
"Van, aku di kafe nih. Kamu bisa ke sini gak? Kebetulan ada acara ulang tahunnya anak pejabat dan ada penyanyi terkenal juga," kata Airin lewat panggilan whatsappnya.
"Sorry, aku lagi keluar sama Papa. Nanti kalau waktunya keburu aku langsung ke kafe ya."
"Iya gak papa, kalau jadi langsung ke sini saja."
Ayla sedari tadi menggembungkan pipinya karena Airin malah memanggil pacarnya untuk menemaninya. "Ih, panggil Azka juga dong biar nemenin aku."
"Kok Azka? Lagian Revan belum tentu datang. Dia lagi keluar sama Papanya."
Kedua anak pemilik kafe itu kini melihat penyanyi di depan sendiri. Meskipun bukan tamu undangan VIP tapi mereka lebih berkuasa.
Tanpa sengaja, Airin melihat seseorang yang sangat mirip dengan Fani. Bukan mirip lagi, tapi dia memang Fani. Airin akan mendekatinya tapi tertahan karena ada seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping Fani.
Airin segera menghubungi Azka dan bilang jika Fani ada di kafenya. Dia terus mengamati Fani agar dia tidak kehilangan jejak. Beberapa saat kemudian, terlihat pria yang ada di sampingnya itu memaksa Fani keluar dari kafe. Airin segera mengikutinya. Untunglah dia berpapasan dengan Azka.
"Azka, Fani dibawa mobil itu." tunjuk Fani pada mobil yang baru saja keluar dari tempat parkir.
Azka segera menaiki motornya.
"Aku ikut ya," pinta Airin.
"Ayo!"
Kemudian Airin naik ke boncengan Azka.
Setelah itu Azka segera melajukan motornya mengikuti mobil yang berwarna merah itu. Airin sempat mengirim pesan pada Revan tapi centang satu, akhirnya dia hanya mengirimkan sharelok terkini agar Revan tahu keberadaannya.
Kini Azka berada tepat di belakang mobil itu. Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di sebuah klub malam.
"Ini tempat Fani bekerja," kata Azka.
"Tapi Fani kan kuliah."
"Ya, aku juga gak tahu. Sebenarnya aku tadi juga mau ke sini untuk mencari Fani, aku baru saja dapat alamat bekerjanya Fani."
Azka memarkir motornya di tempat parkir kemudian mereka berdua masuk ke dalam klub itu. Untunglah mereka berdua membawa KTP hingga diperbolehkan untuk masuk setelah menunjukkan KTP mereka.
Airin yang baru pertama kali masuk ke dalam klub itu merasa silau. Dia menyipitkan matanya sambil melihat banyak pasangan yang sedang berjoget menikmati musik disko.
"Ai, kayaknya Fani di sana." Azka menunjuk salah satu tempat vip. Di sana ada beberapa pemuda termasuk Fani yang sedang dipeluk oleh seorang pria.
Airin menahan langkah Azka yang akan mendekat. "Ka, jangan langsung mendekat. Kita amati aja dulu."
__ADS_1
Mereka akhirnya hanya mengamati Fani dari kejauhan saja. Beberapa saat kemudian terlihat salah seorang dari mereka menarik paksa Fani.
Azka akhirnya menghampiri mereka. "Kak Fani?"
"Siapa kamu? Fani, dia adik kamu?" tanya Rega, teman kencan Fani malam itu.
Fani menggelengkan kepalanya sambil mengalihkan pandangannya dari Azka. Sepertinya Fani mengingat Azka.
"Kak, aku mau bicara sebentar." kata Azka menahan langkah Fani dan Rega lagi.
"Hei, bocah. Booking dulu kalau mau sama Fani. Aku udah booking duluan," kata Rega.
"Rega, lepasin dulu." Fani melepas tangan Rega yang terus memeluk pinggangnya. "Kamu mau bicara apa? Lebih baik kamu pulang saja, di sini gak ramah buat kamu."
"Tapi ada pesan dari Kak Arka," kata Azka lagi.
"Arka?" Seketika wajah Fani berubah. "Lebih baik kamu pulang saja." Kemudian Fani membalikkan badannya bersama Rega.
"Kak Fani, ada sesuatu yang Kak Arka titipkan. Dulu belum sempat dia berikan." Kini Airin mendekati Fani.
Fani menoleh Airin. "Loh, kamu kan yang ada di kampus tadi."
"Iya, kita gak mau mencampuri kehidupan Kak Fani. Kita hanya ingin memberikan titipan Kak Arka, karena ini pesan darinya."
"Hei, bocil sini gabung sama kita aja. Atau kalian mau enak-enak, kita bisa sewakan room buat kalian berdua." kata salah satu teman Rega.
Airin semakin mendekati Azka. Dia kini merasa takut berada di tempat itu. "Azka, ayo pulang saja."
"Guys, urus dua bocil ini biar mereka merasa enak juga."
"Beres!"
Rega kembali merengkuh Fani dan mengajaknya ke room.
"Rega, jangan lakukan apa-apa sama mereka. Mereka masih sekolah," kata Fani.
"Biar mereka merasakan enak sedikit saja, kayak kita." Kemudian Rega mencium bibir Fani agar tidak berbicara lagi.
Azka menarik tangan Airin untuk mengajaknya keluar dari klub itu. Tapi tangan Azka dicekal oleh seseorang lalu dia meneteskan cairan ke mulut Azka secara paksa.
Mereka semua kini tertawa dengan keras. "Mumpung masih lugu, nanti biar pro. Bos Rega kasih kalian room gratis."
"Apaan sih! Azka kamu gak papa kan?" tanya Airin.
__ADS_1
Mereka menghitung mundur mulai dari angka sepuluh. "Sepuluh, sembilan, delapan..."
"Azka." Airin menarik Azka yang tiba-tiba terdiam. "Kamu gak papa kan? Ayo kita keluar dari sini!"
"Lima, empat, tiga, dua, satu." Mereka bersorak saat Azka semakin merasa kepanasan. Azka mengusap tengkuk lehernya sendiri. Dia ingin berjalan keluar tapi langkahnya terasa sangat berat. Ada satu hasrat yang bereaksi dengan cepat.
"Masih muda, jelas cepat banget reaksinya."
"Ceweknya kasih juga."
"Jangan, kasihan nanti gak bisa menikmati secara alami."
Airin merasa ada yang tidak beres. Dia akan berlari keluar tapi dihalangi oleh mereka.
"Kamu gak boleh keluar! Nanti siapa pasangan dia kalau kamu keluar. Memang punya uang buat booking. Dikasih enak-enak secara gratis itu nurut. Nanti juga pasti ketagihan."
"Nggak!!" Airin berusaha menarik tubuh Azka. "Azka sadar! Ayo, kita keluar dari sini!"
"Iya." Genggaman tangan Airin terasa lain di tangannya. Dia benar-benar berhasrat dan tak bisa menahannya lagi. Sekuat tenaga Azka menepis gejolak itu tapi Azka justru menarik Airin dan menciumnya paksa. Dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Woy, woy, jangan di sini. Di room aja."
"Azka lepasin!" Airin berusaha mendorong Aksa tapi sangat berat. Teman-teman Rega justru menggiring mereka berdua ke sebuah room.
"Aku mau keluar!!" Airin berusaha memberontak tapi Azka justru menahan tangannya dan membawanya masuk ke dalam room. "Azka, sadar!" Airin memukul dada Azka berulang kali.
Azka menatap tajam kedua mata Airin. Kemudian dia mengacak rambutnya. Dirinya benar-benar dipenuhi dengan gairah.
"Azka, ayo kita keluar dari sini!" Airin akan membuka pintu itu tapi Azka menahannya. Dia kembali menghimpit tubuh Airin dan mencumbuinya.
Airin semakin ketakutan dan menangis. "Azka hentikan! Azka!" Sekuat apapun Airin memberontak, tenaganya kalah dengan Azka.
Ponsel Airin kini berbunyi. Dia berusaha mengambilnya lalu mengangkat video call itu.
"Revan tolong aku!" teriak Airin.
Azka menepis ponsel itu hingga jatuh. "Airin, aku benar-benar gak bisa tahan diri aku. Maafkan aku..."
"Azka!!!"
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya..