Ada Dia Di Antara Kita

Ada Dia Di Antara Kita
Noni Belanda


__ADS_3

"Airin! Bangun sudah siang!"


Panggilan dan gedoran keras membangunkan Airin di pagi hari itu. Airin bergeliat dan membuka matanya.


"Astaga, udah siang!" Airin segera turun dari ranjang. "Iya Bun, sudah bangun." Buru-buru dia ke kamar mandi untuk membasuh dirinya.


Setelah selesai, Airin memakai seragamnya lalu menyisir rambutnya dan bersolek tipis. Dia memeriksa kembali buku pelajaran hari itu yang semalam sudah dia siapkan. Tak lupa memasukkan ponselnya juga ke dalam tas.


Setelah memakai sepatu, buru-buru Airin keluar dari kamar dan menuju ruang makan.


"Airin, tumben kesiangan?" tanya Alvin karena memang tidak biasanya Airin bangun kesiangan.


"Gak bisa tidur Ayah." jawab Airin sambil mengambil sarapannya.


"Habis telepon sama Revan semalam." celetuk Ayla. Tapi celetukan Ayla memang benar adanya.


"Iya?" tanya Alvin memastikan lagi.


Airin mengangguk pelan.


"Airin, meskipun Ayah tahu tragedi kemarin karena kamu berada dalam pengaruh makhluk halus, tapi tetap kamu harus jaga jarak aman dengan Revan."


Airin menganggukkan kepalanya dan mulai memakan sarapannya sedikit terburu karena sudah dikejar waktu.


"Ayah, jadi ya Ayla dibelikan motor?" tanya Ayla. Sudah lama dia menginginkan motor tapi tidak juga dibelikan oleh Ayahnya. "Aku udah dapat gaji pertama dari youtube, biar aku beli sendiri deh. Tambahin ya."


"Iya, asal kamu hati-hati dan tidak boleh keluyuran." Alvin akhirnya menyetujui permintaan Ayla. Meskipun dia mampu membelikan sepeda motor untuk kedua putrinya, tapi dia tidak memanjakan mereka. Dia biarkan putrinya usaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu.


"Yee, makasih Ayah. Akhirnya bisa berangkat dan pulang kuliah sendiri." Ayla kini melihat adiknya yang sudah menghabiskan sarapannya. "Adek kalau mau nanti aku beliin ya. Tapi bantu subscribe channel youtube aku. Ajak semua teman kamu untuk subscribe dan lihat video-video aku, kalau bisa buat pengumuman di seluruh grup sekolah kamu." kata Ayla.


Airin hanya memutar bola matanya. "Dih, males." kemudian Airin meminum air putih lalu dia berdiri karena Ayahnya juga sudah siap mengantarnya.


Airin berpamitan pada Bundanya lalu dia keluar bersama Ayahnya karena Ayla ada jam kuliah siang.


...***...


Airin berjalan di koridor kelas seorang diri, di ujung koridor dia melihat ada seorang wanita yang sangat cantik. "Dia siapa?" gumamnya sambil mengikuti wanita itu yang berjalan pelan menuju aula.


Aula sekolah baru saja selesai di renovasi. Airin penasaran karena penampilan wanita itu seperti seorang Noni Belanda. Dari belakang saja terlihat sangat cantik. Kulitnya sangat putih dan pucat.


"Dia siapa ya? Apa ada pertunjukan drama di aula." Airin masuk ke dalam aula yang pintunya terbuka itu. Gelap, tapi banyak suara di dalam tempat itu. Suara jeritan dan teriakan histeris memenuhi aula itu.

__ADS_1


Airin merasa takut, dia membalikkan badannya tapi langkahnya terasa berat. Seolah ada yang lengket di sepatunya. Dia juga mencium bau anyir. Dia kini melihat lantai di bawah sepatunya. Meski hanya sinar temaram tapi dia bisa melihat dengan jelas bahwa yang ada dilantai itu adalah darah.


"Darah!"


Darah itu semakin keluar dari lantai. Seketika perut Airin terasa mual saat melihat banyaknya darah dan bau anyir itu. Dia mengerahkan tenaganya untuk berlari dan keluar dari aula.


Sampainya di depan aula, dia melihat sepatunya. Sepatunya bersih, tidak ada bekas darah sedikitpun.


"Itu berarti yang di dalam aula hanya ilusi aku."


Airin menghela napas panjang, masih pagi dia sudah dikejutkan dengan fenomena aneh di dirinya. Kemudian dia kini berjalan menuju kelas.


"Ai, darimana?" tanya Revan yang baru saja datang.


Airin hanya menggelengkan kepalanya. "Kirain kamu gak masuk."


"Aku berangkat masih nanti sore." Revan menggandeng tangan Airin lalu berjalan masuk ke dalam kelas. "Gimana semalam, tidurnya nyenyak?" tanya Revan setengah berbisik.


Airin tersenyum malu. "Nyenyak banget sampai aku bangun kesiangan." Kemudian dia duduk di bangkunya.


Revan masih saja berdiri di dekatnya sambil membungkukkan badannya dan bertumpu di meja Airin. Dia terus menatap Airin sambil tersenyum.


"Apa? Udah sana duduk." Airin merasa malu dilihat Revan seperti itu. Apalagi setelah yang terjadi di antara mereka.


Airin mengangguk pelan.


"Malam minggu nanti lagi ya."


"Ih, Revan. Dibolehin sekali kenapa terus."


Revan justru mendekatkan dirinya dan berbisik di telinga Airin. "Nyandu." Kemudian dia duduk di bangkunya yang berada di belakang Airin.


Pipi Airin semakin bersemu merah. Dia mengingat video callnya semalam bersama Revan, bisa-bisanya dia tergoda dengan Revan padahal dia tidak di bawah pengaruh makhluk itu.


Aku tahu, aku dan Revan salah. Harusnya kita pacaran secara sehat. Tapi mengapa semakin hari gaya pacaran aku dan Revan semakin ke sana ya dan semakin parah sejak aku di bawah pengaruh arwah wanita malam itu.


Airin menghela napas panjang. Kemudian dia mengeluarkan buku pelajaran hari itu.


Beberapa saat kemudian bel masuk berbunyi dan mata pelajaran pertama pun dimulai.


Bu Sonya masuk ke dalam kelas itu. Kedua mata Airin membulat sempurna saat melihat ada dua tentara Belanda yang berjalan di belakang Bu Sonya.

__ADS_1


Ini pasti gak nyata kan? Mana mungkin ada tentara Belanda di sini. Penampilan mereka juga seperti zaman penjajahan dulu. Kayak yang ada di foto-foto lama yang pernah aku lihat di buku sejarah dan museum.


Airin tidak bisa berkosentrasi karena dua tentara itu berkeliling kelas sambil membawa senjata.


Beberapa saat kemudian kedua sosok itu menghilang. Dia kini menyimak penjelasan Bu Sonya di depan kelas.


Noni Belanda itu lagi!


Tiba-tiba Noni Belanda itu muncul di depan kelas dan berjalan perlahan mendekati Airin. "Kamu bisa melihat saya?"


Buku kuduk Airin seketika berdiri. Ingin dia berteriak tapi dia tahan.


"Kamu tahu Mas Aryo dimana? Saya mencarinya?"


Airin menggeleng kaku. Dia tidak berani menatap sosok cantik yang berada di dekatnya itu.


"Dia mirip sekali." Noni Belanda itu menatap Revan.


Seketika Airin menoleh Revan. Dia takut Revan berurusan dengan makhluk tak kasat mata dan akan membahayakannya.


"Kenapa?" tanya Revan yang menyadari tatapan ketakutan Airin.


Airin mengusap keringat di pelipisnya sambil menggelengkan kepalanya. Lalu dia kembali meluruskan pandangannya.


"Kamu mau tahu sejarah bangunan ini? Saya bisa membawa kamu melintasi masa. Kamu juga bisa merasakan hidup di zaman itu. Kalau kamu mau, kamu datang ke aula bersama pria di belakang kamu."


Kemudian Noni Belanda itu menghilang.


Airin menggeleng pelan.


Gak akan! Ini pasti hanya jebakan. Aku harus hati-hati, jangan sampai Revan masuk dalam perangkap Noni itu.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...


.


Hai, author dari kota Malang ya. 🤭 Sebenarnya ada salah satu sekolah SMA di kota Malang yang bangunannya merupakan peninggalan dari zaman Belanda.

__ADS_1


.


Tapi cerita yang ini hanya karangan author semata ya. Cuma menunjukkan saja bahwa memang ada sekolah yang bangunannya dari zaman Belanda dulu. 🤭


__ADS_2