
"Revan, apa kamu bilang?"
Seketika Azka dan Revan menoleh sumber suara itu.
"Airin! Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Revan.
Airin mendekati Revan dan menatapnya nanar. "Jangan mengalihkan pertanyaan. Apa maksud kamu?" Sebenarnya Airin datang ke tempat itu karena Ibunya Azka menanyakan keberadaan Azka lewat panggilan telepon dan tempat itulah satu-satunya yang pasti didatangi Azka.
Revan hanya terdiam sambil menatap Airin. Entah sekarang atau nanti dia harus mengatakan itu pada Airin. Semua itu sudah dia pikirkan selama berbulan-bulan.
Azka tidak mau mencampuri urusan mereka. Dia kini berjalan keluar dari ruang latihan itu.
"Van?" Airin semakin menatap Revan karena Revan tak juga menjawab perkataannya.
"Iya, aku ingin kita putus dulu."
"Cara menyelesaikan masalah gak harus dengan putus."
Revan menghela napas panjang. Dia sebenarnya juga tidak sanggup mengatakan keputusannya pada Airin. "Aku sudah memikirkan ini matang-matang, Ai. Aku akan melepasmu saat aku pergi. Kamu bilang kita memang masih bisa LDR tapi aku gak mau hal itu membebani kamu. Kamu bisa bebas menjalani hidup kamu, tanpa harus memikirkan aku sedang apa di sana atau sebaliknya. Kamu juga bisa fokus membantu Azka pulih. Dia sangat mencintai kamu, Ai. Beri kesempatan pada dia."
Airin semakin menatap nanar Revan. Air matanya sudah terbendung. "Apa kamu sudah tidak cinta sama aku?"
Revan menggelengkan kepalanya. "Justru karena aku sangat mencintai kamu. Aku gak mau membatasi kamu. Suatu saat nanti, jika kita memang jodoh kita pasti akan bersama lagi."
Air mata itu akhirnya menetes di pipi Airin. "Tapi aku gak mau putus sama kamu."
Seketika Revan memeluk Airin dan mengusap punggungnya. "Iya, sebenarnya aku juga berat memutuskan ini. Yakinlah, bahwa ini yang terbaik buat kita. Saat ini kita bisa mengakhiri hubungan ini secara baik-baik tanpa adanya salah paham. Jika kita tetap memaksakan diri untuk menjalin hubungan jarak jauh, justru aku takut nanti terjadi pertengkaran di antara kita yang membuat kita saling benci."
Airin semakin menenggelamkan wajahnya di dada Revan saat Revan mengusap rambutnya.
__ADS_1
"Nanti ketika aku sudah selesai kuliah dan kembali ke sini, aku akan menemui kamu. Jika memang hati kita masing-masing tidak ada yang memiliki dan rasa cinta itu masih ada, kita masih bisa bersama lagi."
Tidak ada sahutan dari Airin. Hanya isak tangis yang sesekali terdengar.
"Kamu ngerti kan, Ai?"
Airin merenggangkan pelukannya dan menatap Revan. "Iya, aku ngerti. Tapi aku gak bisa mencintai Azka. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai sahabat."
Revan tersenyum kecil lalu menghapus air mata Airin. Kemudian dia rangkum kedua pipi Airin. "Aku tidak menyuruhmu untuk mencintainya tapi aku juga tidak melarangmu. Kamu harus tahu, sejatinya cinta itu tidak egois. Kita masih bisa mencintai tanpa harus memiliki."
Airin mengangguk pelan. "Tapi apa aku boleh minta satu hal sama kamu."
"Apa?"
"Nanti sebelum kamu berangkat, aku ingin kita pacaran. Sehari saja."
"Aku juga..."
Mereka berdua menikmati momen yang singkat itu.
...***...
Sejak hari itu, hubungan Revan dan Airin kian menjauh. Mereka juga telah mengurangi komunikasi mereka. Sedangkan Azka akhirnya mau mengikuti terapi untuk memulihkan kakinya. Airin selalu menemaninya saat Azka melakukan terapi. Sedikit demi sedikit rasa bersalah itu menghilang dari diri Airin saat melihat Azka kembali bersemangat lagi menjalani harinya. Meskipun hasil terapi itu tidak signifikan tapi setidaknya ada sedikit perubahan yang terjadi.
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Meskipun terkadang Airin masih melihat beberapa penampakan tapi dia tidak lagi terlibat marabahaya dengan hantu-hantu itu. Ya, semoga saja selalu seperti itu.
Mereka semua kini disibukkan dengan persiapan ujian kelulusan. Airin lebih giat belajar karena dia ingin bisa lulus tes masuk ke perguruan tinggi negeri. Jika tidak lolos, sudah dipastikan dia akan masuk jurusan boga seperti kakaknya.
"Ai, kalau belajar ingat makan dan istirahat. Jangan sampai tumbang nanti pas ujian." kata Rili saat sarapan pagi hari itu, karena dia menyadari ada lingkaran hitam di mata Airin.
__ADS_1
"Iya, Bun."
"Saking takutnya masuk boga sampai belajar terus." cibir Ayla. "Padahal enak masuk boga tiap hari bisa bikin konten dan makan, dibayar lagi."
"Aku mau nerusin usaha Bunda. Mau mengelola keuangan toko pakaian Bunda."
"Ih, bilang aja mengalihkan hati yang galau karena diputusin Revan dan akan ditinggal keluar negeri."
"Ih, kakak." Seketika Airin memanyunkan bibirnya. Hatinya sudah galau jadi semakin galau jika diingatkan tentang hal itu.
"Ayla, sudah jangan goda adiknya terus. Justru bagus kalau Airin fokus dengan sekolahnya. Soal cinta itu nomor sekian. Dalam sebuah hubungan itu memang harus ada sebuah pengorbanan." kata Alvin. "Ayah dan Bunda dulu juga LDR, banyak kesalahpahaman yang terjadi. Memang lebih baik putus secara baik-baik daripada nanti bertengkar karena kesalahpahaman. Kalau jodoh pasti kalian akan bersama lagi."
Airin mengangguk pelan. Ya, dia sangat berharap suatu saat nanti dia dan Revan akan bersama lagi.
💕💕💕
.
Time nya aku skip skip ya ges ya... ðŸ¤ðŸ¤ Mungkin akan tamat bulan depan... Masih ada dua puncak konflik ya. ðŸ¤
.
Ada yang masih setia gak nih? Dukung terus yuk, nanti akan ada give away kecil2an di akhir cerita ya untuk tiga gift teratas seperti biasa.
😌😌
.
Komen dong, butuh amunisi nih. Marahin authornya juga gak papa.
__ADS_1