gak sedih. Azka seperti ini gara-gara aku."
Revan menggelengkan kepalanya sambil mengusap pipi Airin. "Ai, berapa kali aku bilang, jangan menyalahkan diri kamu sendiri." Setelah memakai helmnya, Revan memakaikan helm untuk Airin. "Untung aku bawa satu helm buat kamu. Biar kalau antar kamu pulang langsung gas."
Kemudian Revan menaiki motornya. Setelah Airin duduk di belakangnya, Revan mulai melajukan motornya.
...***...
Sore itu, Azka sengaja ke ruang latihan basket sekolahnya seorang diri. Dia berusaha mendrible bola sambil berlari, tapi tetap saja tidak bisa, berulang kali dia terjatuh karena satu kakinya masih sangat sulit untuk digerakkan. Akhirnya dia hanya melempar bola itu asal hingga terpental jauh. Dia buang napas kasar dan duduk di tengah lapangan.
"Semua sudah berakhir!" teriak Azka dengan napas yang tidak beraturan.
Azka menoleh Revan sesaat lalu kembali membuang pandangannya.
"Masih banyak yang bisa lo lakuin." Revan kini duduk di sebelah Azka. Sore itu dia memang sengaja ke rumah Azka, tapi yang dia dapati justru ibunya Azka yang sedang panik mencari Azka. Tepat sekali dugaannya, Azka berada di tempat latihan basket sekolahnya.
Seketika Azka menatap tajam Revan. "Lo bisa bilang kayak gitu karena lo gak pernah ngerasain hidup jadi gue."
"Setiap orang memiliki masalah hidupnya masing-masing."
Azka kembali membuang pandangannya sambil berdecak. "Kalau dibilang gue iri, iya gue iri sama lo. Lo udah berhasil menang OSN dan sudah terdaftar kampus diluar negeri. Lo sudah punya segalanya. Lo gak bisa samakan masalah yang lo alami dengan masalah yang gue alami."
"Lo masih bisa kuliah. Lo pasti lolos masuk tes di kampus negeri dan mendapatkan beasiswa. Lo bisa masuk sains atau teknik."
Azka hanya membuang napas kasar. Bagaimanapun juga impiannya adalah menjadi atlet basket terkenal.
"Dan lo masih bisa mengikuti terapi agar lo bisa bermain basket lagi. Kalau lo paksain seperti ini, nanti kaki lo makin parah."
__ADS_1
Sepertinya apa yang dikatakan Revan tidak mempan mencairkan kerasnya hati Azka.
"Kalau lo kayak gini terus sama saja lo udah menyesal menolong Airin. Lo mau menghukum dia dengan rasa bersalah seumur hidupnya!"
Azka tersenyum masam. "Gue gak pernah menyesal menolong Airin. Bahkan meski nyawa gue menjadi taruhannya, gue rela. Meskipun gue tahu Airin juga gak mungkin bisa gue miliki." Azka berdiri dengan susah payah lalu melangkahkan kakinya terpincang meninggalkan Revan.
Revan menatap Azka yang berjalan perlahan itu. Dia tahu rasa cinta Azka sangat besar untuk Airin. Dia juga sadar, dia masih punya segalanya jauh dibandingkan dengan Azka.
Revan berdiri dan menahan tangan Azka. "Gue akan serahin Airin sama lo. Lo boleh miliki Airin. Jika memang itu yang bisa membuat hidup lo semangat lagi."
Azka menepis tangan Revan. "Gue gak butuh omong kosong itu. Gue masih bisa hidup tanpa Airin."
"Tapi hidup lo terasa mati! Gue emang cinta sama Airin, tapi gue gak bisa menutup mata gue melihat keadaan lo kayak gini. Gue akan putusin Airin."
Seketika Azka membalikkan tubuhnya dan menatap Revan. "Shits lo! Lo gak mikir gimana perasaan Airin kalau lo putusin!"
"Sebenarnya gue udah mikirin ini dari jauh-jauh hari. Gue akan kuliah di luar negeri. Tidak hanya sehari atau satu bulan gue ninggalin Airin, tapi paling tidak sampai empat tahun. Gue ingin bebasin Airin, gue gak mau dia merasa terikat dengan hubungan gue karena gue gak akan bisa selalu ada untuknya. Gue serahin Airin sama lo, karena hanya lo yang gue percaya untuk jagain Airin."
"Gue masih bisa jagain Airin tanpa harus lo putusin dia. Airin itu cinta banget sama lo."
Revan menggelengkan kepalanya. "Justru karena itu, gue akan beri kesempatan Airin untuk memantapkan hatinya dan satu lagi, gue gak mau Airin terus-terusan merasa bersalah sama lo."
"Revan, apa kamu bilang?"
Seketika Azka dan Revan menoleh sumber suara itu...
💕💕💕
.
Boleh julid sama author tapi jangan tinggalin lapak ini ya... 🙄😌
.
Sabar ini ujian...
__ADS_1