
"Van, jika Putri bisa sadar hari ini. Turuti permintaannya untuk jadi pacar kamu dalam sehari," pinta Airin yang membuat langkah Revan seketika berhenti.
"Tapi, Ai..."
"Cinta kita tidak boleh egois. Bagaimana kalau ini permintaan terakhirnya?"
Revan menghela napas panjang lalu mengusap puncak kepala Airin. "Iya, aku ngerti." Kemudian mereka kembali melanjutkan langkah kaki mereka.
Setelah sampai di depan rumah Rima mereka segera berpamitan lalu naik ke atas motor. Beberapa saat kemudian motor Revan melaju mengikuti motor Ayahnya Putri.
Airin memeluk Revan dari belakang. Sesekali Revan mengusap tangan Airin yang ada diperutnya. Mereka sama-sama belajar tentang cinta yang tidak saling egois. Seperti yang dilakukan Revan saat melihat Airin dekat dengan Azka begitu juga sebaliknya.
Beberapa saat kemudian Revan menghentikan motornya di tempat parkir rumah sakit. Mereka berdua segera berjalan mengikuti Ayah Putri menuju ruang rawat Putri.
Mereka hanya berdiri mematung saat melihat ibunya Putri yang sedang menangis tergugu di samping tubuh Putri yang lemas tak berdaya karena Dokter sudah pasrah dengan keadaan Putri.
"Putri, bangun nak. Baru beberapa hari kamu jadi murid SMA, impian kamu masuk di sekolah itu sudah terwujud." Ibu Putri menghapus air matanya lalu menatap Airin dan Revan. "Kalian siapa?"
"Kami teman sekolah Putri. Boleh kami bicara dengan Putri." kata Airin.
"Putri masih tidak sadarkan diri.
"Bu, kemarin Putri menemui kita."
"Maksudnya? Setelah Putri pingsan di sekolah sampai sekarang dia belum sadarkan diri. Jantungnya sudah tidak bisa berdetak dengan sempurna."
"Iya, tapi dia minta sesuatu pada kita."
Akhirnya ibunya Putri memberi ruang pada mereka berdua.
"Put, cepat sadar. Kita akan memenuhi permintaan kamu." Airin menggenggam tangan Putri. Bayangan flashback berputar di kepalanya.
Terlihat Putri tersenyum menatap Revan saat Revan sedang berada di kelasnya ketika MPLS waktu itu. Bahkan Putri sempat berkenalan dengan Revan bersama teman-temannya.
"Andai saja aku diberi kesempatan, aku ingin memiliki pacar seperti Kak Revan."
Hari itu Putri memberanikan diri untuk memberi kado dan surat pada Revan karena dia merasa tubuhnya semakin lemah. Dia tidak akan menyiakan waktunya lagi. Karena malu, setelah memberikan kado itu dia bersembunyi sambil melihat Revan yang sedang bersama Airin. Bahkan Putri juga melihat saat Revan dan Airin berciuman di belakang kelas.
Putri kembali ke kelasnya sambil memegang dadanya yang terasa sakit kemudian dia pingsan.
Seketika Airin melepaskan tangannya. Dia menutup bibirnya dengan air mata yang mengalir di matanya. Setahu dia seseorang yang menderita penyakit jantung tidak boleh mengalami guncangan perasaan.
__ADS_1
"Ai, kenapa?"
"Putri..." Airin menghapus air matanya. "Aku pulang duluan ya. Kamu temani dia di sini, biar dia cepat sadar."
"Tapi Ai,"
Airin menggelengkan kepalanya. "Gak papa. Bantu dia." Kemudian Airin keluar dari ruangan Putri bersama kedua orang tua Putri.
Revan hanya diam dan duduk di samping brangkar Putri. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Dia hela napas berulang kali. Akhirnya dia memegang tangan Putri. "Put, cepat bangun. Aku akan memenuhi permintaan kamu itu."
Beberapa saat kemudian kedua mata Putri terbuka. "Kak Revan."
"Akhirnya kamu sadar. Aku akan memenuhi permintaan kamu kemarin."
Putri hanya menatap Revan. "Kemarin? Sepertinya aku bermimpi menemui Kak Revan dan Kak Airin."
"Itu bukan mimpi. Ya, memang diluar nalar, tapi itu bukan raga kamu yang menemui kita."
Putri menundukkan pandangannya. "Waktu aku memang tinggal sedikit lagi."
"Mengapa kamu bilang seperti itu? Kamu harus yakin, kamu harus sembuh."
Revan menganggukkan kepalanya.
"Aku ingin jalan-jalan sekarang."
"Kamu yakin sekarang? Kamu istirahat dulu, biar kondisi kamu membaik dulu."
Putri menggelengkan kepalanya. "Semakin hari kondisi aku semakin memburuk. Aku sudah berhasil lulus dengan nilai terbaik dan masuk di SMA favorit meski aku gak bisa melanjutkannya, setidaknya kedua orang tua aku sudah bangga. Aku gak mau lagi melihat mereka sedih, aku ingin segera pergi dari dunia ini jika aku memang tidak bisa sembuh."
"Ya sudah. Kamu mau nonton bioskop? Kita nonton ya. Tunggu beberapa saat dulu, aku akan menyiapkan semuanya buat kamu."
Kemudian Revan keluar dari ruangan Putri dan berbicara dengan kedua orang tua Putri.
Kedua orang tua Putri setuju dan mereka juga ingin memenuhi permintaan Putri.
Ibunya Putri kini masuk ke dalam ruangan dan membantu Putri membersihkan dirinya. Berganti pakaian lalu bersolek tipis agar tidak terlihat pucat.
Revan sengaja menyuruh anak buah Papanya untuk mengantar mobilnya ke rumah sakit. Dia juga sudah memesan dua tiket bioskop premium.
__ADS_1
Kemudian kedua orang tua Putri mengantar Putri sampai tempat parkir.
Revan beberapa kali mengirim pesan pada Airin apa saja yang akan dilakukannya dengan Putri. Oke, sekali ini saja, demi kemanusiaan.
"Hati-hati ya." kata kedua orang tua Putri.
Putri masuk ke dalam mobil Revan. Setelah Revan duduk di kursi pengemudi. Dia melihat chat dari Airin.
Van, kamu lakukan seperti apa yang kamu lakukan saat bersama aku. Kecuali kiss.
Revan tersenyum kecil saat melihat emoticon lidah dari Airin. Bersama Airin dia mempelajari banyak hal. Bukan hanya tentang ketulusan cinta, tapi juga tentang keikhlasan.
Revan meletakkan ponselnya lalu menjalankan mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit.
Revan meraih tangan Putri dan menggenggamnya. "Hari ini saja, anggap aku pacar kamu."
Putri hanya tersenyum kecil.
"Jam dari kamu juga aku pakai." Meski awalnya Revan merasa takut dengan jam tangan itu karena jam itu terus mengikutinya tapi akhirnya dia memakainya.
"Makasih ya, udah kamu pakai."
Beberapa saat kemudian mereka sampai di mall yang luas dan mewah. Mereka berdua berjalan menuju bioskop premium yang berada di lantai empat.
Tangan Revan masih menggandeng tangan Putri dengan mesra selama film diputar. Mereka sudah seperti sepasang kekasih. Setelah selesai menonton film, Revan mengajak Putri berjalan-jalan di taman sambil memakan es krim. Menikmat udara sore hari itu yang sejuk.
Setelah hari sudah gelap, Revan mengajaknya dinner di sebuah restoran.
Maaf ya Airin, aku belum pernah dinner sama kamu, gumam Revan dalam hatinya.
Kemudian dia menatap Putri yang tersenyum manis.
"Makasih ya. Hari ini aku bahagia sekali. Kak Revan dan Kak Airin sangat baik."
"Iya, sama-sama." Revan terus menatap senyuman itu tapi tiba-tiba senyuman itu berubah menjadi senyuman menyeringai.
"Tapi aku ingin Kak Revan bersama aku selamanya."
Tawa Putri sangat menakutkan. Seketika Revan berdiri. Restoran yang dipenuhi lampu itu menjadi gelap. "Gak mungkin! Aku hanya ingin memenuhi permintaan kamu yang terakhir."
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...